ilustrasi pengambilan keputusan (pexels.com/cottonbro studio)
Pola yang sama juga bisa muncul dalam keputusan ekonomi yang lebih besar. Investasi, misalnya, membutuhkan pengeluaran atau pengorbanan pada saat ini untuk mendapatkan manfaat di kemudian hari.
Keputusan perusahaan juga dapat menghadapi persoalan serupa. Pengeluaran untuk investasi membutuhkan dana sekarang, sedangkan hasilnya baru bisa diperoleh setelah proyek berjalan. Ketika keputusan lebih banyak mempertimbangkan hasil jangka pendek, investasi yang manfaatnya baru muncul dalam beberapa tahun dapat terasa kurang menarik.
Pada tingkat yang lebih luas, persoalan waktu juga berpengaruh pada keputusan pemerintah dan lembaga ketika mengalokasikan anggaran. Pengeluaran untuk pencegahan atau investasi jangka panjang harus dilakukan sekarang, sementara manfaat ekonominya baru muncul kemudian.
Salah satu contohnya adalah investasi ketahanan terhadap bencana. Dalam Climate Resiliency Report Amerika Serikat 2024, investasi sebesar 833 juta dolar AS untuk ketahanan dan kesiapsiagaan menghadapi gempa besar di San Diego diperkirakan dapat menyelamatkan sekitar 38 ribu pekerjaan, 5,8 miliar dolar AS dalam produksi, serta 3,3 miliar dolar AS dalam pendapatan.
Persoalannya, biaya investasi tersebut harus dikeluarkan lebih dulu. Sementara itu, manfaatnya baru terlihat jika risiko yang diperkirakan benar-benar terjadi. Ketika pencegahan berhasil, kerugian yang seharusnya terjadi justru tidak terlihat.
Pola seperti ini sesuai dengan konsep present bias. Biaya yang harus dibayar sekarang dapat terasa lebih berat dibandingkan manfaat ekonomi yang baru diperoleh pada masa mendatang.
Pada akhirnya, bias terhadap imbalan saat ini dapat memengaruhi cara individu maupun organisasi menentukan penggunaan uang. Pilihan jangka pendek memang memberikan manfaat lebih cepat, tetapi keputusan yang sama jika terus berulang dapat mengurangi ruang untuk mencapai tujuan keuangan yang membutuhkan waktu lebih panjang.