Ekspor Ramyeon Korea Selatan Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

- Ekspor mi instan Korea Selatan melonjak hingga Rp25,5 triliun pada 2025.
- China dan AS sumbang lebih dari 40 persen ekspor ramyeon Korea Selatan pada 2025, dengan kontribusi gabungan lebih dari 40 persen dari total nilai ekspor.
- Produsen besar perluas pabrik di AS, China, dan Korea Selatan untuk penuhi permintaan ramyeon global. Nongshim meluncurkan produk kolaborasi dengan film Netflix.
Jakarta, IDN Times - Ekspor mi instan atau ramyeon Korea Selatan mencapai rekor tertinggi sebesar 1,52 miliar dolar AS (Rp25,5 triliun) pada 2025, menurut data Korea Customs Service yang dirilis pada Minggu (11/1/2026). Capaian ini menandai pertumbuhan selama 11 tahun berturut-turut sejak 2015.
Kenaikan ekspor dipicu oleh permintaan kuat dari pasar utama seperti AS dan China, yang secara keseluruhan menyumbang lebih dari 40 persen total ekspor ramyeon Korea Selatan.
1. Ekspor mi instan Korea Selatan melonjak hingga Rp25,5 triliun pada 2025

Ekspor ramyeon Korea Selatan mencapai 1,52 miliar dolar AS (Rp25,5 triliun) sepanjang 2025, naik 21,8 persen dibandingkan 1,24 miliar dolar AS (Rp20,8 triliun) pada 2024, menurut data Korea Customs Service yang dikutip Yonhap News Agency. Ini menjadi pertama kalinya nilai ekspor ramyeon melewati batas 1,5 miliar dolar AS (Rp25,2 triliun), dengan pertumbuhan rata-rata tahunan mencapai 23 persen sejak 2021.
Nilai ekspor tersebut telah meningkat dua kali lipat dari 765 juta dolar AS (Rp12,8 triliun) pada 2022 dan meningkat tujuh kali lipat dibanding 219 juta dolar AS (Rp3,6 triliun) pada 2015. Kenaikan pesat ini didorong lonjakan permintaan global, mendorong produsen besar seperti Nongshim dan Samyang Foods untuk memperluas kapasitas produksi guna memenuhi pasar internasional.
2. China dan AS sumbang lebih dari 40 persen ekspor ramyeon Korea Selatan

China dan AS menjadi dua pasar utama ekspor ramyeon Korea Selatan pada 2025, dengan kontribusi gabungan lebih dari 40 persen dari total nilai ekspor, dilansir Korea Herald.
China mencatat nilai impor sebesar 385 juta dolar AS (Rp6,4 triliun) atau 25,3 persen dari total ekspor ramyeon, naik 47,9 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, ekspor ke AS mencapai 255 juta dolar AS (Rp4,2 triliun) atau 16,7 persen dari total, naik 18,1 persen meski terhambat oleh tarif impor sebesar 15 persen.
Pertumbuhan permintaan di kedua negara didorong oleh meningkatnya popularitas budaya Korea, seperti musik K-pop dan drama. Ekspor ke AS sempat mencatat rata-rata pertumbuhan tahunan 68 persen dari 2022 hingga 2024 sebelum melambat pada 2025 akibat kebijakan tarif AS.
3. Produsen besar perluas pabrik di AS, China, dan Korea Selatan untuk penuhi permintaan ramyeon global

Produsen besar ramyeon Korea Selatan terus memperluas kapasitas produksinya untuk memenuhi lonjakan permintaan global. Nongshim meluncurkan produk kolaborasi dengan film Netflix “KPop Demon Hunters” di pasar AS serta membangun pabrik ekspor baru di Busan yang dijadwalkan beroperasi pada 2026.
Sementara itu, Samyang Foods telah menyelesaikan pembangunan pabrik keduanya di Miryang pada 2025 dan tengah membangun pabrik pertama di China guna memperkuat posisinya di pasar Asia.
"Penjualan ramyeon di luar negeri kemungkinan jauh melampaui angka ekspor resmi, karena produsen utama seperti Nongshim dan Samyang telah mengoperasikan pabrik di AS dan China," ujar seorang pejabat industri, dilansir The Star.
Tren ekspansi global ini memperkuat posisi ramyeon sebagai salah satu produk makanan ekspor unggulan Korea Selatan.
















