Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Krisis Ekonomi Picu Gelombang Migrasi Warga Selandia Baru ke Australia
Ilustrasi migrasi (magnific.com/jcomp)
  • Sebanyak 12.471 warga Selandia Baru pindah ke Australia pada kuartal pertama 2026, rekor tertinggi periode tiga bulan sejak Maret 2013.
  • Lonjakan emigrasi menekan pemerintah Christopher Luxon menjelang pemilu 7 November, setelah oposisi menyoroti kenaikan biaya hidup dan terbatasnya lapangan kerja.
  • Arus kepulangan 13.460 warga dari Australia hingga Maret membantu menurunkan migrasi bersih tahunan menjadi 27.890 jiwa dan memperbaiki total migrasi neto.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Arus perpindahan warga Selandia Baru ke Australia meningkat tajam. Jumlah kepergian penduduk ini mencatatkan rekor triwulanan tertinggi dalam kurun waktu 13 tahun terakhir, menurut Badan Statistik pada Rabu (14/10/2026).

Gelombang keberangkatan dalam jumlah besar ini berlangsung di tengah persaingan ekonomi di kawasan Pasifik. Kondisi kependudukan tersebut dinilai dapat memberikan pengaruh langsung terhadap ketersediaan tenaga kerja serta ketahanan pasar kerja di dalam negeri Selandia Baru.

1. Lonjakan kepindahan warga pada kuartal pertama catat rekor tertinggi

Ilustrasi negara Selandia Baru (Unsplash.com/ Munir Rani)

Berdasarkan data lembaga statistik resmi, sebanyak 12.471 warga meninggalkan Selandia Baru menuju Australia pada kuartal pertama tahun ini. Angka keberangkatan tersebut menjadi yang tertinggi untuk periode tiga bulan sejak Maret 2013.

Tingginya angka kepindahan pada awal tahun umumnya didorong oleh para lulusan baru yang berburu peluang kerja di luar negeri. Tren ini memperlihatkan kuatnya daya tarik pasar kerja Australia bagi tenaga kerja terampil, sekaligus menjadi dorongan bagi otoritas Selandia Baru untuk menciptakan iklim kerja yang lebih kompetitif di dalam negeri.

Berkurangnya sumber daya manusia produktif ini turut menjadi perhatian para pengamat ekonomi. Kepala Ekonom Infometrics Brad Olsen menekankan pentingnya mempertahankan talenta muda di tanah air.

"Kita perlu menahan sebanyak mungkin anak muda agar tetap menggerakkan roda perekonomian dan membawa gagasan baru yang membuat kita lebih produktif," tuturnya.

2. Lonjakan migrasi ancam posisi politik PM Christopher Luxon

Perdana Menteri Selandia Baru, Christopher Luxon, sedang berbicara dengan mantan Presiden Indonesia, Joko Widodo. (commons.wikimedia.org/Sekretariat Presiden Republik Indonesia)

Lonjakan angka kepindahan warga memberikan tekanan politik yang berat bagi Perdana Menteri Christopher Luxon menjelang pemilihan umum pada 7 November mendatang. Pihak oposisi menyoroti kinerja pemerintah yang dinilai belum berhasil mengendalikan kenaikan biaya hidup maupun memperluas ketersediaan lapangan kerja bagi masyarakat.

Pemimpin Partai Buruh Chris Hipkins mengkritik janji pemerintah yang dianggap belum terbukti di lapangan.

"Pemerintah berjanji menurunkan biaya hidup, tetapi kenyataannya biaya hidup justru terus naik. Mereka juga berjanji membuka lapangan kerja, tetapi semakin banyak orang yang kehilangan pekerjaan," tegasnya, dilansir The Edge Malaysia.

3. Peningkatan arus kepulangan warga perbaiki catatan migrasi neto

ilustrasi Australia (pexels.com/John Simmons)

Di tengah tingginya gelombang keberangkatan, jumlah warga yang kembali dari Australia ke Selandia Baru juga mengalami kenaikan. Sebanyak 13.460 warga dilaporkan pulang ke tanah air dalam periode 12 bulan hingga Maret, yang merupakan angka kepulangan tertinggi sejak September 2021.

Kenaikan arus balik tersebut membantu memangkas jumlah kepindahan bersih tahunan menjadi 27.890 jiwa, terendah sejak kuartal ketiga 2023. Perkembangan ini mendorong total migrasi neto tahunan menjadi 20.503 orang hingga Agustus, sekaligus membalikkan penurunan tajam tahun lalu ketika angka migrasi neto sempat merosot ke level 9.163 orang. Keseimbangan mobilitas warga ini dinilai sangat penting guna menopang tingkat konsumsi dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article