ilustrasi investasi (magnific.com/rawpixel.com)
Sementara itu, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun pada semester I-2026. Nilai tersebut menyumbang 29,7 persen terhadap total realisasi investasi pada periode yang sama dan tumbuh 6,9 persen secara tahunan.
Hilirisasi juga telah meningkatkan nilai tambah sejumlah komoditas. Ekspor nikel mencapai 34 miliar dolar AS pada 2025, meningkat 26 kali lipat dibandingkan 2016 yang sebesar 1,3 miliar dolar AS.
Jumlah produk turunan kelapa sawit juga terus meningkat. Pada 2025, jumlahnya mencapai 208 produk, atau 3,9 kali lipat dibandingkan 2015 yang sebanyak 54 produk. Adapun ekspor kelapa mencapai 2,39 miliar dolar AS pada 2025, tumbuh 49,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tentu kami juga melihat bahwa hilirisasi bukan hanya mineral, tetapi komoditas-komoditas sumber daya alam yang renewable juga,” tutur Airlangga.
Dari sisi wilayah, Airlangga menyebut investasi sektor manufaktur masih terkonsentrasi di Jawa. Sementara itu, investasi berbasis komoditas SDA lebih banyak berkembang di luar Jawa.
Menurutnya, peningkatan hilirisasi turut mendorong pertumbuhan ekonomi di sejumlah wilayah, terutama Sulawesi, Maluku, serta Papua. Bahkan, beberapa wilayah tersebut mampu mencatat pertumbuhan ekonomi dua digit.
“Kita lihat bahwa investasi terutama berbasis nikel di Sulawesi Tengah itu sudah mencapai Rp56,1 triliun, di Maluku Rp53,9 triliun dan ini menumbuhkan pertumbuhan baru. Sebagai contoh di Maluku Utara jumlah pekerjanya pun sudah lebih dari 25 ribu di salah satu kawasan,” ucap Airlangga.