Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

DEN Sebut Prabowo Bakal Efisiensi Program Prioritas Termasuk MBG

DEN Sebut Prabowo Bakal Efisiensi Program Prioritas Termasuk MBG
Ilustrasi: Pengolahan MBG di SPPG Gagaksipat, Boyolali. (IDN Times/Larasati Rey)
Intinya Sih
  • DEN menyoroti pentingnya menjaga kepercayaan publik dan efisiensi anggaran, termasuk pada program prioritas seperti MBG, sesuai arahan Presiden Prabowo untuk menghemat belanja negara.
  • Firman Hidayat mengingatkan pemerintah agar tetap waspada terhadap ketidakpastian ekonomi global, pelemahan rupiah, serta kenaikan harga energi yang bisa memengaruhi biaya produksi dan distribusi.
  • DEN menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kuat dengan neraca korporasi dan perbankan yang sehat, ditandai rasio kecukupan modal tinggi serta utang perusahaan dalam dolar AS yang rendah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Firman Hidayat mengatakan penguatan kepercayaan (confidence) menjadi salah satu hal yang perlu terus dijaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto, DEN menyoroti pentingnya penjelasan yang lebih rinci mengenai komitmen pemerintah dalam menjaga defisit fiskal. Firman mengatakan Prabowo memastikan efisiensi anggaran akan terus dilakukan.

"Pak Presiden tadi menyampaikan efisiensi anggaran ini akan dilakukan termasuk untuk program-program prioritas seperti MBG. Jadi tadi angkanya cukup besar yang kita bisa hemat dari sisi MBG," katanya kepada jurnalis di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).

1. DEN ingatkan risiko ekonomi global dan pelemahan rupiah

Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
ilustrasi perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran (pexels.com/Saifee Art)

Firman mengatakan pemerintah tetap perlu mewaspadai ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung. Menurutnya, dampak perang diperkirakan berlangsung lebih lama dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Selain itu, pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi global juga dinilai berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi. Kondisi tersebut perlu diantisipasi, terutama pada semester II-2026, meski pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah penanganan.

"Memang kita perlu waspada terhadap ketidakpastian ekonomi global. Dampak perang ini sepertinya lebih lama dari perkiraan kita," ujarnya.

2. Fundamental ekonomi dinilai masih kuat

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)
ilustrasi pertumbuhan ekonomi (IDN Times/Aditya Pratama)

Di sisi lain, DEN menyampaikan kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup baik. Menurut Firman, kondisi saat ini jauh berbeda dibandingkan masa krisis 1998. Itu berdasarkan sejumlah indikator ekonomi yang masih menunjukkan kondisi yang relatif terjaga.

"Kami sampaikan kepada Bapak Presiden bahwa fundamental ekonomi kita dalam kondisi yang cukup baik bahkan jauh dibandingkan dengan kondisi krisis 1998," kata Firman.

3. Neraca korporasi dan perbankan disebut dalam kondisi sehat

Ilustrasi neraca perdagangan. (IDN Times/Mardya Shakti)
Ilustrasi neraca perdagangan. (IDN Times/Mardya Shakti)

Firman menjelaskan salah satu indikator yang menjadi perhatian DEN adalah kondisi keuangan korporasi yang dinilai masih sehat. Dia mengatakan utang perusahaan dalam mata uang dolar AS saat ini jauh lebih rendah dibandingkan saat krisis 1998.

"Kemudian kalau kita lihat posisi cash dari perusahaan juga ada dalam posisi yang tinggi. Jadi ketidakpastian yang terjadi mereka masih cukup bisa memitigasi," tuturnya.

Dari sisi perbankan, Firman menyebut rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) berada di atas 25 persen. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan sistem perbankan nasional masih berada dalam posisi yang kuat.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More