El Nino Ancam Hasil Panen! Ini 5 Komoditas yang Perlu Dipantau

- BMKG memperkirakan musim hujan 2026/2027 mundur di 61,08% wilayah Indonesia, meningkatkan risiko kekeringan yang mengganggu jadwal tanam, produktivitas, dan pasokan pertanian.
- Beras rentan karena sekitar 30% sawah kekurangan irigasi; kekeringan juga dapat menekan hasil kakao, sawit, kopi, dan tebu melalui gangguan pertumbuhan serta panen.
- Gangguan produksi dan distribusi sawit telah terjadi di Kalimantan Barat, sementara penurunan produksi kakao Pantai Gading berpotensi memperketat pasokan komoditas global.
El Nino menjadi perhatian sektor pertanian karena fenomena ini dapat mengubah pola hujan dan meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah. Indonesia perlu mewaspadai dampaknya karena banyak kegiatan pertanian bergantung pada ketersediaan air untuk menjaga pertumbuhan tanaman dan menentukan waktu tanam. Jika hujan datang terlambat, petani dapat menghadapi risiko penurunan hasil panen hingga perubahan jadwal produksi.
BMKG memperkirakan musim hujan 2026/2027 akan mundur di 61,08 persen wilayah Indonesia, sementara kekeringan telah berlangsung di berbagai daerah. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga pasokan komoditas perkebunan yang diperdagangkan di pasar global. Lantas, komoditas apa saja yang perlu dipantau ketika risiko El Nino meningkat?
1. Beras berisiko mengalami gangguan produksi

ilustrasi tanaman padi (pexels.com/Pixabay) Padi membutuhkan air yang cukup selama masa pertumbuhan, terutama ketika tanaman memasuki fase pembentukan malai dan pengisian bulir. Jika hujan terlambat dan sumber irigasi tidak mampu memenuhi kebutuhan air, petani berpotensi menunda penanaman atau menghadapi penurunan produktivitas. Risiko ini lebih besar pada lahan yang bergantung pada hujan dibandingkan lahan dengan sistem irigasi yang memadai.
Sekitar 30 persen lahan sawah di Indonesia tidak memiliki akses irigasi yang memadai dan karena itu lebih rentan terhadap kekeringan. Ketika petani menunda tanam, waktu panen juga dapat bergeser dan memengaruhi pasokan beras pada bulan-bulan berikutnya. Namun, besarnya dampak terhadap produksi nasional tetap bergantung pada distribusi hujan, ketersediaan air, dan langkah antisipasi pemerintah.
2. Kakao menghadapi risiko penurunan hasil panen

ilustrasi kakao (pexels.com/Pixabay) Kakao menjadi salah satu komoditas yang perlu diperhatikan karena produksi buahnya sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca. Kekeringan berkepanjangan dapat menghambat perkembangan buah dan mengurangi hasil panen, terutama ketika tanaman tidak memperoleh air yang cukup. Risiko ini penting bagi pasar global karena Pantai Gading dan Ghana di Afrika Barat merupakan produsen kakao utama dunia.
Pada musim panen 2026/2027, produksi kakao Pantai Gading diperkirakan turun sekitar 17 persen akibat kekeringan yang berkaitan dengan El Nino serta berkurangnya penggunaan pupuk dan pestisida. Penurunan produksi dari negara produsen utama dapat memperketat pasokan biji kakao di pasar internasional. Jika permintaan industri cokelat tetap kuat, kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan kenaikan harga kakao.
3. Minyak sawit berpotensi mengalami penurunan produksi

ilustrasi minyak (magnific.com/Mateus Andre) Tanaman kelapa sawit membutuhkan air untuk mendukung pembentukan bunga dan perkembangan tandan buah segar. Kekeringan dapat mengganggu proses tersebut, tetapi dampaknya terhadap jumlah panen sering baru terlihat beberapa bulan setelah tanaman mengalami kekurangan air. Karena itu, pengaruh El Nino terhadap produksi sawit dapat berlanjut bahkan setelah curah hujan kembali membaik.
Indonesia sudah menghadapi gangguan produksi dan distribusi sawit akibat kekeringan di Kalimantan Barat pada Oktober 2026. Kondisi sungai yang menyusut menghambat pengangkutan hasil kebun, sedangkan sebagian pabrik mengalami penumpukan persediaan karena pengiriman minyak sawit terganggu. Asosiasi industri sawit Indonesia juga memangkas perkiraan produksi nasional 2026 sebesar 2,9 persen, sehingga perkembangan cuaca dan distribusi menjadi penting untuk dipantau.
4. Kopi menghadapi risiko gangguan pasokan

ilustrasi biji kopi (pexels.com/1500m coffee) Produksi kopi sangat dipengaruhi oleh pola hujan, suhu, dan kondisi cuaca selama pembungaan hingga pematangan buah. Kekeringan dapat menghambat pembungaan dan perkembangan buah, sedangkan hujan yang datang pada waktu yang tidak tepat dapat mengganggu proses produksi. Dampaknya bisa berbeda antara kopi arabika dan robusta serta bergantung pada kondisi perkebunan di setiap negara.
Brasil menjadi salah satu negara yang perlu diperhatikan karena merupakan produsen kopi utama dunia. Perubahan pola hujan akibat El Nino dapat meningkatkan risiko gangguan produksi, terutama jika kekeringan terjadi di wilayah perkebunan pada fase pertumbuhan yang penting. Jika hasil panen dari negara produsen utama menurun, pasokan global dapat mengetat dan mendorong volatilitas harga kopi.
5. Gula berpotensi terdampak akibat kekeringan

ilustrasi memanen tebu (pexels.com/Karl Ahnee) Tebu membutuhkan air yang cukup untuk mendukung pertumbuhan batang dan pembentukan sukrosa sebagai bahan baku produksi gula. Kekeringan berkepanjangan dapat memperlambat pertumbuhan tanaman dan mengurangi hasil tebu yang dapat diproses oleh pabrik. Jika kondisi tersebut terjadi di wilayah penghasil utama, industri gula dapat menghadapi keterbatasan bahan baku.
Indonesia perlu memantau kondisi perkebunan tebu dan ketersediaan air menjelang musim tanam serta panen berikutnya. Kekeringan dapat mengganggu jadwal tanam dan menekan produktivitas, terutama pada perkebunan yang mengandalkan curah hujan. Meski demikian, dampaknya terhadap produksi gula nasional juga dipengaruhi luas panen, produktivitas tanaman, kondisi pabrik, dan pasokan gula dari sumber lain.
El Nino dapat memengaruhi produksi berbagai komoditas, tetapi dampaknya tidak selalu sama di setiap wilayah atau musim panen. Beras, kakao, sawit, kopi, dan tebu perlu dipantau karena perubahan cuaca dapat mengganggu hasil panen dan menambah ketidakpastian pasokan. Bagi petani, penyesuaian jadwal tanam, pengelolaan air, dan pemilihan varietas yang sesuai menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko, sementara perkembangan produksi dan persediaan perlu diperhatikan untuk menilai potensi perubahan harga.
























