Isu MSCI dan Konflik Geopolitik Tekan Rupiah ke Rp18.027

Rupiah melemah ke Rp18.027 per dolar AS setelah tertekan isu penurunan status pasar Indonesia oleh MSCI dan konflik geopolitik.
MSCI menyoroti tata kelola pasar serta dugaan praktik perdagangan terkoordinasi, dengan keputusan akhir dijadwalkan pada 30 Juni 2027.
Rupiah diperkirakan tetap fluktuatif dan cenderung melemah pada perdagangan Senin serta sepanjang pekan depan.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat (16/10/2026). Mata uang Garuda melemah ke level Rp18.027 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 89 poin atau 0,50 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.938 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat melemah hingga 140 poin.
1. Rencana penurunan status pasar oleh MSCI
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti MSCI Inc yang mengusulkan penurunan status pasar saham Indonesia menjadi standalone market karena persoalan tata kelola pasar serta dugaan praktik perdagangan yang dilakukan secara terkoordinasi.
Keputusan akhir mengenai usulan tersebut dijadwalkan pada 30 Juni 2027. Meski Indonesia telah melakukan berbagai pembenahan, MSCI masih menilai penegakan aturan di pasar saham belum cukup kuat dan terdapat masalah dalam mekanisme pasar.
Penurunan status pasar Indonesia berpotensi memicu keluarnya modal asing. Hal itu karena pengelola investasi aktif kemungkinan mengurangi kepemilikan aset di Indonesia agar portofolio mereka tetap sesuai dengan indeks acuan atau benchmark yang digunakan.
Jika terjadi penarikan modal asing dalam jumlah besar, nilai tukar rupiah berisiko melemah lebih dalam. Kondisi tersebut juga dapat mengurangi likuiditas di pasar keuangan domestik.
"Likuidasi besar-besaran berisiko melemahkan nilai tukar rupiah secara signifikan dan menguras likuiditas pasar," kata Ibrahim.
2. Sanksi minyak AS dan konflik Timur Tengah
Ibrahim menjelaskan tekanan terhadap pasar global juga datang dari kebijakan pemerintah AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan pencabutan sanksi terhadap sejumlah kapal yang tergabung dalam shadow fleet atau armada bayangan. Armada ini merujuk pada kapal-kapal yang mengangkut minyak dari Rusia, Iran, dan Venezuela.
Langkah tersebut dipertimbangkan untuk menurunkan biaya pengiriman minyak global yang telah mencapai rekor tertinggi. Pembahasan itu berlangsung beberapa hari setelah Trump untuk sementara mencabut sanksi terhadap bahan bakar diesel asal Rusia. Kebijakan tersebut menuai kritik dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy, sejumlah negara Eropa, serta sekutu Trump di Senat AS.
"Sementara itu, eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman, ditambah dengan serangkaian serangan baru terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut, turut menopang harga," tuturnya.
Serangan baru terhadap kapal-kapal di kawasan perairan juga meningkat tajam dalam 10 hari terakhir. Iran menyatakan peningkatan serangan tersebut merupakan respons terhadap blokade AS di pelabuhan-pelabuhan Iran dan penerapan sanksi ketat pada bulan sebelumnya.
Pada Kamis, kelompok Houthi meluncurkan rudal ke kompleks istana kepresidenan di Aden, Yaman selatan. Serangan itu menewaskan dua penjaga. Sementara itu, koalisi yang dipimpin Arab Saudi melaporkan puluhan serangan yang menyasar infrastruktur di wilayah Arab Saudi.
3. Proyeksi pergerakan rupiah pekan depan
Untuk perdagangan Senin (19/10/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Rupiah diproyeksikan ditutup pada kisaran Rp18.020 hingga Rp18.070 per dolar AS.
Sementara itu, untuk perdagangan sepanjang pekan depan, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp18.200 per dolar AS.

















