Ibrahim menjelaskan tekanan terhadap pasar global juga datang dari kebijakan pemerintah AS dan meningkatnya ketegangan geopolitik.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan pencabutan sanksi terhadap sejumlah kapal yang tergabung dalam shadow fleet atau armada bayangan. Armada ini merujuk pada kapal-kapal yang mengangkut minyak dari Rusia, Iran, dan Venezuela.
Langkah tersebut dipertimbangkan untuk menurunkan biaya pengiriman minyak global yang telah mencapai rekor tertinggi. Pembahasan itu berlangsung beberapa hari setelah Trump untuk sementara mencabut sanksi terhadap bahan bakar diesel asal Rusia. Kebijakan tersebut menuai kritik dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy, sejumlah negara Eropa, serta sekutu Trump di Senat AS.
"Sementara itu, eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman, ditambah dengan serangkaian serangan baru terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut, turut menopang harga," tuturnya.
Serangan baru terhadap kapal-kapal di kawasan perairan juga meningkat tajam dalam 10 hari terakhir. Iran menyatakan peningkatan serangan tersebut merupakan respons terhadap blokade AS di pelabuhan-pelabuhan Iran dan penerapan sanksi ketat pada bulan sebelumnya.
Pada Kamis, kelompok Houthi meluncurkan rudal ke kompleks istana kepresidenan di Aden, Yaman selatan. Serangan itu menewaskan dua penjaga. Sementara itu, koalisi yang dipimpin Arab Saudi melaporkan puluhan serangan yang menyasar infrastruktur di wilayah Arab Saudi.