Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ekonom Ungkap Alasan di Balik Harga Pertamax Belum Turun
Suasana SPBU di Waingapu usai sidak Pertamina bersama Pemda dan Polres Sumba Timur. (Dok. Pertamina)
  • Pertamina mempertahankan harga Pertamax Rp16.250 per liter pada Juli 2026 meski harga minyak dunia turun, sebagai bagian dari strategi price smoothing untuk menstabilkan margin perusahaan.
  • Ekonom menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi tidak hanya mengikuti harga minyak mentah, tetapi juga formula pemerintah dan strategi bisnis; penurunan langsung bisa menekan inflasi sekitar 0,4 poin persentase.
  • Pakar kebijakan publik menegaskan harga BBM dipengaruhi banyak faktor seperti kurs, biaya distribusi, dan pajak; transparansi diperlukan agar publik memahami alasan di balik keputusan harga Pertamax.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Sejumlah ekonom menilai keputusan PT Pertamina (Persero) mempertahankan harga Pertamax di level Rp16.250 per liter pada Juli 2026 meski harga minyak dunia melandai masih rasional.

Penetapan harga BBM nonsubsidi dinilai tidak hanya mengacu pada pergerakan harga minyak mentah, tetapi juga mempertimbangkan strategi price smoothing dan biaya penyediaan.

1. Pertamina tahan harga Pertamax untuk pulihkan margin

ilustrasi SPBU (unsplash.com/Aldrin Rachman Pradana)

Ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, mengatakan keputusan mempertahankan harga Pertamax sejalan dengan strategi price smoothing atau penghalusan harga yang selama ini diterapkan Pertamina.

Menurutnya, saat harga Pertamax dinaikkan menjadi Rp16.250 per liter pada Juni 2026, harga tersebut sebenarnya masih berada di bawah harga yang seharusnya berdasarkan formula karena tingginya harga produk BBM dunia. Akibatnya, Pertamina harus menyerap sebagian beban tersebut.

"Ketika harga minyak turun, margin tersebut dipulihkan dengan menahan harga Pertamax, bukan langsung menurunkannya," ujar Yayan, Jumat (3/7/2026).

2. Hitungan ekonom soal harga pertamax yang tak turun

SPBU self service (IDN Times/Dok. Pertamina)

Ia menjelaskan, harga BBM nonsubsidi tidak semata-mata mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia. Penentuan harga juga mempertimbangkan formula pemerintah serta strategi bisnis Pertamina.

Berdasarkan model perhitungannya, harga Pertamax diperkirakan memang belum akan berubah dalam waktu dekat. Untuk Agustus 2026, formula dasar mengarah pada harga sekitar Rp13.700 per liter. Namun dengan pendekatan price smoothing, harga diperkirakan tetap berada di kisaran Rp16.000 per liter.

Yayan menilai, apabila Pertamax langsung diturunkan mengikuti formula, dampaknya dapat menekan inflasi sekitar 0,4 poin persentase dalam tiga bulan. Sebaliknya, jika harga dipertahankan, manfaat dari turunnya harga minyak dunia akan lebih banyak digunakan untuk memulihkan margin Pertamina.

"Jika Pertamax dipangkas ke formula, estimasi pass-through kami menyiratkan penurunan inflasi sekitar 0,4 poin persentase dalam tiga bulan. Jika ditahan, dampaknya terhadap inflasi nyaris tidak ada dan manfaat penurunan harga minyak mengalir ke pemulihan margin Pertamina," jelasnya.

3. Selain harga minyak dunia, harga BBM juya dipengaruhi berbagai komponen biaya

Antrean di SPBU Gunung Guntur berangsur normal setelah pasokan Pertamax mulai masuk sejak Selasa sore (20/5/2025) . (IDN Times/Erik Alfian)

Pakar kebijakan publik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono mengatakan, harga BBM tidak hanya ditentukan oleh harga minyak mentah dunia, tetapi juga dipengaruhi berbagai komponen biaya.

Menurut Kristian, pemerintah dan badan usaha memperhitungkan rata-rata harga minyak dalam periode tertentu, nilai tukar rupiah, biaya pengolahan, distribusi, pajak, hingga cadangan untuk mengantisipasi gejolak pasar.

"Karena itu, penurunan harga minyak dunia tidak selalu harus langsung diikuti dengan penurunan harga jual di dalam negeri," ujarnya.

Ia menambahkan, sebagai BBM nonsubsidi, Pertamax memang tidak wajib mengalami penyesuaian harga setiap kali harga minyak dunia turun. Yang menjadi acuan adalah apakah harga jual masih mencerminkan biaya penyediaan sesuai formula yang berlaku.

Namun demikian, Kristian menilai pemerintah perlu memberikan penjelasan secara terbuka apabila biaya penyediaan telah turun signifikan tetapi harga tetap dipertahankan. Transparansi dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik.

Di sisi lain, ia mengingatkan agar pemerintah tidak menjadikan mekanisme harga BBM nonsubsidi sebagai instrumen untuk menutup tekanan terhadap defisit anggaran tanpa penjelasan yang memadai.

"Keberhasilan kebijakan energi tidak hanya diukur dari murah atau mahalnya harga bahan bakar, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen, keberlanjutan penyediaan energi, kesehatan keuangan negara, serta kepercayaan publik," katanya.

Sebagai informasi, Pertamina pada 1 Juli 2026 menyesuaikan harga sejumlah BBM nonsubsidi. Harga Pertamax tetap dipertahankan di Rp16.250 per liter, sementara Pertamax Turbo turun Rp1.450 menjadi Rp19.300 per liter dari sebelumnya Rp20.750 per liter. Adapun Pertamax Green 95 juga tidak mengalami perubahan dan tetap dibanderol Rp17.000 per liter.

Curated For You

Editorial Team

Related Article