Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Karyawan Korea Selatan Kerja 501 Jam Lebih Lama daripada Jerman
ilustrasi stasiun subway di Korea Selatan (pexels.com/Huy Phan)
  • Data OECD menunjukkan pekerja Korea Selatan bekerja rata-rata 1.833 jam per tahun, sekitar 501 jam lebih lama dibandingkan Jerman yang hanya 1.332 jam.
  • Meski masih tinggi dibanding negara maju lain, jam kerja di Korea Selatan terus menurun berkat kebijakan seperti pembatasan 52 jam per minggu dan sistem lima hari kerja.
  • Pemerintah menargetkan rata-rata jam kerja turun ke kisaran 1.700 jam pada 2030 melalui inisiatif seperti sistem kerja 4,5 hari dan aturan 'No KakaoTalk After Work'.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Banyak orang menganggap negara maju identik dengan jam kerja yang lebih singkat dan keseimbangan hidup yang lebih baik. Namun, anggapan itu belum sepenuhnya berlaku di Korea Selatan.

Data terbaru dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan bahwa pekerja di Korea Selatan masih menghabiskan waktu bekerja jauh lebih lama dibandingkan sebagian besar negara maju lainnya. Bahkan, rata-rata jam kerja mereka mencapai 501 jam lebih banyak dalam setahun dibandingkan pekerja di Jerman.

Meski begitu, tren positif mulai terlihat karena jam kerja di Korea Selatan terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah pun kini menyiapkan berbagai kebijakan agar masyarakat bisa menikmati kehidupan kerja yang lebih seimbang tanpa mengurangi produktivitas.

1. Karyawan Korea Selatan masih bekerja lebih lama daripada rata-rata OECD

ilustrasi market atau pasar di Korea Selatan, bisnis, penduduk lokal Korea Selatan (pexels.com/Luiz M)

Data OECD menunjukkan bahwa rata-rata pekerja di Korea Selatan bekerja selama 1.833 jam dalam setahun. Angka tersebut menempatkan Korea Selatan di peringkat keenam negara dengan jam kerja tahunan terpanjang di antara negara-negara anggota OECD. Sementara itu, rata-rata jam kerja seluruh anggota OECD berada di angka 1.736 jam per tahun, sehingga pekerja Korea Selatan masih bekerja sekitar 97 jam lebih lama. Menurut OECD, angka tersebut dihitung berdasarkan total jam kerja yang benar-benar dilakukan pekerja selama satu tahun, kemudian dibagi dengan rata-rata jumlah orang yang bekerja pada periode tersebut.

Meski tergolong tinggi, Korea Selatan bukanlah negara dengan jam kerja terpanjang. Posisi pertama masih ditempati Meksiko dengan rata-rata 2.205 jam per tahun, diikuti Kosta Rika, Chile, Yunani, dan Israel. Data ini menunjukkan bahwa budaya kerja dengan jam panjang masih ditemukan di sejumlah negara, meskipun tren global mulai mengarah pada keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Dibandingkan rata-rata negara maju lainnya, Korea Selatan masih memiliki tantangan untuk menurunkan beban jam kerja para karyawannya.

2. Selisih dengan Jerman setara sekitar 63 hari kerja

ilustrasi kerja lembur (magnific.com/tirachardz)

Perbedaan paling mencolok terlihat ketika Korea Selatan dibandingkan dengan Jerman. Rata-rata pekerja di Jerman hanya bekerja sekitar 1.332 jam dalam setahun. Artinya, pekerja Korea Selatan menghabiskan waktu bekerja 501 jam lebih lama setiap tahunnya.

Kalau dihitung menggunakan standar delapan jam kerja per hari, selisih tersebut setara dengan sekitar 63 hari kerja tambahan dalam satu tahun. Bayangkan saja, ketika banyak pekerja di Jerman memiliki lebih banyak waktu untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, atau menjalankan hobi, pekerja Korea Selatan masih harus menghabiskan waktu di tempat kerja. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa kebijakan ketenagakerjaan dan budaya kerja memiliki pengaruh besar terhadap kualitas hidup masyarakat di masing-masing negara.

