Nigeria Tagih Utang Listrik Benin, Togo, Niger Sebesar Rp300 Miliar

- Impor listrik dilakukan sesuai perjanjian bilateral
- Pembayaran listrik dalam negeri justru membaik
- Nigeria berencana jadi pusat inovasi energi terbarukan
Jakarta, IDN Times - Komisi Regulator Listrik Nigeria (NERC) mengatakan, Benin, Niger, dan Togo sudah berutang kepada Nigeria sebesar 17,8 juta dolar AS (Rp300 miliar). Utang tersebut untuk mengimpor listrik dari Nigeria demi memenuhi kebutuhan lokal.
Dalam beberapa tahun terakhir, Nigeria masih mengekspor listrik ke negara tetangganya. Langkah ini diterapkan meskipun terdapat masalah suplai kebutuhan energi di dalam negara Afrika Barat tersebut.
1. Impor listrik dilakukan sesuai perjanjian bilateral
NERC menyatakan, ekspor listrik sudah dilakukan berdasarkan perjanjian bilateral antara Nigeria dengan negara tetangganya. Listrik dari Nigeria dikirimkan lewat jaringan listrik GenCos untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam negara masing-masing.
Dilansir APA News, NERC menyebut, performa remitensi di Nigeria hanya sebesar 38,09 persen. Hasil ini menunjukkan lebih dari setengahnya tidak dibayar pada kuartal terakhir dan membuat pemerintahan Venezuela setuju.
2. Pembayaran listrik dalam negeri justru membaik
Pada saat yang sama, NERC menyatakan, kondisi pembayaran listrik dalam negeri semakin membaik dan berbeda jauh dibandingkan di luar negeri. Jumlah pembayaran listrik di dalam negeri sudah menembus 87,61 persen.
Meskipun demikian, Nigeria mengaku masih dihadapkan pada tantangan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. Sebab pertumbuhan penduduk Nigeria yang pesat membuat kebutuhan energi juga terus melonjak.
Dilansir Business Insider Africa, Nigeria sudah memasang alat pembangkit dengan kapasitas 13 gigawatt. Sementara, jaringan kabel listrik nasional hanya mampu mengirimkan sekitar 4 gigawatt kepada lebih dari 200 juta penduduk Nigeria.
3. Nigeria berencana jadi pusat inovasi energi terbarukan
Pada Oktober, Wakil Presiden Nigeria, Kashim Shettima mengungkapkan, Nigeria akan memposisikan diri sebagai pusat inovasi energi terbarukan. Ia memperkirakan ada 410 miliar dolar AS (Rp6.912 triliun) investasi di negaranya untuk mendukung transisi energi.
Shettima mengatakan, pemerintah memiliki rencana jangka panjang untuk membangun sebuah sistem energi dengan daya sebesar 277 gigawatt pada 2060. Pembangkit listrik tersebut berasal dari sumber terbarukan, seperti sinar matahari, angin, air, dan gas, dilansir Investors King.


















