Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Fakta-Fakta Kilang Terbesar Saudi Berhenti Operasi usai Diserang Drone
Limbah minyak terbakar di semenanjung Ras Tanura, Kerajaan Arab Saudi pada 1959. (Tequask, Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0 International, via Wikimedia Commons)
  • Kilang Ras Tanura milik Saudi Aramco dihentikan sementara setelah serangan drone asal Iran memicu kebakaran kecil, namun api berhasil dipadamkan oleh otoritas setempat.
  • Serangan tersebut membuat harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 10 persen karena kekhawatiran gangguan pasokan energi global semakin meningkat.
  • Ketegangan kawasan Timur Tengah makin panas usai Iran membalas operasi militer AS-Israel, dengan indikasi konflik bisa berlangsung beberapa minggu ke depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Saudi Aramco terpaksa menghentikan operasional kilang Ras Tanura untuk sementara waktu setelah adanya serangan drone pada Senin (2/3/2026) waktu setempat.

Mengutip laporan Saudi Press Agency via Bloomberg, puing-puing dari dua pesawat tak berawak milik Iran yang berhasil dicegat memicu kebakaran kecil di lokasi, namun otoritas setempat memastikan api sudah dapat dipadamkan.

Sebagaimana diberitakan NDTV, insiden itu memperparah ketegangan di kawasan. Serangan itu merupakan aksi balasan Teheran atas operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu.

1. Peran krusial Ras Tanura bagi pasokan energi dunia

Ilustrasi Kilang minyak Saudi Aramco (Dok. Aramco)

Fasilitas di pesisir Teluk itu bukan sekadar kilang tertua milik Aramco, melainkan salah satu yang paling canggih di Timur Tengah. Berdasarkan data Reuters, kilang ini mampu mengolah hingga 550 ribu barel minyak mentah dan kondensat setiap harinya.

Selain menjadi pusat produksi solar untuk pasar Eropa dan bensin, kompleks tersebut terintegrasi langsung dengan terminal ekspor minyak mentah terbesar di dunia.

Keberadaan tangki penyimpanan raksasa dan dermaga pemuatan di sana menjadikan Ras Tanura sebagai titik nadi pengiriman energi utama menuju Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat (AS).

2. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam

Ilustrasi inflasi minyak mentah (pexels.com/Michael Pointner)

Serangan tersebut menambah daftar panjang ancaman terhadap keamanan energi global. Sebelumnya, kelompok Houthi juga pernah mengincar fasilitas serupa pada 2021.

Situasi saat ini dinilai lebih sensitif karena aktivitas pelayaran di Selat Hormuz baru saja merosot tajam akibat serangan terhadap kapal-kapal tanker pada 1 Maret. Dampaknya langsung terasa pada pasar keuangan.

Reuters mencatat harga kontrak berjangka minyak mentah Brent meroket sekitar 10 persen pada Senin (2/3/2026). Para investor mulai khawatir akan terjadinya gangguan pasokan yang lebih luas jika konflik terus memanas.

3. Konflik regional diprediksi bakal berlarut

Kepulan asap membubung setelah serangan rudal di Teheran, Iran pada 1 Maret 2026. (ATTA KENARE/AFP)

Ketegangan di Timur Tengah meningkat drastis setelah Teheran membalas serangan AS-Israel dengan meluncurkan ratusan rudal serta drone ke berbagai titik strategis.

Dalam wawancaranya bersama The New York Times, Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal operasi militer ini bisa berlangsung selama empat hingga lima minggu ke depan.

Pernyataan tersebut mengindikasikan ketidakstabilan di kawasan penghasil minyak itu kemungkinan besar masih akan berlanjut dalam waktu dekat.

Editorial Team