Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (IDN Times/Ridwan Aji Pitoko)
Koreksi tajam IHSG pada sesi siang ini, salah satunya akibat keputusan Moody's Ratings menetapkan peringkat Baa2 untuk Danantara Investment Management (DIM), dengan outlook negatif. Selain itu, melemahnya rupiah juga menghambat gerak IHSG.
"Selain pelemahan rupiah terhadap dolar AS yang menyentuh level 17.922 saat ini, adapun penyusutan surplus neraca perdagangan per April 2026 pada 89,1 juta dolar AS sebagai level terendah dalam enam tahun terakhir, menunjukkan adanya perlambatan dari kontribusi sektor eksternal dan menjadi penahan laju penguatan IHSG," kata Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M Nafan Aji Gusta, Rabu (3/6/2026).
Di sisi lain, dia menambahkan, para pelaku pasar mulai mencermati dan bersiap menghadapi volatilitas baru dari sentimen rebalancing indeks FTSE Russell yang dijadwalkan efektif pada 22 Juni 2026.
Sementara dari global, faktor ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat dalam beberapa pekan terakhir serta operasi militer Israel di Lebanon, mengancam gencatan senjata di antara berbagai pihak yang bertikai tersebut. Di sisi lain, tambah dia, perilisan US Nonfarm Payrolls per Mei pada akhir pekan ini juga dinantikan karena akan mempengaruhi ekspektasi arah suku bunga The Fed ke depannya.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan menuturkan, tekanan berasal dari capital outflow terkait rebalancing MSCI, defisit transaksi berjalan kuartal I 2026 sebesar 4 miliar dolar AS atau setara 1,09 persen PDB, permintaan valas musiman untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri pada kuartal II.
"Serta penguatan dolar AS akibat sikap hawkish The Fed," dalam keterangannya, dikutip Rabu (3/6/2026).