Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Emas Turun, Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi?

4 min read
Harga Emas Turun, Apa yang Sebenarnya Sedang Terjadi?
ilustrasi emas (pexels.com/Michael Steinberg)
  • Harga emas spot turun ke sekitar 4.282 ddolar AS per ons pada 24 September 2026, dipicu ekspektasi The Fed kembali menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi.

  • Kenaikan harga minyak dan data ekonomi AS yang kuat memperbesar kekhawatiran inflasi, sehingga pasar menilai suku bunga tinggi dapat bertahan lebih lama.

  • Yield Treasury AS yang meningkat, termasuk tenor lima tahun di atas 5 persen, serta penguatan dolar membuat aset berbunga lebih kompetitif dan emas lebih mahal bagi pembeli luar AS.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Harga emas kembali mendapat tekanan setelah sebelumnya mencatat kenaikan yang sangat tinggi. Pada 24 September 2026, harga spot gold berada di sekitar 4.282 dolar Amerika Serikat (AS) per ons setelah pasar memprediksi bahwa The Fed dapat kembali menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan emas tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan terhadap aset safe haven, tetapi juga oleh kebijakan moneter dan kondisi ekonomi Amerika Serikat.

Kenaikan harga minyak dan data ekonomi AS yang kuat menjadi perhatian utama investor dalam beberapa hari terakhir. Harga minyak yang lebih tinggi dapat menambah tekanan inflasi, sedangkan aktivitas ekonomi yang kuat dapat membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga. Lantas, apa yang sebenarnya sedang terjadi pada harga emas?

  1. 1. Ekspektasi kenaikan suku bunga membuat emas kurang menarik

    ilustrasi suku bunga
    ilustrasi suku bunga (pexels.com/Nataliya Vaitkevich)

    Emas berbeda dari deposito atau obligasi karena aset ini tidak memberikan pembayaran bunga secara berkala. Ketika investor memperkirakan suku bunga akan naik, aset yang memberikan imbal hasil berbasis bunga dapat menjadi lebih menarik dibandingkan emas. Kondisi tersebut dapat mengurangi minat terhadap emas dan memberikan tekanan pada harganya.

    Saat ini, pasar kembali memperkirakan The Fed dapat menaikkan suku bunga untuk mengendalikan tekanan inflasi. Gubernur The Fed Michael Barr juga mengatakan bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan diperlukan untuk membawa inflasi kembali menuju target 2 persen. Perubahan ekspektasi tersebut membuat prospek kebijakan moneter menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan investor emas.

  2. 2. Harga minyak yang tinggi ikut meningkatkan kekhawatiran inflasi

    ilustrasi kapal tanker minyak
    ilustrasi kapal tanker minyak (pexels.com/Zifeng Xiong)

    Kenaikan harga minyak menjadi faktor lain yang sedang diperhatikan pasar. Harga energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi dan produksi sehingga tekanan harga dalam perekonomian dapat bertahan lebih lama. Kondisi tersebut dapat membuat bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama untuk mengendalikan inflasi.

    Situasi tersebut menciptakan hubungan tidak langsung antara minyak dan emas. Ketika minyak naik, pasar dapat memperkirakan inflasi akan lebih sulit turun sehingga peluang kenaikan suku bunga ikut meningkat. Ekspektasi tersebut kemudian dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas.

  3. 3. Yield obligasi AS yang tinggi membuat emas menghadapi pesaing

    ilustrasi bendera Amerika Serikat
    ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Kaboompics)

    Selain suku bunga, investor juga memperhatikan pergerakan Treasury yield atau imbal hasil obligasi pemerintah AS. Pada periode terbaru, yield berbagai tenor Treasury meningkat dan yield lima tahun bahkan melewati 5 persen untuk pertama kalinya sejak 2007. Kenaikan tersebut membuat aset berbasis bunga menjadi semakin kompetitif dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga.

    Yield obligasi juga mencerminkan perubahan ekspektasi investor terhadap suku bunga dan inflasi. Ketika investor memperkirakan suku bunga akan tetap tinggi, permintaan terhadap obligasi dapat berubah dan imbal hasilnya ikut bergerak. Karena itu, pergerakan Treasury yield sering menjadi salah satu indikator penting bagi investor yang mengikuti harga emas.

  4. 4. Dolar AS yang kuat juga bisa menekan harga emas

    ilustrasi dolar Amerika
    ilustrasi dolar Amerika (pexels.com/kaboompics)

    Harga emas dunia umumnya dinyatakan dalam dolar AS sehingga perubahan nilai mata uang tersebut dapat memengaruhi daya tarik emas bagi investor di luar Amerika Serikat. Ketika dolar menguat, emas menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut dapat mengurangi permintaan dan memberikan tekanan terhadap harga emas.

    Dalam beberapa hari terakhir, dolar AS juga menguat seiring meningkatnya ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat. Pergerakan dolar tersebut menambah tekanan yang sudah datang dari kenaikan yield dan perkiraan suku bunga yang lebih tinggi. Karena itu, penurunan emas saat ini lebih tepat dilihat sebagai hasil dari beberapa faktor yang saling berkaitan, bukan hanya akibat perubahan sentimen terhadap emas.

    Pergerakan harga emas saat ini menunjukkan bahwa statusnya sebagai aset safe haven tidak membuat harganya selalu naik ketika ketidakpastian meningkat. Investor tetap mempertimbangkan suku bunga, inflasi, yield obligasi, dan nilai dolar ketika menentukan posisi di pasar emas. Bagi kita yang mengikuti harga emas, memahami hubungan antar faktor tersebut dapat membantu kita melihat pergerakan harga dengan bijak daripada hanya memperhatikan kenaikan atau penurunannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More