Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dirut Agrinas Blak-blakan Alasan di Balik Impor 105 Ribu Unit Mobil Pikap
Direktur Utama Agrinas, Joao Angelo De Sousa Mota, berbagi pandangan strategis dan arah bisnis perusahaan dalam wawancara eksklusif di program Real Talk bersama Uni Lubis. (IDN Times/Triyan)
  • PT Agrinas Pangan memutuskan impor 105 ribu mobil pikap dari India karena kapasitas produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan sesuai tenggat waktu yang ditetapkan.
  • Direktur Utama Joao Angelo De Sousa Mota menegaskan keputusan impor diambil setelah negosiasi dengan produsen lokal seperti Mitsubishi, Suzuki, Isuzu, dan Toyota tidak menghasilkan pasokan serta harga yang sesuai.
  • Kendaraan impor tersebut akan digunakan untuk mendukung operasional Koperasi Desa Merah Putih di berbagai wilayah Indonesia sebagai solusi agar kebutuhan logistik terpenuhi tepat waktu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - PT Agrinas Pangan mengungkapkan alasan di balik keputusan mengimpor 105 ribu unit mobil pikap dari India setelah kapasitas produksi dalam negeri dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan perseroan sesuai tenggat waktu yang telah ditetapkan.

Direktur Utama PT Agrinas Pangan, Joao Angelo De Sousa Mota, mengatakan keputusan impor tersebut merupakan opsi terakhir setelah pihaknya mengundang dan melakukan negosiasi dengan seluruh produsen otomotif lokal.

Ia menjelaskan, sebanyak 105.000 unit kendaraan tersebut akan digunakan untuk mendukung operasional Koperasi Desa Merah Putih di berbagai wilayah Indonesia. Karena itu, menurut dia, langkah impor tidak dilakukan secara tiba-tiba tanpa komunikasi dengan industri otomotif nasional.

“Ini ada berita acaranya. Semua produsen lokal yang ada di sini sudah kita undang,” ujar Joao dalam wawancara Real Talk bersama Uni Lubis di Kantor Agrinas, Kamis (25/2/2026).

Sejumlah model yang telah dihubungi antara lain Mitsubishi L300, Suzuki Carry, Isuzu D-Max, serta Toyota Hilux yang diwakili oleh Astra International.

Namun, dari hasil pembahasan, kapasitas pasokan yang sanggup dipenuhi produsen lokal dinilai masih jauh dari kebutuhan Agrinas.

“Mereka hanya mampu menyediakan 1.000 unit sampai Maret 2026 dan 800 unit dari April sampai Mei. Sementara kebutuhan kami mencapai ratusan ribu unit, sehingga tidak bisa terpenuhi,” jelasnya.

Selain persoalan volume, faktor harga juga menjadi pertimbangan utama. Joao mengaku telah mencoba menegosiasikan skema pembelian dalam jumlah besar (bulk purchase), namun produsen disebut tidak memberikan harga khusus.

“Saya sudah menegosiasi dengan mereka. Kita beli dalam jumlah besar, seharusnya harganya bisa jauh lebih murah. Tapi mereka bilang tidak ada skema pembelian massal,” katanya.

Menurut dia, kebutuhan kendaraan Agrinas berada di luar segmen pasar reguler yang selama ini dilayani produsen otomotif nasional. Unit tersebut akan digunakan untuk program operasional berskala besar sehingga memerlukan pendekatan produksi dan harga yang berbeda.

“Pasar kami ini agak di luar pasar yang biasanya mengonsumsi produk mereka. Jadi harus dilihat sebagai kebutuhan khusus,” imbuhnya.

Joao menegaskan, impor dilakukan bukan untuk mengabaikan industri dalam negeri, melainkan karena keterbatasan kapasitas produksi dan harga yang dinilai belum kompetitif untuk pembelian dalam jumlah besar.

Dengan demikian, impor 105 ribu unit pikap dari India dinilai menjadi solusi agar kebutuhan operasional Agrinas dapat terpenuhi tepat waktu.

Editorial Team