3. Dibanding negara maju lain, jam kerja Korea Selatan juga masih tinggi

ilustrasi pekerja kantoran di Jepang (pexels.com/Kuan-yu Huang)

Bukan hanya dibandingkan dengan Jerman, jam kerja Korea Selatan juga masih lebih panjang daripada sejumlah negara maju lainnya. Rata-rata pekerja di Amerika Serikat bekerja sekitar 1.800 jam per tahun, Australia 1.633 jam, Jepang 1.598 jam, dan Inggris 1.533 jam. Perbandingan ini menunjukkan bahwa Korea Selatan masih berada di atas sebagian besar negara maju dalam hal total jam kerja tahunan.

Kondisi tersebut membuat isu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi atau work-life balance masih menjadi perhatian besar. Jam kerja yang panjang berpotensi mengurangi waktu untuk beristirahat, menghabiskan waktu bersama keluarga, maupun melakukan aktivitas di luar pekerjaan. Karena itulah pemerintah Korea Selatan terus berupaya mencari keseimbangan agar produktivitas tetap terjaga tanpa membuat pekerja harus mengorbankan waktu pribadinya.

4. Jam kerja terus menurun berkat berbagai kebijakan

ilustrasi street food di Korea Selatan, bisnis kuliner, pekerja di Korea Selatan (pexels.com/Theodore Nguyen)

Walaupun masih tergolong tinggi, rata-rata jam kerja di Korea Selatan sebenarnya terus mengalami penurunan selama lebih dari satu dekade terakhir. Pada 2010, rata-rata jam kerja tahunan masih mencapai 2.163 jam. Angka tersebut kemudian turun menjadi 2.082 jam pada 2015 dan akhirnya berada di bawah 2.000 jam untuk pertama kalinya pada 2018 setelah diberlakukannya pembatasan maksimal 52 jam kerja per minggu.

Berdasarkan data terbaru, rata-rata jam kerja pada tahun lalu turun menjadi 1.833 jam atau 32 jam lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1.865 jam. Menurut laporan Yonhap News, penurunan ini menunjukkan bahwa berbagai kebijakan pemerintah mulai memberikan dampak nyata, termasuk penerapan sistem lima hari kerja dan perluasan hari libur pengganti. Walaupun demikian, jam kerja masyarakat Korea Selatan masih berada di atas rata-rata OECD sehingga upaya perbaikannya masih terus berlanjut.

5. Pemerintah menargetkan jam kerja turun hingga kisaran 1.700 jam

ilustrasi street food di Korea Selatan, bisnis kuliner, penduduk lokal Korea Selatan (pexels.com/Tyler Wang)

Pemerintah Korea Selatan memiliki target untuk menurunkan rata-rata jam kerja tahunan ke kisaran 1.700 jam pada tahun 2030 agar lebih mendekati rata-rata negara-negara OECD. Salah satu langkah yang sedang dipersiapkan adalah penerapan sistem kerja 4,5 hari dalam seminggu. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan waktu istirahat yang lebih banyak tanpa mengurangi daya saing ekonomi negara.

Selain itu, pemerintah juga mengeluarkan pedoman untuk mencegah penyalahgunaan sistem kontrak upah yang berpotensi membuat lembur gak dibayar. Di sisi lain, pemerintah turut mendorong pembahasan aturan yang dikenal sebagai "No KakaoTalk After Work", yaitu kebijakan untuk mengurangi pengiriman pesan pekerjaan setelah jam kantor berakhir. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu pekerja benar-benar menikmati waktu istirahat dan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi.

Data terbaru menunjukkan bahwa pekerja Korea Selatan masih memiliki jam kerja yang jauh lebih panjang dibandingkan sebagian besar negara maju, termasuk Jerman yang memiliki selisih hingga 501 jam per tahun. Di sisi lain, tren penurunan jam kerja terus berlangsung berkat berbagai kebijakan yang diterapkan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir.

Target untuk menurunkan jam kerja hingga mendekati rata-rata OECD pada 2030 menjadi sinyal bahwa Korea Selatan ingin membangun lingkungan kerja yang lebih sehat sekaligus tetap produktif. Bagi kamu, fakta ini menunjukkan bahwa produktivitas gak selalu harus dicapai dengan bekerja lebih lama, tapi juga melalui kebijakan yang mampu menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article