Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Mengenal Pentingnya AUTP, Perlindungan untuk Petani RI

Mengenal Pentingnya AUTP, Perlindungan untuk Petani RI
Ilustrasi sawah pertanian (Dok. Kementan)
Intinya Sih
  • Petani Indonesia rentan terhadap risiko alam dan volatilitas harga pangan; AUTP dinilai penting karena memberi perlindungan finansial saat gagal panen.
  • Pemanfaatan AUTP perlu diperluas melalui edukasi penyuluh dan perguruan tinggi, sekaligus disesuaikan dengan karakter agroekosistem serta varietas padi tiap wilayah.
  • Jasindo memperkuat edukasi pola tanam adaptif dan pengelolaan risiko; AUTP melindungi petani kelompok tani berlahan maksimal dua hektare dari banjir, kekeringan, hama, dan penyakit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Di Indonesia, petani masuk dalam kelompok rentan. Hal itu disebabkan banyak faktor yang harus dihadapi, mulai dari risiko alam, volatilitas harga pangan, dan sebagainya.

Menurut Ekonom Senior Indef, Bustanul Arifin, petani memerlukan perlindungan, salah satunya melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Namun, Bustanul tidak memungkiri banyak petani yang belum paham tentang makna substansial dari AUTP.

Menurutnya, bagi petani, asuransi terutama AUTP adalah sesuatu yang belum menjadi kebiasaan atau budaya.

"Bayangkan, orangnya, jiwanya atau nyawanya sendiri saja tidak diasuransikan, agak sulit untuk berharap bahwa usaha taninya akan diasuransikan," kata Bustanul dikutip Sabtu, (1/8/2026).

1. Peran AUTP bagi petani

ilustrasi sawah yang memerlukan irigasi (dok. Kementan)
ilustrasi sawah yang memerlukan irigasi (dok. Kementan)

Sebagai seorang Guru Besar, Bustanul pernah bertemu langsung di lapangan dengan petani tentang apa itu AUTP, serta bagaimana implementasi AUTP yang saat ini dijalankan oleh BUMN PT Jasindo.

Menurut, Indonesia harusnya bisa mencontoh negara maju seperti Amerika Serikat (AS), karena petani di Negeri Paman Sam itu secara rasional membayar premi.

Dia mengatakan, AUTP memberikan manfaat yang bisa langsung dirasakan petani, seperti pertanggungan saat gagal panen.

"Jika pada musim kemarau, petani mengalami gagal panen, maka perusahaan asuransi yang menanggung kerugian petani. Ada beberapa syarat teknis memang, tapi petani pasti telah memasukkannya kepada perencanaan usaha tahun berjalan tahun depan," ucap Bustanul.

Dia pun mendorong pemanfaatan AUTP yang lebih masif. Hal itu menurutnya bisa diwujudkan dengan edukasi melalui penyuluh pertanian. Namun, penyuluh juga menurutnya perlu dibekali pengetahuan soal perlindungan itu, terutama dari perguruan tinggi.

"Libatkan universitas seluruh Indonesia, khususnya yang memiliki fakultas pertanian. Nanti akan terjadi interaksi yang semakin baik antara penyuluh dengan para dosen dan peneliti di lapangan," tutur Bustanul.

2. Implementasi AUTP harus disesuaikan dengan perbedaan kondisi tiap wilayah

ilustrasi sawah. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
ilustrasi sawah. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Di sisi lain, dia mendorong agar tidak menyamaratakan kondisi lapangan, karena karakter agroekosistem pertanian di seluruh Indonesia sangat berbeda. Menurutnya, setiap daerah memiliki kekhasan tertentu, Di Jawa mungkin varietas padi yang unggul adalah Inpati 30. Tapi, di Sumatra, Sulawesi dan Nusa Tenggara lebih cocok varietas Inpari 39, Inpari 42 atau Inpago (Inbrida padi gogo).

"Intinya, semuanya harus dikerjakan secara sistematis, struktural, dan sesuai dengan tugas tanggung jawabnya. AUTP bukan urusan program dan proyek, tapi perubahan perilaku untuk mengelola risiko produksi dan risiko rantai nilai pangan," tutur Bustanul.

3. Edukasi terus dijalankan

Ilustrasi sawah
Ilustrasi sawah. (Dok. Kementan)

Untuk diketahui, beberapa pemerintah daerah mendorong petani untuk ikut program petani di tengah ancaman kekeringan. Pasalnya, berdasarkan perkiraan musim, kemarau 2026 akan berlangsung hingga Oktober bahkan November.

Sebelumnya, Jasindo yang merupakan bagian dari IFG Holding turut memperkuat program AUTP. Hal itu menurut perusahaan merupakan salah satu upaya mencapai target swasembada pangan.

Jasindo melakukan edukasi kepada petani terkait pola tanam adaptif dan pengelolaan risiko untuk meminimalkan dampak perubahan iklim.

AUTP sendiri dirancang sebagai instrumen perlindungan petani dari risiko banjir, kekeringan, serta serangan hama dan penyakit, dengan mekanisme pemetaan wilayah rawan dan verifikasi lapangan sesuai ketentuan.

Program AUTP ditujukan bagi petani anggota kelompok tani dengan luas lahan maksimal dua hektare per musim tanam, sebagai bentuk perlindungan sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Program tersebut menjamin petani tetap mendapat perlindungan finansial saat gagal panen akibat bencana alam atau serangan organisme pengganggu tanaman.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More