Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Negara yang Pernah Hadapi Risiko Penurunan Status MSCI
ilustrasi market dunia (pexels.com/Markus Spiske)
  • Peru sempat dikonsultasikan turun dari emerging ke frontier market pada 2015 karena keterbatasan saham berukuran dan likuid, tetapi evaluasi lanjutan tidak berujung penurunan.
  • Pakistan turun dari emerging menjadi frontier market pada November 2021 akibat tak memenuhi standar ukuran dan likuiditas, sedangkan Argentina dipindahkan ke standalone market karena masalah aksesibilitas.
  • Nigeria dan Bangladesh menyoroti pentingnya akses transaksi investor asing serta pembentukan harga; perbaikan akses dapat memulihkan status, sementara kebijakan floor price memicu risiko evaluasi ulang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perubahan klasifikasi MSCI dapat memengaruhi cara investor global memandang suatu pasar saham. Ketika sebuah negara berisiko turun kelas, investor perlu memperhatikan faktor seperti likuiditas, ukuran pasar, dan kemudahan investor asing memperdagangkan sahamnya. Sejumlah negara pernah menghadapi persoalan serupa, tetapi hasil evaluasi MSCI terhadap masing-masing pasar tidak selalu sama.

Pengalaman negara lain bisa menjadi bahan pembelajaran untuk memahami risiko perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia. Ada negara yang akhirnya turun dari kategori emerging market ke frontier market, sementara negara lain menghadapi ancaman perubahan ke kategori standalone market. Berikut lima negara yang pernah hadapi risiko penurunan status MSCI.

1. Peru pernah menghadapi ancaman turun kelas akibat ukuran pasar

ilustrasi bendera Peru (pexels.com/Mario Vásquez Rioja)

Pada 2015, MSCI mengajukan konsultasi mengenai kemungkinan mengubah klasifikasi Peru dari emerging market menjadi frontier market. Usulan tersebut berkaitan dengan terbatasnya jumlah saham yang memenuhi kriteria ukuran dan likuiditas dalam indeks MSCI Peru. Jika perubahan itu diterapkan, posisi Peru dalam indeks pasar negara berkembang global akan berkurang.

Namun, proses konsultasi tersebut tidak berakhir dengan penurunan klasifikasi seperti yang diusulkan. Kasus Peru menunjukkan bahwa rencana perubahan status belum tentu menjadi keputusan final MSCI. Tanggapan pelaku pasar dan hasil evaluasi lanjutan dapat memengaruhi keputusan akhir lembaga penyedia indeks tersebut.

2. Pakistan akhirnya turun dari emerging market ke frontier market

ilustrasi bendera Pakistan (pexels.com/Muhammad Khawar Nazir)

Pakistan menjadi salah satu contoh negara yang benar-benar mengalami penurunan klasifikasi MSCI. Pada September 2021, MSCI mengumumkan bahwa indeks saham Pakistan akan dipindahkan dari kategori emerging market ke frontier market, dengan implementasi pada peninjauan indeks November 2021. Keputusan itu diambil setelah konsultasi dengan pelaku pasar.

MSCI menjelaskan bahwa pasar saham Pakistan masih memenuhi persyaratan aksesibilitas, tetapi tidak lagi memenuhi standar ukuran dan likuiditas untuk kategori emerging market. Akibatnya, saham Pakistan dinilai menggunakan persyaratan indeks frontier market. Perubahan ini menunjukkan bahwa akses investor asing saja belum cukup jika ukuran dan likuiditas pasar tidak memenuhi ketentuan klasifikasi.

3. Argentina kehilangan status emerging market pada 2021

ilustrasi bendera Argentina (pexels.com/Eros Sack)

Argentina juga mengalami perubahan klasifikasi besar ketika MSCI memutuskan memindahkan indeks sahamnya dari emerging market ke standalone market. Keputusan tersebut diumumkan pada Juni 2021 dan mulai diterapkan pada peninjauan indeks November tahun yang sama. Artinya, Argentina turun dari kategori frontier market dan keluar dari kelompok pasar berkembang MSCI.

Perubahan itu berlangsung dalam konteks masalah aksesibilitas pasar dan pembatasan yang memengaruhi kemampuan investor internasional. Status standalone market membuat saham Argentina tidak lagi masuk dalam kelompok indeks pasar berkembang MSCI. Kasus ini memperlihatkan bahwa perubahan klasifikasi dapat berdampak lebih besar ketika masalah pasar dinilai tidak sesuai dengan persyaratan kategori sebelumnya.

4. Nigeria akhirnya dikeluarkan dari kelompok frontier market

ilustrasi bendera Nigeria (pexels.com/Tope J. Asokere)

Nigeria pernah dikeluarkan dari kelompok Frontier Market FTSE Russell pada September 2023 dan ditempatkan dalam kategori Unclassified. Keputusan tersebut berkaitan dengan kesulitan investor internasional dalam melakukan transaksi valuta asing dan memulangkan dana investasinya dari negara itu. Hambatan tersebut membuat pasar saham Nigeria dinilai kurang mudah diakses oleh investor global.

Setelah melakukan sejumlah perbaikan, Nigeria akhirnya memperoleh persetujuan untuk kembali ke kategori Frontier Market FTSE Russell pada 2026. Perubahan tersebut mulai berlaku pada 21 September 2026 setelah FTSE Russell meninjau perkembangan aksesibilitas pasar dan sistem penyelesaian transaksi. Pengalaman Nigeria menunjukkan bahwa perbaikan infrastruktur pasar dan kemudahan transaksi investor asing dapat membantu suatu negara memperoleh kembali klasifikasi sebelumnya.

5. Bangladesh sempat terancam turun ke standalone market

ilustrasi bendera Bangladesh (pexels.com/Kelly)

Bangladesh menghadapi peringatan dari MSCI terkait penerapan floor price atau batas harga minimum saham. Kebijakan tersebut dapat menghambat pembentukan harga secara wajar dan menyulitkan investor untuk membeli atau menjual saham pada harga yang mencerminkan kondisi pasar. Karena itu, MSCI memperingatkan bahwa penerapan kembali kebijakan tersebut dapat memicu konsultasi mengenai penurunan klasifikasi Bangladesh dari frontier market ke standalone market.

Dalam tinjauan klasifikasi 2026, MSCI menyambut penghapusan floor price dari seluruh saham yang terdampak di Bangladesh. Namun, MSCI juga menegaskan bahwa penerapan kembali kebijakan tersebut dapat membuka kemungkinan evaluasi ulang status pasar negara itu. Kasus Bangladesh memperlihatkan bahwa kebijakan yang membatasi transaksi dan mengganggu pembentukan harga bisa menjadi perhatian serius bagi penyedia indeks global.

Pengalaman negara yang pernah hadapi risiko penurunan status MSCI menjadi bukti bahwa evaluasi lembaga tersebut memiliki konteks dan hasil yang berbeda. Ukuran pasar, likuiditas, transparansi, serta akses investor internasional dapat menjadi pertimbangan penting dalam menentukan klasifikasi suatu negara. Karena itu, status MSCI perlu dipahami sebagai salah satu indikator kelayakan pasar bagi investor global, bukan sebagai penilaian menyeluruh terhadap kondisi ekonomi suatu negara.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article