Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
DEN Proyeksi Ekspor Hilirisasi Tembus Rp895 Triliun pada 2026
ilustrasi aktivitas pengiriman barang ekspor melalui pelabuhan di Jakarta Utara (pexels.com/Tom Fisk)
  • DEN memproyeksikan ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai 50 miliar dolar AS atau Rp895 triliun pada akhir 2026.

  • Aluminium diperkirakan menyumbang ekspor 7,2 miliar dolar AS pada 2026, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2024.

  • Indonesia memproduksi komponen baterai litium dan memiliki fasilitas pemurnian litium meski tidak mempunyai sumber daya litium sendiri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2024

Ekspor produk hilirisasi tercatat sekitar 34,5 miliar dolar AS. Ekspor produk aluminium mencapai sekitar 3,5 miliar dolar AS.

Selasa (20/10/2026)

Septian Hario Seto menyampaikan proyeksi ekspor hilirisasi setelah pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta.

Rabu (21/10/2026)

Pernyataan Septian Hario Seto mengenai proyeksi ekspor hilirisasi dikutip.

kini

Indonesia memproduksi sejumlah komponen baterai, termasuk anoda dan katoda, serta memiliki fasilitas pemurnian litium.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    DEN memproyeksikan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai 50 miliar dolar AS atau Rp895 triliun pada akhir 2026.
  • Who?
    Dewan Ekonomi Nasional dan Septian Hario Seto menyampaikan proyeksi tersebut setelah pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto.
  • Where?
    Proyeksi disampaikan setelah pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta.
  • When?
    Septian Hario Seto menyampaikannya pada Selasa (20/10/2026), dan pernyataannya dikutip pada Rabu (21/10/2026).
  • Why?
    Peningkatan ekspor produk hilirisasi diproyeksikan menjadi sumber tambahan devisa bagi Indonesia.
  • How?
    Melalui pengembangan aluminium, komponen baterai litium, fasilitas pemurnian litium, investasi, dan pembangunan smelter aluminium baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

DEN bilang ekspor barang hasil olahan Indonesia bisa mencapai 50 miliar dolar AS pada 2026. Aluminium diperkirakan menyumbang banyak. Indonesia juga membuat bagian baterai litium, seperti anoda dan katoda, walau tidak punya litium sendiri. Sekarang, pemerintah masih mengembangkan industri dan smelter aluminium.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Proyeksi DEN menunjukkan hilirisasi Indonesia berkembang pada lebih dari satu sektor, termasuk aluminium dan komponen baterai litium. Pengolahan bahan baku yang tidak tersedia di dalam negeri juga menjadi bagian dari ekosistem industri. Perkembangan ini berpotensi memperluas sumber ekspor dan menambah devisa melalui investasi serta pembangunan smelter aluminium baru.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Dewan Ekonomi Nasional (DEN) memproyeksikan nilai ekspor produk hilirisasi Indonesia mencapai 50 miliar dolar AS pada akhir 2026. Angka tersebut setara Rp895 triliun (kurs Rp17.900).

Anggota sekaligus Sekretaris Eksekutif DEN Septian Hario Seto menyampaikan proyeksi tersebut setelah pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

"Selama 2 tahun periode pemerintahan beliau, ekspor hilirisasi kita itu bisa meningkat sekitar 45 persen, 2026 50 miliar dolar dan tadi 2024 sekitar 34,5 miliar dolar," katanya dikutip Rabu (21/10/2026).

1. Ekspor aluminium diproyeksi capai 7,2 miliar dolar

ilustrasi ekspor-impor (IDN Times/Aditya Pratama)

Perkembangan hilirisasi di Indonesia kini tidak hanya bertumpu pada nikel. DEN mencatat industri aluminium juga tumbuh signifikan dan diperkirakan menyumbang ekspor sebesar 7,2 miliar dolar AS pada 2026.

Nilai tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan ekspor produk aluminium pada 2024 yang mencapai sekitar 3,5 miliar dolar AS.

'Ada dua komponen hilirisasi lain yang juga berkembang cukup pesat. Yang pertama adalah hilirisasi aluminium. Hilirisasi aluminium ini meningkat cukup signifikan," ujar dia.

2. Indonesia produksi komponen baterai litium meski tak punya sumber litium

ilustrasi baterai lithium (unsplash.com/Tyler Lastovich)

Pengembangan industri komponen baterai litium juga menjadi bagian dari pertumbuhan hilirisasi. Indonesia kini memproduksi sejumlah komponen baterai, termasuk anoda dan katoda, serta telah memiliki fasilitas pemurnian litium atau lithium refinery.

Padahal, Indonesia tidak memiliki sumber daya litium sendiri. Pengembangan tersebut menunjukkan kegiatan industrialisasi juga dapat mencakup pengolahan bahan baku yang tidak tersedia di dalam negeri.

"Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki. Tapi industrialisasi ini merupakan bagian dari ekosistem tadi yang lebih lengkap," tuturnya.

3. Ekspor aluminium berpotensi tembus 10 miliar dolar AS

ilustrasi ekspor (IDN Times/Aditya Pratama)

DEN memperkirakan peningkatan ekspor produk hilirisasi dapat menjadi sumber tambahan devisa bagi Indonesia. Khusus aluminium, nilai ekspornya diproyeksikan melampaui 10 miliar dolar AS seiring dengan penambahan investasi dan pembangunan smelter aluminium baru.

"Jadi ini juga akan menjadi sumber tambahan devisa yang sangat buat Indonesia ke depannya," kata Seto.

Curated For You

Editorial Team

Related Article