Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran, memicu penutupan Selat Hormuz. Jalur ini sangat krusial karena melayani 54 persen impor naphtha Korea Selatan. Gangguan pada jalur ini mengancam 25 persen kebutuhan energi nasional, atau setara dengan 14,37 juta ton pasokan per tahun.
Mengingat Korea Selatan bergantung pada impor untuk memenuhi 45 persen kebutuhan naphtha, pemerintah memutuskan melarang ekspor produksi domestik. Pasokan ini dialihkan untuk menstabilkan stok dalam negeri yang diprediksi hanya bertahan selama dua minggu jika impor terus terhambat.
"Selama 20 hari pertama di bulan Maret, ekspor naphtha kita mencapai 11 persen dari total produksi nasional. Meski larangan ekspor ini tidak langsung menuntaskan masalah kelangkaan, tambahan stok ini sangat berarti. Pengalihan pasokan ke industri petrokimia dalam negeri akan sangat membantu kita menghadapi krisis ini," ujar Yang Ki-wook, Direktur Jenderal Kantor Keamanan Industri, Perdagangan, dan Sumber Daya, dilansir Korea Joongang Daily.
Larangan ekspor ini akan berlaku selama lima bulan ke depan sebagai masa transisi untuk mencari sumber energi alternatif. Krisis ini telah menyebabkan harga naphtha melonjak tajam, dari 640 dolar AS (Rp10,86 juta) per ton pada akhir Februari menjadi lebih dari 1.220 dolar AS (Rp20,7 juta) per ton pada Maret. Pemerintah terpaksa mengambil langkah tegas ini demi melindungi ekonomi nasional meski harus mengalihkan kontrak ekspor yang sudah berjalan.
"Pemerintah telah resmi melarang ekspor naphtha. Saat ini, kami juga sedang mempertimbangkan dengan sangat serius untuk membatasi ekspor produk petrokimia lainnya. Hal ini dilakukan guna memastikan kebutuhan dalam negeri tetap terpenuhi di tengah ketidakpastian global yang luar biasa," ujar Kepala Kebijakan Industri Kementerian, Park Dong-il, dilansir Korea Post.