Harga Minyak Turun ke Level Terendah dalam Tiga Bulan

- Harga minyak dunia turun ke level terendah tiga bulan, dengan Brent di 82,13 dolar AS dan WTI di bawah 80 dolar AS per barel akibat ketidakpastian geopolitik.
- AS dan Iran mencapai kesepakatan sementara mencakup gencatan senjata 60 hari serta pembukaan kembali Selat Hormuz, dengan penandatanganan resmi dijadwalkan di Jenewa.
- Industri pelayaran menyambut positif perdamaian namun tetap berhati-hati, menunggu kondisi aman sebelum kembali beroperasi penuh di Selat Hormuz yang vital bagi pasokan minyak global.
Jakarta, IDN Times - Harga minyak dunia turun ke level terendah dalam tiga bulan pada perdagangan Selasa (16/6/2026). Hal itu terjadi di tengah penantian pelaku pasar terhadap rincian lebih lanjut terkait kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Dilansir CNBC, kontrak berjangka minyak mentah Brent yang menjadi acuan global turun 1,25 persen menjadi 82,13 dolar AS per barel pada pukul 04.00 waktu setempat.
Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juli turun 1,41 persen ke level 79,67 dolar AS per barel atau kembali berada di bawah 80 dolar AS per barel.
1. Pasar masih menunggu rincian kesepakatan perdamaian

Harga minyak sempat bergerak menguat tipis pada perdagangan semalam sebelum kembali terkoreksi. Pada sesi sebelumnya, harga minyak juga sempat menyentuh posisi terendah sejak 4 Maret.
Pergerakan harga yang berfluktuasi tersebut terjadi seiring masih adanya ketidakpastian mengenai isi lengkap kerangka perdamaian yang telah disepakati oleh AS dan Iran.
Upaya penyelesaian konflik tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan para pemimpin negara G7 di Évian-les-Bains, Prancis. Rincian nota kesepahaman antara kedua negara diperkirakan akan diumumkan pada pekan ini.
2. AS dan Iran capai kesepakatan sementara

Sebelumnya, Washington dan Teheran mencapai kesepakatan sementara pada Minggu yang mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari serta pembukaan kembali Selat Hormuz untuk seluruh aktivitas pelayaran.
Dalam pertemuan G7, Presiden AS Donald Trump menyampaikan kerangka perdamaian dengan Iran telah ditandatangani. Dia juga menyatakan Selat Hormuz akan kembali dibuka sepenuhnya pada Jumat dan tidak lagi dikenakan pungutan oleh Iran.
Trump mengatakan, penandatanganan resmi kesepakatan tersebut dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada Jumat.
3. Industri pelayaran masih menunggu kondisi benar-benar pulih

Perusahaan pelayaran kontainer asal Jerman Hapag-Lloyd menyambut positif prospek tercapainya perdamaian dan berakhirnya aktivitas militer di kawasan Timur Tengah.
“Kami berharap empat kapal kami yang masih tersisa dapat melintasi Selat Hormuz akhir pekan ini," kata Hapag-Lloyd dalam sebuah pernyataan.
Meski demikian, proses normalisasi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dinilai masih memerlukan waktu. Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, jalur tersebut menjadi lintasan bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Chief Executive Officer (CEO) Mitsui OSK Lines, Jotaro Tamura, mengatakan, sebagian operator kapal tanker kemungkinan masih akan menunggu beberapa pekan sebelum kembali mengizinkan armadanya melintasi Selat Hormuz.
“Yang diperlukan bukan hanya sekadar kesepakatan sederhana antara negara-negara terkait, tetapi juga harus diwujudkan secara nyata dalam situasi di Selat Hormuz, sehingga perusahaan pelayaran merasa cukup aman dan nyaman untuk kembali melintas,” ujar Tamura.


















