Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ilustrasi hutang konsumtif (freepik.com/rawpixel.com)
Ilustrasi hutang konsumtif (freepik.com/rawpixel.com)

Intinya sih...

  • Utang luar negeri (ULN) Indonesia turun menjadi Rp7.077 triliun per November 2025

  • ULN pemerintah susut jadi 209,8 miliar dolar AS, dengan pertumbuhan ULN pemerintah melambat dari 4,7% menjadi 3,3% (yoy)

  • ULN swasta tercatat turun jadi 191,2 miliar dolar AS, dengan kontraksi pertumbuhan sebesar 1,3% (yoy)

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times -Bank Indonesia (BI) melaporkan utang luar negeri (ULN) per November menurun jadi 423,8 miliar dolar AS atau setara Rp7.077 triliun (kurs Rp16.700 per dolar AS). Laju ULN turun 1,1 miliar dolar AS dibandingkan Oktober sebesar 424,9 miliar dolar AS.

"Secara tahunan, ULN Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 0,2 persen (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 0,5 persen (yoy), dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ULN sektor publik," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangnnya, Kamis (15/1/2026).

1. ULN pemerintah susut jadi 209,8 miliar dolar AS

ilustrasi utang (unsplash.com/rc.xyz NFT gallery)

Denny menjelaskan ULN pemerintah menurun. Posisi ULN pemerintah pada November 2025 tercatat sebesar 209,8 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya sebesar 210,5 miliar dolar AS.

Secara tahunan, pertumbuhan ULN pemerintah melambat dari 4,7 persen (yoy) pada Oktober 2025 menjadi 3,3 persen (yoy) pada bulan November 2025.

"Perkembangan posisi ULN pemerintah tersebut terutama dipengaruhi oleh pergerakan kepemilikan surat berharga negara seiring dengan tetap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Sebagai salah satu instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)," ujarnya.

2. ULN pemerintah masih didominasi utang jangka panjang

ilustrasi hutang (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

ULN, diungkapkan Denny, tetap dikelola secara cermat, terukur, dan akuntabel, dengan pemanfaatan yang terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas guna menjaga keberlanjutan fiskal serta memperkuat perekonomian nasional.

"Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99 persen dari total ULN pemerintah," kata Denny.

3. ULN swasta tercatat turun jadi 191,2 miliar dolar AS

ilustrasi utang (freepik.com/freepik)

Lebih lanjut, ULN swasta juga menurun. Posisi ULN swasta tercatat sebesar 191,2 miliar dolar AS pada November 2025, menurun dibandingkan dengan posisi Oktober 2025 sebesar 191,7 miliar dolar AS.

Secara tahunan, ULN swasta mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,3 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 1,5 persen (yoy).

"Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh lebih rendahnya kontraksi ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations), yang tercatat sebesar 0,4 persen (yoy)," kata Denny.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan & Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,5 persen terhadap total ULN swasta.

4. Struktur ULN dipastikan tetap sehat

ilustrasi bayar hutang (unsplash.com/TowfiquBarbhuiya)

Dia menjelaskan struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang turun menjadi 29,3 persen pada November 2025, dari 29,4 persen pada Oktober 2025, serta dominasi ULN jangka panjang dengan pangsa 86,1 persen dari total ULN.

Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN.

"Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," kata Denny.

Editorial Team