PT Industri Kereta Api (INKA) melakukan pemeliharaan 31 rangkain kereta (trainset) LRT Jabodebek. (dok. LRT Jabodebek)
Meski begitu, keputusan terkait impor KRL bekas dari Jepang belum dipastikan. Dia mengatakan, rencana itu perlu dibahas lebih dalam, dan mempertimbangkan banyak aspek.
"Nanti kan penjelasan bagaimana kan kita mesti melihat cost and benefit-nya, ya. Mana keuntungannya berapa, apa yang kita dapatkan dari situ, karena kan percepatan daripada transportasi publik kita juga, kan? Tapi nanti akan kita diskusikan dengan Pak Menhub," tutur Dony.
Impor KRL bekas dari Jepang itu diajukan oleh PT KAI, mengingat KCI tahun ini kekurangan sekitar 35 rangkaian kereta Sampai 2029, KCI harus melakukan penggantian 87 rangkaian kereta.
Pada Rabu, (23/9/2026) lalu, Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin sudah meminta persetujuan Komisi VI DPR RI untuk melakukan impor KRL bekas dari Jepang sebagai solusi sementara pemenuhan kebutuhan armada kereta untuk melayani pengguna Commuter Line.
"Sebagai solusi bridging-nya, untuk pemenuhan sarana pada hari ini, yang akan kita utilisasi paling maksimum itu 10 tahun ke depan, itu dengan melakukan impor kereta bukan baru dari Jepang," kata Bobby dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI.
Dia mengatakan, impor KRL bekas dari Jepang perlu dilakukan, mengingat sistem perkeretaapian Indonesia memakai sistem perkeretaapian yang sama dengan Jepang, baik dari sistem rel, lebar jalur, maupun sistem kelistrikan dan Listrik Aliran Atas (LAA).
"Sistem perkeretaapian kita di sini itu cocok dengan sistem perkeretaapian yang ada di Jepang. Kita tidak bisa impor dari tempat yang lain karena memang sistemnya berbeda," tutur Bobby.