Trump Kritik MA AS, Tetap Bela Tarif di Pidato Tahunan

- Dalam pidato State of the Union, Trump mengkritik Mahkamah Agung atas pembatalan tarif “blanket” dan menegaskan kebijakan tarifnya akan tetap dipertahankan tanpa perubahan besar.
- Dukungan publik terhadap kebijakan tarif melemah, dengan mayoritas warga Amerika dalam berbagai survei menyatakan ketidaksetujuan terhadap cara Trump menangani isu ekonomi dan inflasi.
- Kongres menghadapi perdebatan bipartisan terkait masa depan tarif global 10 persen, sementara peluang untuk mencapai konsensus legislatif dinilai masih kecil.
Jakarta, IDN Times — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kritik tajam terhadap Mahkamah Agung AS dalam pidato State of the Union pada Selasa (24/2/2026) malam waktu setempat. Dalam kesempatan itu, ia tetap membela kebijakan tarifnya dan menegaskan tidak akan ada perubahan kebijakan dalam waktu dekat.
Momen tersebut menjadi sorotan karena berlangsung hanya beberapa hari setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif “blanket” yang menjadi inti agenda perdagangan Trump. Sejumlah hakim yang terlibat dalam putusan itu hadir langsung di ruang sidang saat pidato berlangsung.
1. Trump sebut putusan MA ‘sangat disayangkan’

Dalam pidatonya, Trump mengecam putusan pengadilan dan menyebutnya sebagai “keterlibatan Mahkamah Agung yang sangat disayangkan.”
Ketua Mahkamah Agung John Roberts, Hakim Elena Kagan, dan Hakim Amy Coney Barrett yang termasuk dalam mayoritas putusan hadir di ruangan. Hakim Brett Kavanaugh, yang menyatakan dissent dan berpendapat tarif seharusnya dipertahankan, juga hadir.
Trump menegaskan bahwa tindakan Kongres tidak diperlukan untuk mempertahankan tarifnya. Ia bahkan menyatakan bea masuk tersebut pada akhirnya akan “secara substansial menggantikan sistem pajak penghasilan modern, sehingga meringankan beban keuangan besar dari orang-orang yang saya cintai.”
Dilansir Yahoo Finance, data menunjukkan bahwa pendapatan dari tarif sejauh ini hanya menyumbang sebagian kecil dari penerimaan pajak penghasilan, yakni sekitar 30 miliar dolar AS per bulan dalam beberapa bulan terakhir.
Trump juga menyatakan dalam pidatonya bahwa “kesepakatan semuanya sudah selesai.”
2. Dukungan publik terhadap tarif melemah

Pidato tersebut berlangsung di tengah penurunan dukungan publik terhadap kebijakan tarif. Jajak pendapat menunjukkan mayoritas warga Amerika tidak menyetujui penanganan tarif oleh Trump.
Survei ABC News/Washington Post/Ipsos menemukan 64 persen warga Amerika tidak menyetujui cara Trump menangani tarif, sementara 34 persen menyatakan setuju.
Rata-rata jajak pendapat ekonomi yang dihimpun RealClearPolitics menunjukkan 40,8 persen warga menyetujui kinerja ekonomi Trump, sementara 55,6 persen tidak menyetujui. Angka terkait inflasi disebut lebih rendah lagi.
Survei CNN mencatat hanya 32 persen warga Amerika menilai Trump memiliki prioritas yang tepat, dengan tingkat persetujuan keseluruhan sebesar 36 persen.
Dalam Marist Poll terbaru, 57 persen responden menyatakan kondisi negara “tidak terlalu kuat” atau “tidak kuat sama sekali.”
Dalam pidatonya, Trump tetap mengklaim harga-harga sedang turun dan berjanji mengambil langkah baru untuk mengatasi kekhawatiran daya beli masyarakat. Ia juga mengatakan, “Kita menang begitu banyak sampai kita tidak tahu harus berbuat apa.”
3. Tantangan di Kongres soal tarif

Di tingkat legislatif, terdapat suara bipartisan di DPR dan Senat yang menentang tarif Trump. Partai Demokrat juga berjanji akan memblokir perpanjangan tarif global 10 persen ketika kebijakan tersebut ditinjau Kongres dalam 150 hari ke depan.
Namun, kecil kemungkinan Kongres mampu sepenuhnya menghentikan kebijakan tarif baru. Di sisi lain, Gedung Putih juga dinilai sulit memperoleh dukungan luas dari anggota parlemen.
“Saya kira akan menjadi tantangan untuk menemukan konsensus mengenai langkah ke depan terkait tarif di sisi legislatif,” ujar Ketua DPR Mike Johnson kepada wartawan, dikutip Rabu (25/2/2026)
Sementara itu, anggota DPR dari Partai Republik asal New York, Mike Lawler, yang sebelumnya menolak resolusi untuk mengecam tarif Kanada, menyatakan, “Jadi pertanyaan ke depan adalah bagaimana bekerja sama dengan pemerintahan dari tingkat kongres untuk menyusun rencana yang tepat ke depan.”
Ia menambahkan, “Tarif adalah alat untuk memaksa renegosiasi perdagangan,” dan menegaskan, “Kita telah melihatnya.”
Pidato State of the Union kali ini memperlihatkan sikap tegas Trump dalam mempertahankan kebijakan tarif meski Mahkamah Agung telah membatalkan sebagian kebijakan sebelumnya. Di tengah pelemahan dukungan publik dan perdebatan di Kongres, arah kebijakan perdagangan AS tetap menjadi isu utama menjelang pemilu sela November.


















