BI Catat Kenaikan Usaha di kuartal II 2026

- Bank Indonesia mencatat peningkatan kegiatan usaha pada kuartal II 2026 dengan SBT mencapai 12,97 persen, didorong sektor pertanian, pertambangan, konstruksi, serta akomodasi dan makan minum.
- Memasuki kuartal III 2026, BI memproyeksikan pertumbuhan usaha tetap positif meski melambat dengan SBT sekitar 11,75 persen, ditopang industri pengolahan dan perdagangan besar-eceran.
- Tingkat utilisasi kapasitas produksi naik menjadi 73,80 persen pada kuartal II 2026, sementara likuiditas dan rentabilitas perusahaan sedikit melemah namun masih berada di level aman.
Jakarta, IDN Times - Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia (BI) menunjukkan kinerja kegiatan usaha pada kuartal II 2026 mengalami peningkatan dibandingkan kuartal sebelumnya.
Berdasarkan hasil SKDU, nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 12,97 persen, meningkat dari 10,11 persen pada kuartal I 2026.
Perbaikan aktivitas bisnis didorong oleh sektor pertanian, pertambangan, konstruksi, hingga penyediaan akomodasi dan makan minum.
1. Sektor pertanian, kehutanan dan perikanan catatkan pertumbuhan tinggi

Peningkatan kegiatan usaha terjadi di mayoritas lapangan usaha. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mencatatkan SBT sebesar 1,74 persen, didorong masih berlangsungnya musim panen tanaman pangan di sejumlah daerah lumbung pangan seperti Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Nusa Tenggara Barat.
Sementara itu, sektor Pertambangan dan Penggalian mencatat SBT sebesar 0,37 persen seiring menurunnya curah hujan yang mendukung aktivitas produksi. Adapun sektor Konstruksi membukukan SBT sebesar 0,81 persen berkat meningkatnya pengerjaan berbagai proyek pembangunan.
"Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mencatat SBT sebesar 0,50 persen yang ditopang permintaan selama rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta momentum libur sekolah pada kuartal II 2026," tulis BI.
2. Kegiatan usaha kuartal III diprediksi lebih rendah dari kuartal II

Memasuki kuartal III 2026, BI memperkirakan kegiatan usaha tetap tumbuh meski dengan laju yang sedikit lebih rendah. Nilai SBT diproyeksikan mencapai 11,75 persen.
Prospek tersebut didorong oleh sektor Industri Pengolahan dengan SBT sebesar 1,47 persen, sektor Perdagangan Besar dan Eceran serta Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 1,20 persen, dan sektor Konstruksi sebesar 0,95 persen seiring berlanjutnya pengerjaan proyek-proyek pembangunan.
Selain itu, sektor Pertambangan dan Penggalian juga diperkirakan meningkat dengan SBT sebesar 0,51 persen, ditopang kondisi cuaca yang lebih mendukung aktivitas penambangan.
"Diperkirakan meningkat dipengaruhi oleh penurunan curah hujan sehingga mendorong kenaikan aktivitas pertambangan," jelas BI.
3. Kapasitas produksi terpakai pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 73,80 persen

Tak hanya aktivitas usaha yang meningkat, tingkat utilisasi kapasitas produksi juga mengalami kenaikan. Kapasitas produksi terpakai pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 73,80 persen, naik dari 73,33 persen pada kuartal I 2026.
Kenaikan tersebut terutama ditopang sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang mencatat tingkat utilisasi sebesar 73,16 persen serta sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar 70,85 persen.
Sementara itu, utilisasi pada sektor Pengadaan Listrik relatif stabil di level 80,54 persen, sedangkan sektor Industri Pengolahan sebesar 70,11 persen dan Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, serta Daur Ulang sebesar 74,34 persen mengalami perlambatan.
4. Likuiditas perusahaan masih di level aman meski alami pelemahan

Dari sisi kondisi keuangan, BI mencatat likuiditas perusahaan masih berada pada level yang baik meski sedikit melemah. Saldo Bersih (SB) likuiditas pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 15,03 persen, lebih rendah dibandingkan 17,05 persen pada kuartal I 2026.
"Persentase responden yang menyatakan kondisi likuiditas perusahaan berada dalam kategori baik juga turun menjadi 22,78 persen dari sebelumnya 23,98 persen," jelas BI.
Hal serupa terjadi pada rentabilitas atau kemampuan perusahaan menghasilkan laba. SB rentabilitas tercatat sebesar 11,87 persen, turun dari 14,87 persen pada kuartal sebelumnya. Adapun proporsi responden yang menilai kondisi rentabilitas perusahaan baik menurun menjadi 22,34 persen dari 24,04 persen.
Sementara itu, akses pembiayaan perbankan dinilai masih mudah meski indikatornya juga melandai. SB akses kredit pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 2,45 persen, lebih rendah dibandingkan 4,84 persen pada kuartal I 2026. Persentase responden yang menyatakan akses kredit mudah turun menjadi 7,03 persen dari 8,77 persen pada kuartal sebelumnya.















