SANARA (Sustainability Network of Nusantara) resmi diluncurkan di New York. (Dok. SANARA)
Diskusi juga menyoroti realitas di lapangan, terutama terkait kesiapan daerah dan pelaku usaha dalam menyerap investasi hijau.
Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York, Tessal Maharizky Febrian, menyebut Indonesia sebenarnya telah mengalami kemajuan regulasi. “Kita perlu berada di halaman yang sama. Indonesia sangat prospektif, dan ini adalah waktu yang tepat,” ujarnya.
Namun, Ketua HIPMI Institute, Rizka Gita Miranti, mengingatkan masih ada kesenjangan besar di tingkat pelaku usaha. “Peluang untuk keberlanjutan sangat besar, namun kenyataan pahitnya adalah banyak wirausahawan lokal, terutama di luar Jakarta, mungkin belum siap,” katanya.
Ia menegaskan organisasinya berupaya menjembatani kesenjangan tersebut melalui pengembangan kapasitas dan program kesiapan investasi.
Sementara itu, perwakilan Indonesia Financial Group, Yemima Silitonga, menyoroti pentingnya keselarasan antara proyek dan investor. “Tidak semua modal itu sama,” ujarnya.
“Tantangannya bukan hanya menarik investor, tapi menemukan keselarasan antara proyek kita dan tujuan mereka,” tambahnya.
Forum ini juga memberikan penghargaan kepada delegasi Pemerintah Kota Makassar sebagai pemenang program RISE dari World Resources Institute, sebagai bukti diskusi global memiliki dampak nyata hingga ke daerah.
Sebagai informasi, SANARA merupakan komunitas yang beranggotakan lebih dari 180 profesional muda dan mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat. Organisasi ini berafiliasi dengan sejumlah kampus ternama seperti Columbia, Stanford, Cornell, dan Carnegie Mellon, serta berfokus pada pengembangan jejaring dan kolaborasi di bidang keberlanjutan.