Selandia Baru Peringatkan Bahaya Spionase Siber dari 4 Negara

- NCSC Selandia Baru melaporkan risiko geopolitik siber meningkat, sehingga penguatan pertahanan digital dinilai mendesak untuk mencegah penyusupan jaringan dan melindungi instansi.
- China disebut sebagai aktor siber dukungan negara paling gigih dan canggih, dengan sasaran pemerintah, kesehatan, pendidikan, serta penyedia TI untuk mencuri data dan mengganggu operasi.
- Dari 369 insiden berbahaya, 86 diduga melibatkan kelompok asing terkait China, Rusia, Iran, dan Korea Utara; modus pekerja TI palsu turut mengancam rahasia perusahaan.
Jakarta, IDN Times - Pusat Keamanan Siber Nasional Selandia Baru (NCSC) merilis laporan pertahanan digital tahunan pada Kamis (24/9/2026). Dokumen tersebut menyoroti peningkatan risiko geopolitik yang mengancam keamanan jaringan internet di dalam negeri.
Pemerintah Selandia Baru menilai penguatan sistem pertahanan siber semakin mendesak untuk mengantisipasi penyusupan jaringan dari pihak luar. Penilaian strategis ini disiapkan sebagai pedoman mitigasi bagi para pengelola teknologi informasi di seluruh instansi.
1. Aktor siber China sasar lembaga pemerintah dan layanan publik

ilustrasi serangan siber (pexels.com/Tima Miroshnichenko) NCSC menetapkan China sebagai pihak yang didukung negara dengan kemampuan peretasan paling gigih dan canggih. Serangan digital ini menyasar institusi vital seperti kantor pemerintahan, organisasi layanan kesehatan, lembaga pendidikan tinggi, hingga penyedia jasa teknologi informasi.
Para pelaku biasanya menyusup diam-diam dan menanamkan akses ilegal selama berbulan-bulan untuk mencuri data rahasia serta melumpuhkan sistem operasional instansi publik.
"Ancaman di ruang siber kini berkembang jauh lebih cepat, baik yang berasal dari kelompok kriminal biasa maupun dari aktor yang dibina negara," kata Kepala NCSC, Catriona Robinson, dilansir The Jerusalem Post.
2. Empat negara asing picu kerawanan spionase di kawasan Pasifik

ilustrasi serangan data dari siber (freepik.com/freepik) Data intelijen mencatat sebanyak 86 dari 369 insiden digital berbahaya di Selandia Baru terindikasi melibatkan kelompok yang dibentuk pihak asing. NCSC mengaitkan operasi spionase ini dengan empat negara utama, yakni China, Rusia, Iran, dan Korea Utara.
Persaingan geopolitik global kini merambah kawasan Pasifik Selatan dengan menyasar fasilitas tata kelola negara serta infrastruktur penting. Mengingat eratnya hubungan Wellington dengan negara kepulauan sekitar, pengawasan digital regional terus diperketat demi mencegah sabotase.
3. Modus pekerja jarak jauh Korea Utara ancam rahasia perusahaan

bendera Korea Utara (freepik.com/leoaltman) Laporan keamanan turut mengungkap aksi penyusup asal Korea Utara yang bekerja sebagai tenaga teknologi informasi jarak jauh di perusahaan ternama. Pelaku memalsukan identitas serta merekrut perantara lokal untuk mengendalikan komputer kantor demi menyalurkan dana ke negaranya.
Setelah dipecat karena dokumen palsu, pelaku memeras manajemen dengan ancaman membocorkan rahasia dagang. Pengelola sistem kini diimbau memperketat verifikasi identitas personel karena pemanfaatan kecerdasan buatan kian mempercepat laju serangan peretas.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















