Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Laba Bersih BNI Tembus Rp10,8 Triliun pada Semester I 2026
Ilustrasi BNI (Dok.Istimewa)
  • BNI membukukan laba bersih Rp10,8 triliun pada semester I 2026, naik 6,33 persen secara tahunan, dengan PPOP mencapai Rp18,5 triliun.
  • Penyaluran kredit BNI tumbuh 24,4 persen menjadi Rp968,5 triliun, didukung portofolio terdiversifikasi; dana murah naik 11,2 persen dan rasio CASA mencapai 65,4 persen.
  • Kualitas aset tetap terjaga dengan LAR turun menjadi 8,1 persen dan NPL 1,9 persen; pengguna wondr by BNI mencapai 15,1 juta dengan volume transaksi naik 110 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) membukukan laba bersih sebesar Rp10,8 triliun pada semester I 2026. Capaian tersebut tumbuh 6,33 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp10,16 triliun.

Sementara itu, laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) mencapai Rp18,5 triliun.

1. BNI perkuat fundamental bisnis

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) membukukan laba bersih sebesar Rp10,8 triliun pada semester I 2026. Realisasi itu tumbuh 6,33 persen secara tahunan (year on year/yoy). (Dok/Istimewa).

Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, mengatakan perseroan terus memperkuat fundamental bisnis melalui strategi pertumbuhan yang mengedepankan kualitas, penguatan bisnis inti, serta transformasi organisasi dan digital secara berkelanjutan.

"Di tengah perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis, BNI mengarahkan sumber daya pada sektor dan ekosistem yang memiliki prospek pertumbuhan sehat. Pendekatan ini memungkinkan perseroan menjaga produktivitas aset sekaligus meningkatkan relevansi layanan bagi nasabah di setiap segmen," ujar Putrama dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Menurut Putrama, arah pengembangan bisnis tersebut sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia yang menitikberatkan pada penguatan fundamental perusahaan, penerapan tata kelola yang profesional, serta penciptaan nilai secara berkelanjutan.

2. BNI menyalurkan kredit sebesar Rp968,5 triliun hingga semester I 2026

ilustrasi pertumbuhan ekonomi (unsplash.com/Mathieu Stern)

Dari sisi intermediasi, BNI menyalurkan kredit sebesar Rp968,5 triliun hingga semester I 2026 atau tumbuh 24,4 persen secara tahunan (yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang oleh portofolio kredit yang semakin terdiversifikasi di berbagai sektor ekonomi dan segmen bisnis, mulai dari korporasi, menengah, UMKM, hingga konsumer.

Di tengah persaingan likuiditas yang masih ketat, BNI juga berhasil memperkuat struktur pendanaannya.

3. Dana murah tumbuh 11,2 persen

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (Dok. IDN Times)

Dana murah atau current account and savings account (CASA) tumbuh 11,2 persen secara tahunan. Sehingga, rasio CASA terjaga di level 65,4 persen.

"Peningkatan dana murah tersebut turut mendorong efisiensi biaya dana, tercermin dari cost of fund dana pihak ketiga yang membaik menjadi 2,56 persen, dari 2,78 persen pada periode yang sama tahun lalu," kata Putrama.

Menurut Putrama, struktur pendanaan yang kuat menjadi modal penting bagi perseroan untuk menjaga daya saing sekaligus mendukung pertumbuhan kredit secara berkelanjutan.

BNI juga mencatat pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar Rp22,3 triliun hingga semester I 2026, meningkat 14,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI) juga tumbuh 14,2 persen secara tahunan menjadi Rp9 triliun.

Seiring pertumbuhan bisnis, kualitas aset BNI tetap terjaga. Hingga akhir Juni 2026, rasio loan at risk (LAR) membaik menjadi 8,1 persen dari 11,0 persen pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, rasio non-performing loan (NPL) berada di level 1,9 persen.

4. Volume transaksi wondr by BNI tumbuh 110 persen

Aplikasi Wondr by BNI. (Dok/Istimewa).

Hingga akhir Juni 2026, jumlah pengguna wondr by BNI mencapai 15,1 juta, dengan volume transaksi tumbuh 110 persen secara tahunan. Sementara pada segmen wholesale, jumlah pengguna BNIdirect mencapai 280 ribu, dengan volume transaksi tumbuh 17 persen secara tahunan menjadi Rp6.039 triliun.

"Pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin luasnya pemanfaatan kanal digital BNI oleh nasabah ritel maupun korporasi," kata Putrama.

Dengan kualitas aset yang sehat dan pencadangan yang memadai, BNI memiliki fondasi kuat untuk menjaga stabilitas bisnis di tengah dinamika perekonomian sekaligus mendukung ekspansi secara berkelanjutan.

Memasuki paruh kedua 2026, BNI akan memperkuat struktur pendanaan, menjaga pertumbuhan kredit yang berkualitas dan terdiversifikasi, serta mempertahankan kualitas aset melalui pengelolaan risiko dan pencadangan yang disiplin.

BNI juga akan melanjutkan transformasi BRAVE dan digital demi meningkatkan produktivitas, memperkuat fundamental bisnis, serta menciptakan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan, sejalan dengan agenda transformasi BUMN di bawah koordinasi Danantara Indonesia.

Curated For You

Editorial Team

Related Article