Jakarta, IDN Times – Perselisihan pasokan diesel dunia memanas setelah Amerika Serikat (AS) mengancam menghentikan ekspor bahan bakar tersebut jika Eropa tak melepas stok daruratnya. Pada Jumat (2/10/2026), ancaman itu muncul ketika harga bahan bakar global melonjak akibat perang di Iran. Uni Eropa (UE) pun menolak tekanan dari Washington.
Juru bicara Komisi Eropa Anna-Kaisa Itkonen menyebut langkah sepihak AS justru berpotensi merugikan kedua pihak.
“Kami sepenuhnya menolak larangan diesel. Larangan tidak akan menguntungkan siapa pun. Itu akan merusak kepercayaan kami pada AS sebagai mitra yang dapat diandalkan,” katanya, dikutip France 24.
Tekanan terhadap pasokan semakin rumit karena harga global turut terdorong penutupan Selat Hormuz, larangan ekspor dari Rusia, serta serangan terhadap sejumlah kilang di negara tersebut. Berdasarkan informasi BBC, AS memiliki peran penting di pasar dunia dengan ekspor sekitar 1,2-1,5 juta barel per hari, sementara Prancis, Belanda, dan Inggris masih bergantung dalam jumlah signifikan pada pasokan diesel dari negara tersebut.
