Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Rahasia China Salip Jepang: Uang Dipakai Bangun Kapabilitas

Rahasia China Salip Jepang: Uang Dipakai Bangun Kapabilitas
ilustrasi china (unsplash.com/Arthur Wang)
Intinya Sih
  • China menyalip Jepang karena mengarahkan tabungan nasional untuk membangun industri, teknologi, dan infrastruktur, bukan sekadar menjaga kekayaan seperti yang dilakukan Jepang setelah gelembung aset pecah.
  • Pendekatan investasi China memperkuat ekosistem manufaktur domestik hingga menjadi produsen utama kendaraan listrik, baterai, dan panel surya berkat pengalaman produksi serta jaringan pemasok yang terus berkembang.
  • Pemerintah China menyediakan arah strategis sementara persaingan ketat antarperusahaan mendorong efisiensi dan inovasi, menjadikan kapabilitas industri sebagai sumber kekuatan ekonomi jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Banyak orang mengira negara yang paling kaya otomatis menjadi negara yang paling kuat. Kenyataannya gak selalu seperti itu, lho.

Jepang pernah dianggap sebagai raksasa ekonomi yang sulit disaingi karena memiliki tabungan besar, perusahaan kelas dunia, dan aset luar negeri yang melimpah. Namun dalam beberapa dekade terakhir, China justru tumbuh menjadi pusat manufaktur dan teknologi terbesar di dunia.

Perbedaan cara kedua negara menggunakan tabungan nasional ternyata menjadi salah satu penjelasan penting di balik perubahan tersebut. Alih-alih sekadar menjaga kekayaan yang sudah ada, China memilih memakai uangnya untuk membangun kemampuan industri yang terus berkembang.

Table of Content

1. Jepang menjaga kekayaan, China membangun kemampuan

1. Jepang menjaga kekayaan, China membangun kemampuan

ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari, supermarket, Jepang
ilustrasi belanja kebutuhan sehari-hari, supermarket, Jepang (pexels.com/SU LIKE)

Pada akhir 1980-an, Jepang tampak hampir tak terkalahkan. Produk otomotif, elektronik, dan mesin buatannya menguasai pasar internasional, sementara masyarakatnya dikenal gemar menabung. Kekayaan nasional terus bertambah hingga Jepang menjadi salah satu negara kreditur terbesar di dunia.

Setelah gelembung aset pecah pada awal 1990-an, arah pembangunan Jepang perlahan berubah. Sebagian besar tabungan nasional digunakan untuk membiayai utang pemerintah, menjaga konsumsi masyarakat, serta mempertahankan stabilitas sosial. Pendekatan ini memang berhasil membuat Jepang tetap menjadi negara yang makmur, tertib, dan memiliki tingkat kesejahteraan tinggi.

Pilihan tersebut sebenarnya cukup rasional. Jepang menghadapi populasi yang menua, pertumbuhan konsumsi yang lemah, dan tekanan deflasi yang berlangsung lama. Akibatnya, negara itu lebih berfokus pada menjaga kekayaan yang sudah dimiliki dibandingkan melakukan ekspansi industri besar-besaran.

China justru memilih arah berbeda. Negara itu mengarahkan tabungan domestiknya ke pembangunan pabrik, pelabuhan, jaringan kereta api, kawasan industri, hingga rantai pasok teknologi tinggi. Bagi Beijing, tabungan nasional bukan sekadar alat menyimpan kekayaan, melainkan bahan bakar untuk meningkatkan kemampuan ekonomi jangka panjang.

2. Kapabilitas industri bisa tumbuh lebih cepat daripada aset keuangan

ilustrasi industri, pekerja di China, manufaktur
ilustrasi industri, pekerja di China, manufaktur (pexels.com/Pexels User)

Jepang masih termasuk negara dengan aset luar negeri terbesar di dunia. Namun, sebagian besar modal tersebut ditempatkan pada obligasi pemerintah asing dan berbagai instrumen keuangan internasional. Bahkan pada 2025, Jepang memiliki aset luar negeri bersih senilai 561,75 triliun yen, meskipun posisinya turun menjadi kreditur terbesar ketiga di dunia setelah disalip China dan Jerman.

China memanfaatkan tabungan nasional dengan cara berbeda. Dana yang tersedia diarahkan ke pembangunan ekosistem industri dalam negeri, mulai dari energi, bahan baku strategis, manufaktur, hingga teknologi. Walaupun beberapa investasi dinilai berlebihan atau gak efisien, investasi tersebut tetap memperdalam pengalaman produksi, memperluas jaringan pemasok, dan menciptakan tenaga kerja yang semakin terampil.

Hasilnya terlihat jelas pada berbagai sektor. China kini menjadi produsen terbesar kendaraan listrik, baterai, kapal komersial, drone, serta berbagai produk manufaktur lainnya. Dominasi tersebut gak muncul secara tiba-tiba, melainkan dibangun melalui investasi yang berlangsung selama bertahun-tahun.

