Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dony Oskaria Buka Suara soal Rencana KAI Impor KRL Bekas dari Jepang
Ilustrasi KRL Jabodetabek. (Dok. KAI Commuter)
  • Dony Oskaria menyebut impor KRL bekas Jepang menjadi alternatif untuk menutup kebutuhan armada Commuter Line, sambil tetap mengutamakan KRL produksi PT INKA.
  • Kapasitas produksi PT INKA masih terbatas di tengah proses transformasi, sehingga pemerintah menyeimbangkan kebutuhan rangkaian dengan kemampuan produksi domestik.
  • Keputusan impor belum final dan akan dibahas bersama Menteri Perhubungan melalui kajian biaya-manfaat; KCI kekurangan sekitar 35 rangkaian tahun ini dan perlu mengganti 87 rangkaian hingga 2029.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria buka suara soal rencana PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI impor KRL bekas dari Jepang.

Impor KRL bekas dilakukan sebagai alternatif dalam pemenuhan kebutuhan rangkaian KRL untuk memastikan KAI Commuter tetap bisa melayani pengguna KRL Commuter Line. Rencana utama tetap menggunakan KRL produksi dalam negeri, yakni produksi PT Industri Kereta Api (Persero) atau PT INKA.

“Nah, kita balance-kan antara kebutuhannya dengan kapasitas produksinya INKA. Sisanya, itu yang akan kita lakukan alternatif," tutur Dony usai menghadiri acara yang diselenggarakan IKA FIKOM UNPAD di Jakarta, Jumat (2/10/2026).

1. Kapasitas produksi PT INKA masih terbatas

KRL buatan PT INKA (Persero). (dok. KAI Commuter)

Adapun impor juga dilakukan mengingat kapasitas produksi KRL oleh PT INKA saat ini masih terbatas.

“Proses transformasi INKA ini sedang berjalan, ya. Tapi kapasitas produksi mereka juga sangat terbatas, kan? Jadi ada pilihan-pilihan yang harus kita buat," ujar Dony.

2. Bakal dibahas dengan Menhub

Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Dony mengatakan, terkait rencana ini, dia akan bertemu dengan Menteri Perhubungan (Menhub), Dudy Purwagandhi untuk melakukan pembahasan.

"Hari ini harusnya saya ada pertemuan dengan Pak (Menhub). Ini hari Jumat, kan ya? Iya. Harus nya ada pertemuan dengan Pak Menhub untuk berdiskusi berkait dengan itu," tutur Dony.

3. Perlu direncanakan dengan matang

PT Industri Kereta Api (INKA) melakukan pemeliharaan 31 rangkain kereta (trainset) LRT Jabodebek. (dok. LRT Jabodebek)

Meski begitu, keputusan terkait impor KRL bekas dari Jepang belum dipastikan. Dia mengatakan, rencana itu perlu dibahas lebih dalam, dan mempertimbangkan banyak aspek.

"Nanti kan penjelasan bagaimana kan kita mesti melihat cost and benefit-nya, ya. Mana keuntungannya berapa, apa yang kita dapatkan dari situ, karena kan percepatan daripada transportasi publik kita juga, kan? Tapi nanti akan kita diskusikan dengan Pak Menhub," tutur Dony.

Impor KRL bekas dari Jepang itu diajukan oleh PT KAI, mengingat KCI tahun ini kekurangan sekitar 35 rangkaian kereta Sampai 2029, KCI harus melakukan penggantian 87 rangkaian kereta.

Pada Rabu, (23/9/2026) lalu, Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin sudah meminta persetujuan Komisi VI DPR RI untuk melakukan impor KRL bekas dari Jepang sebagai solusi sementara pemenuhan kebutuhan armada kereta untuk melayani pengguna Commuter Line.

"Sebagai solusi bridging-nya, untuk pemenuhan sarana pada hari ini, yang akan kita utilisasi paling maksimum itu 10 tahun ke depan, itu dengan melakukan impor kereta bukan baru dari Jepang," kata Bobby dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI.

Dia mengatakan, impor KRL bekas dari Jepang perlu dilakukan, mengingat sistem perkeretaapian Indonesia memakai sistem perkeretaapian yang sama dengan Jepang, baik dari sistem rel, lebar jalur, maupun sistem kelistrikan dan Listrik Aliran Atas (LAA).

"Sistem perkeretaapian kita di sini itu cocok dengan sistem perkeretaapian yang ada di Jepang. Kita tidak bisa impor dari tempat yang lain karena memang sistemnya berbeda," tutur Bobby.

Curated For You

Editorial Team

Related Article