Ilustrasi aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Produk ekspor nonmigas yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah logam mulia, perhiasan atau permata (HS 71), serta kendaraan dan bagiannya (HS 87). Ekspor logam mulia dan perhiasan atau permata paling banyak ditujukan ke Swiss, Hong Kong, dan Singapura. Sementara kendaraan dan bagiannya diekspor ke Filipina, Vietnam, dan Jepang.
“Peningkatan nilai ekspor logam mulia disebabkan adanya kenaikan harga emas dunia pada Juli 2020 sebesar 6,6 persen (MoM). Sedangkan peningkatan ekspor kendaraan dan bagiannya menunjukkan produk otomotif asal Indonesia semakin kompetitif dan digemari di pasar Asia,” terang Mendag.
Namun, ekspor nonmigas pada Januari-Juli 2020 turun sebesar 4,0 persen, seiring dengan kondisi perekonomian global yang belum pulih akibat pandemik COVID-19. Pada Juni 2020, IMF memperkirakan pertumbuhan perekonomian global 2020 mengalami penurunan 4,9 persen.
Pada triwulan II 2020, banyak negara tujuan ekspor Indonesia yang telah memasuki masa resesi ekonomi. Hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi yang negatif selama dua kuartal berturut-turut. Negara tujuan ekspor tersebut di antaranya Jepang, Singapura, Filipina, Hongkong, Jerman, Italia, Spanyol, Arab Saudi, Inggris, Belgia, dan Prancis.
Meskipun demikian, ekspor nonmigas Indonesia pada Januari-Juli 2020 masih mencatatkan peningkatan ke beberapa pasar utama, yaitu Tiongkok naik 11,8 persen, Australia (9,8 persen), Pakistan (5,9 persen), dan Amerika Serikat (1,5 persen).
Produk ekspor yang meningkat secara signifikan ke Tiongkok adalah paduan ferro nikel, besi tahan karat, dan tembaga; ke Australia amonium nitrat, emas, dan mentega kakao; ke Pakistan minyak sawit olahan, serat stapel buatan, dan batu bara; serta ke Amerika Serikat portable receiver, udang, dan minyak sawit olahan.