Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dunia Usaha Kian Tertekan Akibat Rupiah Melemah, Pengusaha Fokus Efisiensi
Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
  • Pelemahan rupiah terhadap dolar AS menekan dunia usaha, terutama sektor yang bergantung pada bahan baku impor dan pembiayaan valuta asing, sehingga biaya produksi dan margin usaha meningkat.
  • Perusahaan memperkuat manajemen risiko melalui hedging, penataan struktur utang, serta efisiensi lewat rasionalisasi belanja modal dan peningkatan produktivitas untuk menjaga stabilitas keuangan.
  • Diversifikasi pemasok dan substitusi impor dengan produk dalam negeri mulai digencarkan guna mengurangi ketergantungan impor, sementara rupiah dibuka melemah di level Rp17.856 per dolar AS.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah memberikan tekanan signifikan terhadap dunia usaha, khususnya bagi sektor yang masih memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku impor dan pembiayaan dalam valuta asing.

Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung terhadap kenaikan biaya produksi, margin usaha, hingga perencanaan investasi perusahaan. Oleh karena itu, pengusaha melakukan berbagai langkah antisipatif agar tekanan eksternal tidak semakin membebani operasional perusahaan.

"Dari sisi antisipasi, perusahaan juga memperkuat strategi manajemen risiko secara lebih komprehensif. Penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging terhadap fluktuasi nilai tukar semakin ditingkatkan, disertai dengan penataan struktur utang agar lebih seimbang antara rupiah dan valuta asing," ujar Shinta.

1. Pengusaha lakukan efisiensi melalui rasionalisasi belanja modal

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani di Jakarta, Rabu (13/5/2025). (IDN Times/Trio Hamdani)

Dari sisi operasional, dunia usaha juga mulai mengedepankan langkah efisiensi untuk menjaga kesehatan keuangan perusahaan di tengah volatilitas pasar global. Upaya tersebut dilakukan melalui rasionalisasi belanja modal atau capex, optimalisasi modal kerja (working capital), hingga peningkatan produktivitas di berbagai lini usaha.

"Dengan kata lain, ruang adaptasi tetap ada, namun tidak sepenuhnya mampu mengimbangi besarnya tekanan eksternal yang terjadi saat ini," kata Shinta.

2. Pengusaha lakukan diversifikasi pemasok bahan baku

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Tak hanya itu, perusahaan juga mulai memperluas diversifikasi pemasok demi mengurangi risiko gangguan rantai pasok dan ketergantungan terhadap impor.

Beberapa sektor bahkan telah mendorong substitusi impor dengan memanfaatkan produk dalam negeri, meskipun kapasitas industri domestik dinilai masih belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan industri nasional.

3. Rupiah dibuka pada level Rp17.856 per dolar AS

ilustrasi rupiah melemah (IDN TImes/Aditya Pratama)

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan dalam mengawali perdagangan Kamis (28/5/2026) setelah sempat melewati libur Idul Adha.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.13 WIB, mata uang Garuda bergerak melemah 55,50 poin atau sekitar 0,31 persen ke level Rp17.856 per dolar AS dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.

Editorial Team

Related Article