Menteri Ekraf Pede Investasi Ekraf Lampaui Target Rp146 Triliun

Realisasi investasi ekonomi kreatif mencapai Rp61,33 triliun pada kuartal I-2026, atau 47 persen dari target tahunan Rp146,46 triliun.
Pada 2025, investasi ekonomi kreatif mencapai Rp183,01 triliun, melampaui target Rp136 triliun dengan realisasi 134 persen.
Sektor ekonomi kreatif berkontribusi terhadap ekspor nonmigas, tenaga kerja, dan PDB nasional, sementara WCCE membahas agenda global sektor tersebut.
Jakarta, IDN Times - Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya menyebut realisasi investasi sektor ekonomi kreatif berpotensi kembali melampaui target pada 2026. Hingga kuartal I-2026, realisasi investasi mencapai Rp61,33 triliun atau 47 persen dari target tahunan sebesar Rp146,46 triliun.
Riefky menyampaikan, capaian pada tiga bulan pertama tahun ini menjadi gambaran perkembangan investasi sektor ekonomi kreatif. Selain investasi, pemerintah juga memantau perkembangan ekspor dan tenaga kerja di sektor tersebut.
"Capaiannya di kuartal pertama sudah 47 persen. Jadi kelihatannya tahun ini juga akan melampaui target," katanya di sela forum WCCE, Kamis (22/10/2026).
1. Investasi ekonomi kreatif lampaui target pada 2025

ilustrasi investasi (magnific.com/rawpixel.com) Pada 2025, Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menargetkan investasi sektor ekonomi kreatif sebesar Rp136 triliun. Realisasinya mencapai Rp183,01 triliun atau 134 persen dari target.
Penghitungan investasi tersebut mencakup 238 Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang berkaitan dengan sektor ekonomi kreatif.
Dari total realisasi investasi nasional pada 2025, sekitar 9,5 persen masuk ke sektor ekonomi kreatif. Perhitungan tersebut mengacu pada investasi yang telah terealisasi, bukan sebatas nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU).
"Itu hal yang faktanya kita bisa lihat bagaimana pertumbuhan investasi di Indonesia hari ini tahun 2025, 9,5 persen investasi yang masuk ke Indonesia adalah ke sektor ekonomi kreatif," paparnya.
2. Ekonomi kreatif sumbang 12 persen ekspor nonmigas

ilustrasi ekspor (IDN Times/Aditya Pratama) Dia menyampaikan sektor ekonomi kreatif berkontribusi 12 persen terhadap ekspor nonmigas Indonesia. Sektor tersebut juga menyerap 27,4 juta tenaga kerja, dengan 63 persen di antaranya merupakan generasi Z dan milenial, serta 58 persen perempuan.
"Artinya ini dapat inklusif. Inklusif sektor ekraf ini dan kontribusi terhadap PDB (produk domestik bruto) nasional juga sudah 7,38 persen," kata dia.
3. WCCE jadi forum perjuangan ekonomi kreatif global

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya buka WCCE 2026. (IDN Times/Marcheilla Ariesta) Riefky menjelaskan, kebutuhan untuk membahas persoalan ekonomi kreatif secara internasional menjadi salah satu alasan penyelenggaraan WCCE. Forum tersebut pertama kali digelar di Bali pada 2018, saat Triawan Munaf menjabat Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).
Indonesia menginisiasi forum tersebut bersama Kementerian Luar Negeri (Kemlu). Setelah penyelenggaraan pertama di Bali, WCCE berlanjut di Dubai pada 2021, kembali ke Bali pada 2022, lalu digelar di Tashkent, Uzbekistan pada 2024.
Riefky mengatakan, penyelenggaraan WCCE juga menghasilkan dokumen yang kemudian dibawa ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurutnya, dokumen hasil forum tersebut telah berkontribusi terhadap pembahasan ekonomi kreatif dalam agenda PBB.
Pada WCCE 2026 di Jakarta, pemerintah menyiapkan dokumen bernama Jakarta Vision. Dokumen tersebut dibahas melalui serangkaian pertemuan dan konsultasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi, pemerintah, asosiasi, serta pelaku ekonomi kreatif.
"Hasil kesepakatan mereka sore inilah yang akan disahkan dalam bilateral meeting yang diikuti oleh 38 delegasi Head of Delegation siang ini, setelah makan siang untuk kita sahkan menjadi sebuah dokumen yang namanya Jakarta Vision," kata dia.




















