Jakarta, IDN Times - Pasar saham memiliki satu pola yang relatif konsisten meski narasi harian terus berubah. Dalam riset yang dipublikasikan Henan Putihrai Sekuritas dan Henan Putihrai Asset Management, setiap penurunan yang terjadi di pasar kerap diikuti berbagai penjelasan yang terasa meyakinkan pada saat itu, namun setelah periode tertentu berlalu, pasar kembali bergerak dan membentuk arah pemulihan.
Tulisan ini disusun bukan untuk memperkirakan waktu pemulihan, melainkan sebagai kerangka untuk membaca kondisi pasar ketika sentimen jangka pendek terasa sangat dominan.
Sejak 2000, IHSG tercatat telah melalui delapan siklus koreksi besar. Hingga 15 Juni 2026, siklus kedelapan mencatat penurunan sebesar 41,72 persen dari titik tertinggi, menjadikannya salah satu koreksi terdalam dalam sejarah modern pasar modal Indonesia. Dalam tujuh siklus sebelumnya, pola yang terjadi relatif sama, yaitu penurunan yang diikuti pemulihan hingga kembali ke level puncak dan kemudian membentuk level tertinggi baru.
Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, kemampuan membedakan jenis informasi menjadi hal yang krusial. Riset ini membagi informasi ke dalam tiga kelompok.
Pertama, informasi latar yang bersumber dari opini, media sosial, atau prediksi tanpa dasar data yang kuat, yang tidak menjadi dasar pengambilan keputusan. Kedua, pergerakan pasar harian yang bersifat sementara, termasuk respons terhadap berita jangka pendek dan komentar analis, yang lebih relevan untuk membaca sentimen ketimbang menentukan langkah investasi. Ketiga, perubahan kondisi fundamental yang berdampak langsung pada arah pemulihan, yang menjadi fokus utama dalam pengambilan keputusan.
Dalam catatan literatur investasi yang turut dirujuk, pergerakan pasar dijelaskan sebagai siklus yang bergerak dari fase pesimisme menuju optimisme, dan mencapai titik puncak ketika euforia, sebelum akhirnya kembali terkoreksi.
