Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Defisit Dagang Thailand terhadap China Melonjak hingga 59,31 Persen

Defisit Dagang Thailand terhadap China Melonjak hingga 59,31 Persen
ilustrasi kapal kargo (pexels.com/William Liu)
  • Defisit dagang Thailand terhadap China melonjak 59,31 persen menjadi 55,13 miliar dolar AS hingga Juli 2026, dipicu impor dari China yang naik 38,49 persen.
  • Pembelian mesin listrik dan komponennya dari China meningkat 83 persen, sementara pelaku usaha menyoroti kapasitas produksi berlebih, geopolitik, transhipment, dan investasi China sebagai pendorong impor.
  • Ekspor global Thailand tetap tumbuh, tetapi impor naik lebih cepat dan menciptakan defisit; pelaku usaha mendorong aturan kandungan lokal bagi investasi asing di sektor elektronik dan kendaraan listrik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Defisit perdagangan Thailand terhadap China membengkak hingga 59,31 persen sepanjang tujuh bulan pertama tahun 2026. Dilansir The Nation, lonjakan tajam impor barang dari China menjadi pemicu utama melebarnya jurang perdagangan antara kedua negara tersebut.

Meskipun kinerja ekspor global Thailand mencatatkan kenaikan beruntun, tingginya permintaan terhadap mesin listrik dan komponen industri pendukung investasi manufaktur menekan neraca perdagangan negara itu. Kondisi ekonomi ini memicu kekhawatiran para pelaku usaha mengenai laju pertumbuhan nasional hingga akhir tahun.

  1. 1. Lonjakan impor mesin listrik perlebar jurang defisit

    ilustrasi smartphone
    ilustrasi smartphone (pexels.com/cottonbro studio)

    Berdasarkan data perdagangan bilateral hingga Juli 2026, total nilai perdagangan antara Thailand dan China mencapai 108,804 miliar dolar AS atau setara Rp1.924,2 triliun (kurs Rp17.685). Angka perdagangan tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 29,89 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

    Dalam periode tujuh bulan tersebut, ekspor Thailand ke China hanya tumbuh 9,17 persen menjadi 26,837 miliar dolar AS atau setara Rp474,61 triliun. Di sisi lain, nilai impor Thailand dari China melonjak drastis sebesar 38,49 persen.

    Kesenjangan laju perdagangan tersebut menghasilkan defisit bilateral bagi Thailand sebesar 55,13 miliar dolar AS atau setara Rp974,97 triliun. Pemicu utama lonjakan impor ini adalah peningkatan pembelian mesin listrik dan komponennya dari China yang tumbuh 83 persen hingga mencapai 19,373 miliar dolar AS atau setara Rp342,61 triliun.

    Kamar Dagang Thai-China melaporkan hasil survei indeks kepercayaan kuartal keempat 2026 yang melibatkan 503 responden pada pertengahan Agustus 2026. Sebanyak 46,2 persen responden memperkirakan ekonomi Thailand hanya akan tumbuh 1,5 hingga 2 persen tahun ini, berada di bawah proyeksi pertengahan pemerintah sebesar 2,2 persen.

  2. 2. Kapasitas produksi berlebih China dan isu geopolitik jadi pendorong

    ilustrasi pekerja pabrik
    ilustrasi pekerja pabrik (pexels.com/EqualStock IN)

    Survei Kamar Dagang Thai-China mengungkapkan sejumlah faktor yang mendorong derasnya arus masuk barang asal China. Sebanyak 27,4 persen responden menilai kapasitas produksi berlebih di China membuat harga produk mereka menjadi lebih murah dan kompetitif di pasar Thailand.

    Selain faktor harga, ketegangan geopolitik antara China dan Amerika Serikat juga memengaruhi pola perdagangan. Sebanyak 21,5 persen responden menyebutkan konflik tersebut mendorong produsen asal China untuk mengalihkan dan meningkatkan pengiriman produknya ke pasar negara-negara Asia.

    Sebanyak 18,5 persen responden menduga Thailand dimanfaatkan sebagai jalur transit atau transhipment pengiriman barang menuju Amerika Serikat. Sementara itu, 17,2 persen responden mengaitkan lonjakan impor dengan meningkatnya investasi langsung China di Thailand yang membutuhkan pasokan mesin dan bahan baku dari negara asalnya.

  3. 3. Pelaku usaha desak syarat komponen lokal untuk investasi

    ilustrasi pabrik kendaraan listrik
    ilustrasi pabrik kendaraan listrik (pexels.com/Hyundai Motor Group)

    Investasi China di Thailand tercatat terus meningkat, terutama pada sektor kecerdasan buatan, pusat data (data centre), dan kendaraan listrik (electric vehicle). Pelaku usaha menilai arus investasi tersebut seharusnya memberikan dampak ekonomi bernilai tambah yang lebih tinggi bagi industri domestik.

    Presiden Kamar Dagang Thai-China, Narongsak Putthapornmongkol, menyampaikan bahwa para pelaku bisnis mendorong pemerintah menetapkan kebijakan kandungan lokal (local content) bagi investor asing. Kebijakan ini dinilai sangat penting untuk diterapkan pada sektor industri kendaraan listrik dan elektronik.

    Narongsak menegaskan pentingnya pengawasan terhadap pergerakan angka perdagangan bilateral yang kian tidak seimbang. "Secara keseluruhan, survei ini mencerminkan kekhawatiran yang terus berlanjut di antara para pelaku usaha Thai-China terkait pertumbuhan ekonomi Thailand pada 2026, terutama tekanan dari impor yang mengembang lebih cepat dibandingkan ekspor serta defisit perdagangan dengan China yang terus melebar," kata Narongsak seperti dilansir The Nation.

  4. 4. Kinerja ekspor global Thailand tetap tumbuh kuat di pertengahan tahun

    ilustrasi bendera Thailand
    ilustrasi bendera Thailand (pexels.com/Markus Winkler)

    Di tengah tekanan defisit bilateral dengan China, kinerja ekspor global Thailand secara keseluruhan sebenarnya mencatatkan pertumbuhan positif. Dilansir Xinhua, data Kementerian Perdagangan Thailand menunjukkan ekspor bulan Juli 2026 tumbuh 21,6 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi 34,79 miliar dolar AS atau setara Rp615,26 triliun.

    Pertumbuhan ekspor Juli 2026 tersebut menandai kenaikan selama 25 bulan berturut-turut, didorong permintaan global terhadap produk teknologi dan infrastruktur digital. Namun, impor global Thailand pada bulan yang sama juga melonjak 36,7 persen menjadi 38,40 miliar dolar AS atau setara Rp679,10 triliun, sehingga memicu defisit bulanan sebesar 3,61 miliar dolar AS atau setara Rp63,84 triliun.

    Secara kumulatif dalam tujuh bulan pertama tahun 2026, ekspor global Thailand tumbuh 18,2 persen menjadi 231,53 miliar dolar AS atau setara Rp4.094,61 triliun. Pada periode yang sama, nilai impor global naik 37,8 persen menjadi 266,89 miliar dolar AS atau setara Rp4.719,95 triliun, yang menghasilkan total defisit perdagangan global sebesar 35,35 miliar dolar AS atau setara Rp625,16 triliun. Kementerian Perdagangan Thailand memperkirakan kinerja ekspor sepanjang tahun 2026 akan tumbuh antara 5 hingga 11 persen, didorong oleh kuatnya permintaan global terhadap produk berbasis kecerdasan buatan (AI).

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More