Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

WCCE 2026 Dibuka, Ekonomi Kreatif Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

4 min read
WCCE 2026 Dibuka, Ekonomi Kreatif Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya buka WCCE 2026. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)
  • WCCE 2026 di Jakarta mempertemukan delegasi lebih dari 80 negara untuk membahas ekonomi kreatif sebagai sumber pertumbuhan dan pembangunan inklusif.

  • Konferensi membahas teknologi dan AI, keberlanjutan, kekayaan intelektual, serta inklusi dalam ekosistem kreatif.

  • Indonesia mendorong ekonomi kreatif masuk agenda pembangunan internasional melalui Jakarta Vision on Creative Economy dan kerja sama global.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Indonesia menjadi tuan rumah World Conference on Creative Economy (WCCE) ke-5 yang mempertemukan pelaku ekonomi kreatif dan perwakilan pemerintah dari berbagai negara di Jakarta. Konferensi ini membahas peran ekonomi kreatif sebagai sumber pertumbuhan, penciptaan lapangan kerja, dan pembangunan yang lebih inklusif di tengah ketidakpastian global.

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan, WCCE menjadi ruang bagi berbagai negara untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan ekonomi kreatif. Menurut dia, sektor ini perlu mendapat tempat dalam pembahasan kebijakan dan pengambilan keputusan di tingkat global.

WCCE 2026 mengangkat tema Inclusively Creative, Collective Continuity. Forum ini mempertemukan pemerintah, kreator, pelaku usaha, akademisi, komunitas, dan media untuk membahas keberlanjutan ekosistem kreatif.

Riefky menyebut konferensi tahun ini diikuti delegasi dari lebih dari 80 negara, tujuh organisasi internasional, serta 38 kepala delegasi yang terdiri dari menteri dan perwakilan tingkat tinggi. Kegiatan yang digelar sejak 21 hingga 25 Oktober 2026 tersebut juga menghadirkan 182 pembicara dan moderator, dengan jumlah peserta diperkirakan lebih dari 6.000 orang.

  1. 1. Ekonomi kreatif jadi sumber pertumbuhan baru

    Riekyy 22.png
    WCCE 2026 menjadi momentum untuk mempertemukan gagasan dengan aksi, kreativitas dengan peluang, serta Indonesia dengan dunia. (Dok/Istimewa).

    Dalam sambutannya, Riefky mengutip data UN Trade and Development (UNCTAD) yang menunjukkan ekspor global barang dan jasa kreatif mencapai sekitar 1,7 triliun dolar AS pada 2024. Di Indonesia, sektor ekonomi kreatif berkontribusi sekitar 7,38 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap 27,4 juta tenaga kerja.

    “Ekonomi kreatif merupakan salah satu mesin penggerak perekonomian kita,” kata Riefky di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

    Kepala Bappenas, Rachmat Pambudi, juga menilai ekonomi kreatif berpotensi menjadi sumber pertumbuhan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan ketika ketegangan geopolitik mengganggu perdagangan serta menciptakan ketidakpastian investasi.

    Menurut Rachmat, kreativitas memungkinkan masyarakat mengubah gagasan, keterampilan, dan tradisi lokal menjadi peluang ekonomi. Karena itu, pengembangan sektor ini perlu didukung akses pendidikan, teknologi, pembiayaan, perlindungan kekayaan intelektual, dan pasar internasional.

  2. 2. Empat isu utama WCCE 2026

    riefkyy 333.png
    Indonesia kembali menjadi ruang pertemuan para pemimpin ekonomi kreatif dunia, pembuat kebijakan, pelaku usaha, kreator, komunitas, akademisi, investor, dan pemangku kepentingan melalui World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. (Dok/Istimewa).

    Riefky menjelaskan, penyelenggaraan WCCE 2026 berfokus pada empat isu. Pertama, teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan transformasi digital, termasuk bagaimana perkembangan teknologi dapat memperkuat kreativitas manusia tanpa mengesampingkan peran kreator.

    Kedua, keberlanjutan, ekonomi sirkular, dan desain regeneratif. Pembahasan ini mencakup potensi praktik lokal dan tradisional dalam mendorong kegiatan ekonomi kreatif yang lebih berkelanjutan.

    Ketiga, kekayaan intelektual, keadilan ekonomi, dan hak kreator. Isu keempat adalah inklusi, ekosistem kreatif, serta pemberdayaan komunitas agar masyarakat di berbagai daerah dapat ikut menentukan arah kebijakan sektor tersebut.

    “Keempat pilar ini akan menjadi tulang punggung Jakarta Vision on Creative Economy yang akan kita deklarasikan bersama,” ujar Riefky.

    Menteri Luar Negeri, Arrmanatha Nasir, turut menyoroti tantangan yang dihadapi kreator di tengah perkembangan platform digital dan AI. Dia menilai akses teknologi belum otomatis membuat kreator memperoleh kepemilikan dan imbalan yang adil atas karya mereka.

  3. 3. Dorong ekonomi kreatif masuk agenda global

    Menlu Arrmanatha Nasir dalam pembukaan 5th World Conference of Creative Economy (WCCE) di Jakarta.
    Menlu Arrmanatha Nasir dalam pembukaan 5th World Conference of Creative Economy (WCCE) di Jakarta. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

    Indonesia juga ingin memperkuat posisi ekonomi kreatif dalam agenda pembangunan internasional. Riefky mengatakan, Indonesia telah membawa isu ini ke Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui resolusi yang diadopsi pada 2019 dan 2023.

    Menurut Riefky, delegasi Indonesia di New York sedang memperbarui resolusi terkait ekonomi kreatif pada Sidang Majelis Umum PBB ke-81. Isu tersebut diharapkan terus dibahas secara berkala dalam kaitannya dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

    Rachmat mengatakan, Indonesia ingin mengembangkan Jakarta Vision on Creative Economy sebagai panduan untuk memperkuat kerja sama internasional. Visi tersebut mencakup transformasi digital dan AI, keberlanjutan, perlindungan kekayaan intelektual, serta penguatan ekosistem kreatif yang inklusif.

    “Resolusi dan deklarasi hanya bermakna ketika menghasilkan perubahan nyata,” kata Rachmat.

    Dia berharap upaya internasional tersebut dapat menghasilkan investasi lebih besar, usaha kreatif yang lebih kuat, lapangan kerja yang lebih baik, serta kesempatan yang lebih luas bagi para kreator.

    WCCE 2026 diharapkan menjadi ruang untuk mengubah gagasan dan komitmen menjadi kerja sama konkret, sekaligus memperkuat peran ekonomi kreatif dalam pembangunan global setelah 2030.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More