Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Fenomena Downgrade yang Makin Sering Terjadi saat Ekonomi Tak Pasti
ilustrasi pasar tradisional (Pexels.com/Rizky Rafael)
  • Di tengah ekonomi tidak pasti, konsumen tetap berbelanja tetapi beralih ke pilihan lebih murah untuk menjaga anggaran tanpa mengorbankan kebutuhan utama.
  • Downgrade terlihat dari perpindahan merek premium ke merek terjangkau, serta pilihan barang bekas, thrift, produk generik, diskon, atau ukuran lebih kecil.
  • Gaya hidup juga dibuat lebih hemat, seperti memilih restoran murah, staycation, dan hiburan di rumah; bisnis perlu memperhatikan harga, manfaat, promosi, serta persepsi nilai.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika kondisi ekonomi terasa tidak pasti, perubahan perilaku konsumen tidak selalu terlihat dalam bentuk berhenti belanja. Banyak orang tetap membeli barang dan jasa, tetapi mulai mengubah kelas pilihan yang mereka ambil. Fenomena ini sering disebut trading down atau downgrade konsumsi. Sederhananya, konsumen tetap memenuhi kebutuhan yang sama, tetapi memilih alternatif yang harganya lebih rendah agar anggaran tetap aman.

Fenomena tersebut semakin menarik karena konsumen tidak selalu memangkas semua pengeluaran. Konsumen justru bisa melakukan penghematan di satu kategori untuk tetap bisa menikmati pengeluaran yang dianggap lebih penting di kategori lain. Lantas, seperti apa bentuk downgrade yang mulai terlihat dalam perilaku konsumsi?

1. Dari merek premium ke merek yang lebih murah

ilustrasi supermarket (Pexels.com/Kenneth Surillo)

Salah satu bentuk downgrade paling mudah terlihat adalah perpindahan dari merek premium ke produk dengan harga yang lebih terjangkau. Misalnya, seseorang yang biasanya membeli sabun cair premium mulai memilih sabun batangan lebih murah. Konsumen yang sebelumnya selalu membeli merek pakaian tertentu bisa beralih ke merek lokal dengan harga lebih rendah. Begitu pula dengan kebutuhan sehari-hari yang mulai dibeli berdasarkan harga, bukan semata-mata loyalitas terhadap merek.

Dilansir Deloitte, dalam survei konsumen Amerika Serikat pada 2025, sebanyak 77 persen responden mengatakan mereka berencana melakukan trading down pada merek dan peritel untuk membuat anggaran belanja lebih tahan lama. Artinya, konsumen sebenarnya belum tentu kehilangan kebutuhan atau keinginan untuk membeli. Mereka tetap berbelanja sesuai kebutuhan, tetapi produk yang dibeli harganya lebih murah asalkan fungsinya tetap sama dengan produk yang biasa dibeli.

2. Dari barang baru ke barang bekas atau alternatif yang lebih ekonomis

ilustrasi ponsel bekas (Pexels.com/Arif Syuhada)

Downgrade juga bisa terjadi pada kualitas atau kondisi barang yang dibeli. Contohnya, seseorang yang sebelumnya selalu membeli ponsel baru ketika ingin mengganti perangkat mulai mempertimbangkan ponsel bekas. Orang yang biasanya membeli pakaian baru bisa memilih thrift, preloved, atau menunda pembelian sampai menemukan diskon.

Perubahan tersebut bukan sekadar soal mencari harga murah. Konsumen mulai menghitung kembali nilai yang diperoleh dibandingkan dengan uang yang dikeluarkan. Trading down tidak selalu berarti membeli produk yang lebih murah dalam kategori yang sama.

Konsumen dapat mengubah jumlah pembelian, mencari diskon, atau menghemat di satu kategori agar memiliki ruang untuk berbelanja di kategori lain. Karena itu, barang bekas, produk generik, private label, atau barang dengan ukuran lebih kecil bisa menjadi pilihan yang semakin menarik ketika konsumen ingin menjaga pengeluaran tanpa sepenuhnya berhenti berbelanja.

3. Dari gaya hidup mahal ke versi yang lebih hemat

ilustrasi staycation (Pexels.com/hello aesthe)

Downgrade tidak hanya terjadi pada barang, tetapi juga pada pengalaman dan gaya hidup. Makan di restoran mahal bisa diganti dengan restoran yang lebih terjangkau. Liburan ke luar kota atau luar negeri bisa diganti dengan staycation. Nongkrong di kafe beberapa kali seminggu bisa dikurangi menjadi sesekali, sementara sebagian kebutuhan hiburan dipindahkan ke rumah.

Jadi, seseorang bisa saja mengurangi frekuensi makan di restoran, tetapi tetap membeli tiket konser yang sudah lama diinginkan. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika ketidakpastian ekonomi meningkat, pola konsumsi pun menjadi semakin fleksibel. Konsumen belajar menyesuaikan standar, merek, jumlah, hingga pengalaman yang mereka beli.

Bagi bisnis, fenomena downgrade ini menjadi sinyal penting. Konsumen mungkin tetap datang, tetapi alasan mereka memilih sebuah produk bisa berubah. Harga, manfaat, ukuran, promosi, dan persepsi nilai menjadi semakin menentukan. Dengan kata lain, di tengah ekonomi yang tidak pasti, konsumen tidak selalu berhenti belanja. Mereka hanya menjadi jauh lebih pintar dalam menentukan apa yang layak dibayar mahal.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article