Kontribusi Remitansi Pekerja Migran ke PDB Capai 0,8-1,07 Persen

Jakarta, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, pekerja migran berkontribusi terhadap penurunan angka kemiskinan. Hal itu karena proporsi pengiriman uang atau remitansi dari mereka dalam lima tahun terakhir mencapai 0,8 hingga 1,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengatakan, uang yang dikirimkan oleh pekerja migran ke keluarganya di desa akan mendorong kesejahteraan penduduk, terutama di wilayah pekerja migran itu berasal.
“Dalam lima tahun terakhir, proporsi remitansi terhadap PDB nasional ternyata meningkat dari 0,8 persen sampai 1,07 persen,” tutur Amalia dikutip, Kamis (21/12/2023).
1. Pendapatan masyarakat naik 500 persen ketika pindah ke Amerika Serikat

Ia mencontohkan, berdasarkan laporan Bank Dunia untuk kategori low skilled migrant, warga Indonesia yang bermigrasi ke Amerika Serikat mampu meningkatkan penghasilan hingga 500 persen. Menurutnya, angka itu cukup tinggi dibandingkan jika seseorang tidak menjadi pekerja migran.
Sebagian besar migran internasional, kata dia, berasal dari negara berpendapatan menengah, sedangkan negara tujuan utama pada Gulf Cooperation Council/GCC adalah Arab Saudi sebanyak 88 persen.
“Pesatnya perkembangan migrasi internasional ini tentunya akan membawa implikasi baik dari negara yang dituju maupun dari negara asal. Tapi tidak hanya dinamika ekonomi, tentunya ada dinamika sosial termasuk negara yang dilalui atau transit," ujar Amalia.
Meski begitu, penghasilan migran internasional dipengaruhi juga oleh skill, gender, usia, dan kemampuan bahasa.
“Jadi ini membuktikan bahwa masyarakat pindah ke negara lain (negara maju) karena ingin mendapatkan pendapatan yang lebih dan kesejahteraan yang tinggi,” katanya.
2. Indonesia sudah terbuka dengan lalu lintas pekerja migran

Ia mengatakan, dalam konteks arus pekerja migran di Indonesia, sebanyak 72 orang dari satu juta penduduk Indonesia merupakan warga negara asing (WNA). Dari jumlah tersebut, 19 orang di antaranya berkewarganegaraan China.
Menurut Amalia, berdasarkan data tersebut Indonesia sudah cukup terbuka dengan lalu lintas manusia yang keluar dan masuk ke Tanah Air. Sayangnya, data migran Indonesia belum terintegrasi.
Jika dibandingkan tahun 1960, pada tahun 2020 migran dari negara berpendapatan rendah meningkat hampir dua kali lipat, sedangkan jumlah orang yang datang ke negara berpendapatan tinggi meningkat hampir tiga kali lipat.
3. Kasus perdagangan orang masih bayangi pekerja migran

Meski demikian, ia menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi oleh pekerja migran.
"Pengaduan kasus yang dialami oleh pekerja migran Indonesia pada tahun 2022 meningkat 16,8 persen dari tahun sebelumnya," kata Amalia.
Sejumlah kasus yang dihadapi pekerja migran berkaitan dengan perdagangan manusia, penipuan dengan iming-iming bekerja di luar negeri masih marak terjadi.
"Kasus ini menempati urutan teratas. Ini menunjukkan kepada kita bahwa masih ada kesenjangan antara tata kelola migrasi Indonesia, terutama data migrasi Indonesia. Untuk melindungi pekerja migran, maka perlu memperbaiki data migrasi Indonesia ke depan," katanya.

![[QUIZ] Cari Tahu di Umur Berapa Kamu Akan Punya Uang Rp100 Juta Lewat Kuis Ini](https://image.idntimes.com/post/20241011/vitaly-taranov-ocrpjce6gpk-unsplash-2d56ee26a574eaf2b00cefe4e3b89b72.jpg)

















