Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Hilirisasi Dongkrak Pangsa Nikel Olahan RI Kuasai 41 Persen Dunia

4 min read
Hilirisasi Dongkrak Pangsa Nikel Olahan RI Kuasai 41 Persen Dunia
ilustrasi hilirisasi area pertambangan (Unsplash.com/Dominik Vanyi)
  • Produksi nikel olahan Indonesia melonjak dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023, dengan pangsa global naik menjadi 41 persen.
  • Hilirisasi dan larangan ekspor bijih mendorong investasi, ekspor, penerimaan negara, serta lapangan kerja, namun produksi perlu dikendalikan agar harga terjaga dan smelter tetap mendapat bahan baku.
  • Tahap berikutnya menargetkan penguasaan teknologi, pemasok domestik, tenaga kerja, dan rantai baterai seperti HPAL hingga daur ulang untuk memperbesar nilai tambah nasional.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Ekonom menilai keberhasilan Indonesia menjadi produsen nikel olahan terbesar dunia dengan pangsa sekitar 41 persen menunjukkan perubahan signifikan dalam struktur industri nasional.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, kebijakan hilirisasi yang konsisten telah mengubah posisi Indonesia dari eksportir bijih nikel menjadi salah satu pusat produksi nikel olahan dunia.

"Indonesia juga telah berubah dari pengekspor bijih menjadi pusat produksi olahan," kata Yusuf, Senin (28/9/2026).

  1. 1. Produksi nikel olahan Indonesia naik lebih dari 60 kali lipat

    Ilustrasi Tambang Nikel.
    Ilustrasi Tambang Nikel. (IDN Times/Anjani Asra)

    Berdasarkan data Our World in Data yang bersumber dari British Geological Survey, produksi nikel olahan Indonesia meningkat lebih dari 60 kali lipat, dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023. Pangsa Indonesia terhadap produksi nikel olahan dunia pun meningkat dari sekitar 1 persen menjadi 41 persen dan membuat Indonesia menggeser China sebagai produsen terbesar.

    Menurut Yusuf, peningkatan tersebut menunjukkan larangan ekspor bijih nikel telah mendorong investasi fasilitas pengolahan sekaligus meningkatkan kapasitas industri di dalam negeri. Besarnya pangsa produksi Indonesia juga memberikan posisi tawar yang lebih kuat di pasar global. Namun, menurut Yusuf, capaian tersebut perlu diikuti dengan pengelolaan produksi yang tepat, termasuk melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).

    "Pengurangan volume dapat meningkatkan penerimaan negara jika mampu mengangkat harga, tetapi kuota tidak boleh terlalu ketat hingga smelter kekurangan bahan baku," ujarnya.

  2. 2. Pengendalian produksi juga diperlukan untuk jaga keseimbangan pasokan dan permintaan

    Ilustrasi Nikel.
    Ilustrasi Nikel. (IDN Times/Anjani Asra)

    Yusuf mengatakan, pengendalian produksi diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Di sisi lain, pemerintah perlu memastikan ketersediaan bahan baku bagi smelter agar kapasitas pengolahan di dalam negeri tetap optimal. Menurut dia, manfaat hilirisasi juga mulai terlihat dari peningkatan investasi, ekspor, penerimaan negara hingga penciptaan lapangan kerja di kawasan industri.

    Namun, penguatan industri nikel tidak cukup hanya dengan meningkatkan volume produksi. Indonesia perlu memperkuat teknologi, memperluas pasar, menjaga harga serta memastikan porsi nilai tambah yang dinikmati di dalam negeri semakin besar.

    "Pangsa 41 persen merupakan modal tawar yang besar, tetapi baru menjadi kekuatan ekonomi jika Indonesia menguasai teknologi, memperluas pembeli, menjaga harga, dan mempertahankan lebih banyak nilai tambah di dalam negeri," kata Yusuf.

  3. 3. Hilirisasi masuk tahap berikutnya

    Ilustrasi bijih nikel (pexels.com/Paul Seling)
    Ilustrasi bijih nikel (pexels.com/Paul Seling)

    Analis senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution Ronny P. Sasmita menilai perkembangan produksi nikel olahan menunjukkan terjadinya transformasi struktural dalam industri nasional. Mengacu pada data Our World in Data berbasis British Geological Survey, Ronny menyebut produksi nikel olahan Indonesia melonjak dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023.

    "Jadi, kalau parameternya adalah kemampuan mengubah bijih menjadi produk olahan di dalam negeri, hilirisasi jelas menghasilkan transformasi struktural," ujar Ronny.

    Selain produksi, investasi di sektor hilirisasi juga terus meningkat. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi hilirisasi pada semester I 2026 mencapai Rp300,1 triliun atau 29,7 persen dari total investasi nasional. Angka tersebut meningkat 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, sepanjang 2025, investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun.

    Ronny mengatakan, masuknya investasi tersebut menciptakan efek berganda melalui pembangunan kapasitas industri, penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai ekspor, serta semakin dalamnya basis manufaktur nasional. Ke depan, manfaat tersebut dinilai masih dapat diperbesar melalui transfer teknologi, peningkatan keterlibatan pemasok domestik, penguatan kualitas tenaga kerja serta peningkatan penerimaan negara.

    Menurut Ronny, posisi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dapat menjadi fondasi untuk membawa kebijakan hilirisasi ke tahap deep industrialization. Pengembangan teknologi seperti high pressure acid leach (HPAL), nickel sulphate, precursor, cathode active material, recycling hingga industri baterai menjadi bagian penting untuk memperbesar nilai tambah di dalam negeri.

    "Gelar 'raja nikel' baru merupakan babak pertama. Babak keduanya jauh lebih penting, apakah Indonesia hanya menjadi negara dengan produksi nikel terbesar, atau benar-benar menjadi negara yang paling besar menikmati nilai ekonomi, teknologi dan kekuatan industri dari nikelnya," ujar Ronny.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More