Korsel Bujuk China Jadi Mediator Perdamaian di Semenanjung Korea

Komitmen pemerintahan Lee untuk capai denuklirisasi di Semenanjung Korea
Normalisasi hubungan bilateral Seoul-Beijing
Hadapi krisis geopolitik, Korut perkuat hubungan dengan China-Rusia
Jakarta, IDN Times - Presiden Korea Selatan (Korsel), Lee Jae Myung, mengatakan pada Rabu (7/1/2026) bahwa ia telah meminta Presiden China Xi Jinping untuk menjadi mediator perdamaian dalam diplomasi denuklirisasi di Semenanjung Korea dengan Korea Utara (Korut). Lee menegaskan kembali komitmen pemerintahannya untuk meredakan ketegangan yang berkepanjangan terkait program nuklir dan rudal Pyongyang.
Permintaan tersebut diajukan selama diskusi panjangnya bersama Xi di Beijing yang berfokus pada stabilitas regional. Lee melakukan lawatan kenegaraan dari tanggal 4-7 Januari 2026 ke China, guna memenuhi undangan dari Presiden Xi. Disana, ia mengunjungi Beijing dan Shanghai.
"Korut dan Korsel berada dalam situasi di mana semua jalur terblokir, dan tingkat kepercayaan berada pada titik nol," kata Lee kepada wartawan Korea di Shanghai setelah pertemuan puncaknya dengan Xi pada 5 Januari 2026, dikutip dari Korea Herald.
1. Komitmen pemerintahan Lee untuk capai denuklirisasi di Semenanjung Korea
Lee juga mengungkapkan bahwa tujuan utama Seoul adalah Semenanjung Korea yang bebas nuklir. Menurutnya, hal tersebut bukan kebijakan untuk pertunjukan politik, tetapi strategi tulus untuk perdamaian.
Ia mengusulkan pembekuan program nuklir Pyongyang dengan imbalan kompensasi atau beberapa bentuk pengembalian. Ia menambahkan, jika tahap itu tercapai, maka dalam jangka menengah Korsel dapat bergerak menuju pengurangan bertahap.
"Hanya dengan berhenti pada level saat ini, tidak ada produksi senjata nuklir tambahan, tidak ada transfer material nuklir ke luar negeri, dan tidak ada pengembangan lebih lanjut rudal balistik antarbenua (ICBM), sudah akan menjadi sebuah keuntungan," ungkapnya.
2. Normalisasi hubungan bilateral Seoul-Beijing
Lee mengatakan bahwa para pejabat China menanggapi secara positif gagasan untuk mengambil peran yang lebih besar. Dikatakan, Xi telah mendesak Seoul untuk menunjukkan kesabaran dalam hubungannya dengan pyongyang. Ini mengingat betapa tegangnya hubungan antara kedua Korea.
Lawatan Lee tersebut merupakan kunjungan kenegaraan pertama seorang pemimpin Korsel ke China dalam enam tahun terakhir. Kedatangan Lee bertujuan untuk memperbaiki hubungan bilateral antara kedua negara, setelah periode yang kurang baik dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya adalah perselisihan mengenai penempatan sistem pertahanan rudal Amerika Serikat (AS), Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Korsel pada 2016.
3. Hadapi krisis geopolitik, Korut perkuat hubungan dengan China-Rusia
Permohonan Lee kepada Beijing muncul ketika Korut sedang menavigasi lanskap geopolitik yang lebih kompleks, yang ditandai dengan semakin dalamnya kerja sama dengan China dan Rusia.
Laporan terbaru mengatakan bahwa Pyongyang berupaya memperkuat hubungan yang membaik dengan Beijing. Di saat yang sama, Korut juga mempertahankan kerja sama dengan Moskow, meskipun tetap terisolasi dari sebagian besar komunitas internasional.
Dilansir Al Jazeera, pada Senin (5/1/2026), Korut mengonfirmasi bahwa mereka telah melakukan uji penerbangan rudal hipersonik. Pemimpin Kim Jong Un mengatakan penting untuk memperluas pencegahan nuklir, ini mengingat krisis geopolitik baru-baru ini. Hal ini merujuk pada serangan AS di Caracas dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.



















