Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ekonom Proyeksi BI Bakal Naikkan Suku Bunga Acuan 25 Bps

2 min read
Ekonom Proyeksi BI Bakal Naikkan Suku Bunga Acuan 25 Bps
Logo Bank Indonesia
  • Ekonom Danamon Irman Faiz memproyeksikan BI menaikkan BI-Rate 25 bps menjadi 6 persen pada RDG Oktober 2026 demi menjaga stabilitas rupiah.
  • Kenaikan suku bunga dipertimbangkan akibat imbal hasil global tinggi, risiko arus modal keluar, kebutuhan pembiayaan eksternal, serta proposal reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI.
  • Defisit transaksi berjalan kuartal II 2026 mencapai 12,5 miliar dolar AS atau 3,3 persen PDB; rupiah dibuka menguat ke Rp17.983 per dolar AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon), Irman Faiz, memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2026.

Dia menjelaskan, kenaikan suku bunga tersebut diproyeksikan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal dan meningkatnya risiko arus keluar modal.

"Bahkan, BI-Rate berpotensi kembali naik hingga 6,25 persen pada akhir 2026 apabila tekanan eksternal terus berlanjut," kata dia, Rabu (21/10/2026).

  1. 1. Sederet pertimbangan terkait suku bungan acuan BI

    Ilustrasi cadangan devisa. (IDN Times/Arief Rahmat)
    Ilustrasi cadangan devisa. (IDN Times/Arief Rahmat)

    Dia mengatakan, proyeksi tersebut mempertimbangkan kombinasi tingginya imbal hasil di pasar global, risiko arus keluar modal yang meningkat, serta kebutuhan pembiayaan eksternal Indonesia.

    Ketidakpastian pasar keuangan juga bertambah setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengusulkan reklasifikasi status pasar saham Indonesia.

    Meski belum menjadi keputusan final, proposal tersebut dinilai dapat memengaruhi persepsi investor terhadap pasar keuangan domestik.

  2. 2. Tekanan laporan MSCI berdampak ke aliran modal dan rupiah

    ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)
    ilustrasi cadangan devisa (unsplash.com/ Viacheslav Bublyk)

    Dia mengatakan, dampaknya terhadap kebijakan moneter BI terutama dapat terjadi melalui pergerakan arus modal dan tekanan terhadap rupiah.

    Jika tekanan tersebut berlanjut, BI berpotensi memperketat kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik.

    Di sisi lain, kondisi eksternal Indonesia juga perlu dicermati seiring perkembangan neraca transaksi berjalan.

    "BI mencatat defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2026 mencapai 12,5 miliar dolar AS atau setara 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB)," ujar dia.

  3. 3. Rupiah pagi ini dibuka menguat

    Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
    Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)

    Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat pada Rabu (21/10/ 2026) pagi. Mata uang Garuda menguat pada level Rp17.983 per dolar Amerika Serikat (AS).

    Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menguat sembilan poin atau 0,05 persen dibandingkan penutupan kemarin.

    Pengamat Pasar Uang, Lukman Leong, memproyeksikan nilai tukar rupiah bergerak konsolidatif terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dengan peluang penguatan terbatas pada perdagangan hari ini.

    "Pergerakan rupiah akan dipengaruhi antisipasi pasar terhadap keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diumumkan sore ini," ujar Lukman.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More