3. Persaingan ketat membuat perusahaan China semakin tangguh

BYD Dolphin G DM-i
BYD Dolphin G DM-i (Dok. BYD)

Banyak orang menganggap keberhasilan ekonomi China sepenuhnya berasal dari campur tangan pemerintah. Padahal, pemerintah hanya menyediakan pembiayaan, infrastruktur, dan arah strategis. Setelah itu, perusahaan-perusahaan swasta tetap harus bersaing keras untuk mendapatkan pasar.

Persaingan tersebut sering kali memicu perang harga dan menekan keuntungan perusahaan. Akan tetapi, kondisi itu justru memaksa pelaku usaha untuk terus meningkatkan efisiensi, memperbaiki teknologi, dan memperbesar kapasitas produksi. Sistem ini membuat perusahaan China terbiasa bertahan dalam lingkungan bisnis yang sangat kompetitif.

Bukti keberhasilannya dapat dilihat pada industri kendaraan listrik. Menurut data dari International Energy Agency (IEA), China diperkirakan menjual lebih dari 14 juta mobil listrik sepanjang 2025. Penjualan kendaraan listrik bahkan diperkirakan mencapai sekitar 60 persen dari total pasar mobil di negara tersebut.

Keunggulan serupa juga terlihat di sektor energi surya. IEA mencatat bahwa China telah menginvestasikan lebih dari 50 miliar dolar AS atau sekitar Rp815 triliun untuk membangun kapasitas manufaktur panel surya sejak 2011. Saat ini, pangsa China dalam seluruh tahapan produksi panel surya telah melampaui 80 persen.

4. Menjadi kreditur besar belum tentu membuat negara lebih berpengaruh

ilustrasi Jepang
ilustrasi Jepang (unsplash.com/Kishor)

Sejarah menunjukkan bahwa negara kaya gak selalu mampu mempertahankan pengaruhnya. Belanda pernah membantu membiayai kebangkitan Inggris pada abad ke-18, tapi akhirnya justru kalah bersaing. Inggris juga menanamkan modal besar ke Amerika Serikat pada abad ke-19 sebelum akhirnya posisi ekonominya disalip oleh negara tersebut.

Jepang menghadapi situasi yang memiliki kemiripan. Sebagian tabungan nasionalnya digunakan untuk membeli aset keuangan luar negeri dan membantu menopang pasar modal negara lain. Pada saat yang sama, China lebih banyak memakai dananya untuk memperkuat pabrik, logistik, rantai pasok, serta kemampuan manufaktur di dalam negeri.

Pendekatan ini membuat posisi China berbeda dari Jepang. China memang menyimpan cadangan devisa dalam jumlah besar, tapi dana tersebut juga digunakan untuk membangun pabrik di luar negeri, memperluas jaringan perdagangan, dan mendukung ekspansi perusahaan domestik ke pasar global. Bagi pemerintah China, modal nasional dipandang sebagai aset strategis yang harus menghasilkan kemampuan baru.

5. China belum sempurna, tapi strateginya mulai membuahkan hasil

Rahasia China Salip Jepang: Uang Dipakai Bangun Kapabilitas
ilustrasi industri, perkotaan di China (pexels.com/ainc T)

Model pembangunan China bukannya tanpa risiko, lho. Negara itu masih menghadapi masalah utang, kelebihan kapasitas produksi, lemahnya konsumsi rumah tangga, serta meningkatnya ketegangan geopolitik. Selain itu, perusahaan-perusahaan China juga sering menghasilkan keuntungan yang lebih kecil dibandingkan perusahaan Amerika Serikat.

Meski demikian, strategi China menunjukkan uang dapat digunakan untuk tujuan yang lebih luas daripada sekadar menjaga kekayaan. Tabungan nasional bisa dipakai untuk membangun teknologi, memperkuat rantai pasok, dan menciptakan industri baru yang berpotensi menjadi mesin pertumbuhan ekonomi di masa depan. Dengan kata lain, China berusaha memastikan bahwa modal yang dimilikinya terus bekerja untuk meningkatkan daya saing nasional.

Perkembangan beberapa dekade terakhir memperlihatkan kemampuan industri yang terus bertambah dapat memberikan pengaruh strategis yang besar. Jepang tetap menjadi negara maju yang kaya dan stabil, tapi China menunjukkan negara yang terus menambah kapabilitas memiliki peluang lebih besar untuk mengubah keseimbangan ekonomi dunia.

Perjalanan Jepang dan China menunjukkan cara menggunakan uang sama pentingnya dengan jumlah uang yang dimiliki. Jepang memilih menjaga stabilitas dan mempertahankan kekayaan yang telah dikumpulkan selama puluhan tahun. Sementara itu, China lebih agresif mengarahkan tabungan nasional untuk membangun pabrik, teknologi, dan ekosistem industri baru.

Keduanya memiliki kelebihan dan tantangan masing-masing, tapi pengalaman China memperlihatkan kemampuan produktif yang terus berkembang sering kali memberikan keuntungan strategis yang lebih tahan lama. Pada akhirnya, negara yang hanya menjaga kekayaan mungkin tetap makmur, tapi negara yang terus membangun kapabilitas berpeluang menentukan arah ekonomi global di masa depan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Jujuk Ernawati
EditorJujuk Ernawati

Related Articles

See More