Di sisi lain, perusahaan juga menyadari bahwa penurunan pesanan yang masuk membantu mereka mengurangi tumpukan pekerjaan. Sehingga volume pekerjaan yang belum terselesaikan turun untuk ketiga kali dalam empat bulan. Tren negatif permintaan mendorong perusahaan menurunkan output selama empat bulan berturut-turut dan paling tajam sejak bulan April 2025.
PMI Manufaktur RI Turun ke 46,9 akibat Melemahnya Permintaan

- PMI manufaktur Indonesia turun ke 46,9 pada Juni 2026, menandakan kontraksi setelah sebelumnya berada di level netral 50,0 pada Mei akibat melemahnya permintaan barang.
- Penurunan pesanan baru dan ekspor menyebabkan output serta tenaga kerja menurun tajam, sementara biaya bahan baku meningkat sehingga tekanan inflasi harga input tetap tinggi.
- Pemerintah menyoroti lemahnya permintaan dan kenaikan biaya produksi sebagai faktor utama, serta mendorong penguatan kebijakan efisiensi industri melalui program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).
Jakarta, IDN Times - S&P Global merilis Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang tercatat turun ke level kontraksi 46,9 pada Juni 2026 dari 50,0 pada Mei 2026. Penurunan tersebut mencerminkan aktivitas manufaktur yang kembali terkontraksi setelah sebelumnya berada di ambang ekspansi.
"Kondisi ini menunjukkan penurunan lebih lanjut pada kesehatan sektor produksi barang. Penurunan solid pada kondisi operasional pabrik, merupakan salah satu yang paling besar dalam setahun," jelas S&P dalam laporannya.
Adapun penyebab utama penurunan pada bulan Juni adalah penurunan permintaan atas barang manufaktur Indonesia. Pesanan baru turun untuk pertama kali dalam tiga bulan dan pada laju tercepat dalam setahun. Para anggota panel mengaitkan penurunan dengan melemahnya daya beli, umumnya karena tekanan harga.
Penurunan total pesanan baru diikuti oleh penurunan lanjutan pada pesanan ekspor baru. Bukti anekdotal mengarah pada penurunan permintaan dari pasar luar negeri karena kenaikan harga. Penurunan permintaan ekspor baru merupakan yang paling tajam sejak bulan Agustus 2021.
1. Penurunan manufaktur Indonesia turun dua kali dalam kurun waktu 3 bulan

Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti mengatakan, kesehatan sektor manufaktur Indonesia menurun dua kali dalam tiga bulan terakhir menutup semester pertama 2026. Tingkat penurunan merupakan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025.
"Sehingga perusahaan menurunkan jumlah tenaga kerja dan aktivitas pembelian mereka besar-besaran, sementara inventaris juga menurun seiring melemahnya kondisi permintaan. Tekanan harga masih tinggi secara historis, dengan produsen mencatat kenaikan beban biaya rata-rata di tengah laporan kenaikan harga bahan baku. Laju inflasi tersebut merupakan yang tertinggi kedua sepanjang sejarah dan mendorong kenaikan harga jual dari pabrik paling kuat dalam hampir 13 tahun," jelasnya.
2. Alasan turunnya manufaktur Indonesia per Juni

Penurunan kebutuhan produksi dan permintaan juga menghambat pembangunan stok, sehingga stok barang jadi menurun selama dua bulan berjalan dan pada laju lebih cepat dibandingkan pada bulan Mei.
Di sisi lain, produsen barang juga menurunkan jumlah tenaga kerja lebih banyak lagi pada bulan Juni. Laju PHK tergolong solid dan merupakan yang paling besar sejak bulan September 2021. Pada saat yang sama, pembelian input turun selama empat bulan berturut-turut dan pada laju tercepat sejak bulan Agustus 2021. Beberapa perusahaan mencatat bahwa kenaikan harga bahan baku juga menghambat aktivitas pembelian.
3. Faktor penyebab melemahnya manufaktur karena lemahnya sisi permintaan

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan penurunan manufaktur di Juni disebabkan oleh melemahnya permintaan baru dari pasar domestik maupun ekspor berdampak pada penurunan aktivitas produksi, pembelian bahan baku, serta penyerapan tenaga kerja.
Di sisi lain, industri juga menghadapi lonjakan biaya produksi akibat kenaikan harga bahan baku dan pelemahan nilai tukar, sehingga inflasi harga input tercatat sebagai yang tertinggi kedua sejak survei PMI dimulai pada 2011.
“Kondisi ini perlu kita pandang sebagai tantangan yang harus dijawab melalui penguatan kebijakan peningkatan daya saing industri nasional,” tegas Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief dalam keterangannya dikutip, Jumat (3/7/2026).
Menurut Febri, tekanan terhadap PMI pada bulan Juni lebih banyak dipengaruhi oleh pelemahan permintaan dan meningkatnya biaya produksi. Oleh karena itu, fokus pemerintah saat ini adalah memastikan berbagai kebijakan strategis berjalan efektif agar beban industri dapat ditekan dan aktivitas manufaktur kembali meningkat.
Salah satu kebijakan yang diyakini mampu memberikan dampak nyata terhadap efisiensi industri yaitu implementasi program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Program tersebut menjadi instrumen penting untuk menekan biaya energi bagi sektor-sektor industri yang menggunakan gas bumi sebagai bahan baku maupun sumber energi utama.
“Kebijakan ini sudah dirasakan oleh pelaku industri dan terbukti mampu meningkatkan efisiensi produksi dan menjaga daya saing produk manufaktur Indonesia. Karena itu, implementasi HGBT perlu terus diperkuat agar manfaatnya semakin terserap secara optimal oleh seluruh industri penerima,” katanya.





















