Ilustrasi tabungan (Pexels/maitree rimthong)
Fenomena multi-income bukan sekedar tren musiman, melainkan mencerminkan cara pandang baru terhadap pekerjaan dan masa depan. Menariknya, pilihan untuk memiliki lebih dari satu sumber pendapatan ini bukan didorong oleh rendahnya pemahaman keuangan, melainkan merupakan keputusan sadar dari generasi yang justru memiliki tingkat literasi keuangan yang tinggi.
Hal tersebut tercermin dalam hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) terhadap 10.800 responden di 34 provinsi. Survei tersebut menunjukkan bahwa kelompok usia 18–25 tahun dan 26–35 tahun memiliki indeks literasi keuangan tertinggi secara nasional, masing-masing sebesar 73,22 persen dan 74,04 persen, melampaui rata-rata nasional yang berada pada angka 66,46 persen. Tingkat inklusi keuangan pada kedua kelompok usia tersebut juga tercatat paling tinggi, yaitu 89,96 persen dan 86,10 persen, dibandingkan rata-rata nasional sebesar 80,51 persen.
IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.
IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.
Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.