Korea Selatan Minta Bantuan China Buat Stop Proyek Nuklir Korut

- Lee Jae Myung tawarkan kompensasi kepada Korea Utara jika mau hentikan proyek senjata nuklir.
- China bersedia mengupayakan perdamaian Korea Selatan dan Korea Utara.
- Korea Utara makin terang-terangan dengan proyek senjata nuklirnya.
Jakarta, IDN Times - Korea Selatan meminta bantuan China untuk menyetop proyek senjata nuklir Korea Utara. Permintaan ini diutarakan Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, pada hari terakhir kunjungannya di Negeri Tirai Bambu, Rabu (7/1/2026) waktu setempat.
"Kami ingin China memainkan peran mediasi dalam isu-isu yang berkaitan dengan Semenanjung Korea, termasuk program nuklir Korea Utara," kata Lee setelah melakukan pertemuan dengan para pejabat tinggi China di Shanghai, seperti dilansir Al Jazeera.
Lee sendiri melakukan kunjungan ke China sejak Minggu (4/1/2026) lalu. Ini merupakan kali pertama Presiden Korea Selatan berkunjung ke China setelah 6 tahun. Kunjungan ini dilakukan bertujuan untuk membahas beberapa hal strategis, termasuk upaya reunifikasi Korea Selatan dan Korea Utara.
1. Lee Jae Myung tawarkan kompensasi kepada Korea Utara jika mau hentikan proyek senjata nuklir

Lee Jae Myung juga menawarkan kompensasi kepada Korea Utara jika mau menyetop proyek senjata nuklirnya. Hal ini dilakukan karena Lee ingin wilayah Semenanjung Korea, termasuk wilayah negaranya, bebas dari ancaman nuklir.
“Jika hal itu (penyetopan proyek nuklir Korea Utara) tercapai, maka dalam jangka menengah, kita dapat bergerak menuju pengurangan (nuklir) bertahap. Dalam jangka panjang, kita tak boleh menyerah pada tujuan Semenanjung Korea yang bebas nuklir,” lanjut Lee dilansir CNA.
Selain itu, langkah ini dilakukan Lee untuk menjaga perdamaian di Semenanjung Korea. Sebab, proyek nuklir Korea Utara telah membuat warga Korea Selatan khawatir akan keselamatan mereka jika terjadi perang.
2. China bersedia mengupayakan perdamaian Korea Selatan dan Korea Utara

Selain soal proyek nuklir, Korea Selatan juga meminta China untuk menjadi mediator perdamaian dengan Korea Utara. Sebab, selama beberapa tahun terakhir, hubungan kedua makin memanas. Hal ini lantaran Korea Utara kerap melakukan konfrontasi militer sebagai bentuk protes karena Korea Selatan menjalin kerja sama militer dengan Amerika Serikat.
Presiden Lee Jae Myung mengatakan jalur komunikasi dengan Pyngyang juga sudah terputus total. Ini membuat Pemerintah Korea Selatan tak bisa melakukan negosiasi perdamaian dengan Korea Utara. Oleh karena itu, Lee menilai China berperan penting untuk membuka kembali jalur komunikasi dengan Korea Utara agar ketegangan mereda.
China sendiri sudah bersedia untuk membantu Korea Selatan berdamai dengan Korea Utara. Sebab, mereka ingin Kawasan Semenanjung Korea damai tanpa ada konflik apa pun.
"Menjaga perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea adalah kepentingan bersama semua pihak. China akan terus memainkan peran konstruktif dalam hal ini dengan caranya sendiri," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers rutin dilansir CNA.
3. Korea Utara makin terang-terangan dengan proyek senjata nuklirnya

Sebagai informasi, Korea Utara belakangan ini memang sedang gencar mengembangkan proyek senjata nuklir. Ini dilakukan untuk menjaga keamanan negara dari ancaman eksternal, terutama dari Amerika Serikat.
Namun, pengembangkan proyek nuklir yang dilakukan Korea Utara sebetulnya menuai kecaman dari banyak pihak. Beberapa di antaranya dari Korea Selatan dan Amerika Serikat. Ini karena proyek nuklir Korea Utara mengancam perdamaian dan stabilitas kawasan.
Namun, Presiden Korea Utara, Kim Jong Un, masa bodoh dengan kecaman tersebut. Ia bersikukuh mengembangkan proyek senjata nuklirnya demi keamanan negara. Bahkan, Korea Utara pada Senin (5/1/2026) mengatakan bahwa proyek senjata nuklir mereka sudah siap digunakan untuk berperang.


















