Minyak Melonjak, Seberapa Kuat APBN Menahan Harga BBM Subsidi?

Harga ICP diperkirakan tetap di atas asumsi APBN 2026 hingga akhir September, sementara ruang defisit tersisa sekitar Rp39 triliun.
Beban Pertalite, Solar, dan LPG 3 kilogram sepanjang 2026 diperkirakan mencapai Rp426 triliun, dengan solar menjadi komponen terbesar.
Kenaikan harga Brent 10 dolar AS per barel dapat menambah beban Rp21,8 triliun atau 57 persen dari ruang defisit yang tersisa.
Jakarta, IDN Times - Harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) diperkirakan masih berada di atas asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 hingga akhir September.
Ekonom energi Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, memperkirakan rata-rata ICP Januari–September mencapai sekitar 90,6 dolar AS per barel. Angka itu dihitung dari rata-rata ICP Januari–Agustus sebesar 89,24 dolar AS per barel dan perkiraan ICP September sekitar 101 dolar AS per barel.
ICP September baru akan diumumkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada awal Oktober. Perkiraan tersebut berada dalam rentang 100-104 dolar AS per barel, dengan mengacu pada harga Brent September dan selisih harga Brent-ICP yang biasanya sekitar 1,9 dolar AS.
"APBN masih tangguh untuk tahun ini, defisit diperkirakan 2,85 persen PDB, di bawah batas tiga persen. Tetapi, bantalannya tinggal sekitar Rp39 triliun. Kenaikan harga minyak 10 dolar AS saja sampai akhir tahun memakan lebih dari separuh bantalan itu," kata Yayan dalam keterangannya kepada IDN Times, Senin (28/9/2026).
1. Beban Pertalite, solar, dan LPG 3 kg, capai Rp426 triliun

Ilustrasi anggaran atau APBN. (IDN Times/Aditya Pratama) Yayan mengatakan beban Pertalite, solar, dan LPG 3 kilogram sepanjang 2026 diperkirakan mencapai Rp426 triliun. Perhitungan tersebut berasal dari harga keekonomian setiap komoditas yang dikalikan dengan volume penyalurannya.
Pertalite diperkirakan memiliki volume penyaluran 29,7 juta kiloliter (kL) sepanjang 2026 atau sekitar 1 persen di atas kuota. Bebannya diperkirakan mencapai Rp122 triliun.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp52 triliun merupakan beban untuk periode September–Desember. Jika harga Brent naik 10 dolar AS per barel, tambahan beban Pertalite pada periode tersebut diperkirakan Rp11,1 triliun.
Solar memiliki volume penyaluran sekitar 19,9 juta kL atau 7 persen di atas kuota. Bebannya menjadi yang terbesar, yakni sekitar Rp206 triliun sepanjang 2026.
Untuk periode September–Desember, beban Solar diperkirakan Rp83 triliun. Kenaikan harga Brent 10 dolar AS per barel akan menambah beban sekitar Rp7,4 triliun.
Sementara itu, penyaluran LPG 3 kilogram diproyeksikan mencapai 8,7 juta ton atau 8 persen di atas kuota. Bebannya diperkirakan Rp98 triliun, termasuk sekitar Rp33 triliun untuk September–Desember.
Jika Brent naik 10 dolar AS per barel, tambahan beban LPG 3 kilogram diperkirakan Rp3,3 triliun. Dengan demikian, beban ketiga komoditas tersebut pada 2026 diperkirakan Rp426 triliun. Sementara kebutuhan September-Desember mencapai Rp168 triliun.
Perhitungan tambahan beban akibat kenaikan Brent 10 dolar AS dilakukan untuk periode 12 September–31 Desember. Angka tersebut merupakan hasil perhitungan skenario dan belum memasukkan listrik.
2. Harga solar jadi beban terbesar

Ilustrasi pengisian BBM Solar di SPBU Rest Area KM 87 B Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Lampung, Rabu (20/12/2023). (IDN Times/Martin L Tobing). Beban solar menjadi yang terbesar karena harga solar olahan di pasar Asia naik jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga minyak mentah. Selisih harga produk atau crack spread solar di Singapura berada sekitar tiga kali lipat dibandingkan dengan sebelum konflik.
Kondisi tersebut membuat dukungan negara untuk setiap liter solar meningkat menjadi sekitar Rp11.100–Rp12.600 pada Agustus–Desember. Angka itu lebih dari dua kali besaran yang direncanakan dalam APBN, yakni Rp5.150 per liter.
"Pada tingkat rencana itu, beban solar setahun hanya sekitar Rp96 triliun, perhitungan kami sekitar Rp206 triliun," ujar dia.
Beban LPG 3 kilogram juga berada di atas pagu akibat penyaluran yang diproyeksikan melampaui kuota. Volume penyaluran diperkirakan mencapai 8,68 juta ton, sedangkan kuotanya 8 juta ton. Dengan volume tersebut, beban LPG 3 kilogram diperkirakan sekitar Rp98 triliun, lebih tinggi dari pagu Rp80 triliun.
Dalam model yang digunakan, harga keekonomian solar disesuaikan dengan angka resmi APBN sebesar Rp11.950 per liter pada harga minyak 70 dolar AS per barel. Setelah itu, pergerakannya mengikuti harga solar di pasar yang tercermin dari harga Dexlite setiap bulan.
Sementara itu, angka LPG berasal dari model kuota berdasarkan proyeksi penyaluran ESDM. Perhitungan kompensasi Pertalite sebesar Rp122 triliun, dengan rentang Rp115-Rp129 triliun, masih berada dalam kisaran perhitungan sebelumnya sebesar Rp107-Rp134 triliun.
Perhitungan tersebut juga sejalan dengan data resmi yang menunjukkan realisasi subsidi dan kompensasi energi hingga Agustus naik 52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
3. Kenaikan Brent 10 dolar AS makan 57 persen ruang defisit

Ilustrasi harga minyak naik (IDN Times/Arief Rahmat) Jika harga Brent bertahan 10 dolar AS per barel lebih tinggi hingga akhir tahun, beban Pertalite, Solar, dan LPG 3 kilogram diperkirakan bertambah Rp21,8 triliun. Tambahan tersebut terdiri dari Rp11,1 triliun untuk Pertalite, Rp7,4 triliun untuk solar, dan Rp3,3 triliun untuk LPG 3 kilogram.
"Itu 57 persen dari ruang defisit yang tersisa. Perlu dicatat pula, sebagian kompensasi dibayar belakangan kepada Pertamina dan PLN. APBN tampak sehat di atas kertas, tetapi ada tagihan yang menunggu," tuturnya.
Dalam jangka pendek, sebagian tambahan penerimaan dari harga komoditas dapat disisihkan sebagai cadangan untuk menghadapi perubahan harga minyak pada akhir tahun. Penyaluran Solar dan LPG 3 kilogram juga perlu diperketat agar volumenya tidak terus melampaui kuota.
Untuk jangka menengah, sasaran subsidi energi perlu dibuat lebih tepat. Perhitungan sebelumnya menunjukkan potensi penghematan sekitar Rp66 triliun per tahun, dengan perhatian khusus pada Solar yang menjadi pos dengan beban terbesar. Asumsi harga minyak dan selisih harga produk dalam penyusunan APBN 2027 juga perlu menggunakan kondisi pasar yang lebih realistis.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















