Ilustrasi dolar AS (freepik.com/jcomp)
Di bidang kesehatan, kondisi serupa juga berpotensi terjadi. Sebagian besar bahan baku farmasi dan alat kesehatan masih berasal dari impor. Jika nilai tukar terus melemah, biaya produksi obat-obatan dapat meningkat dalam beberapa waktu mendatang.
'Pengusaha besar umumnya masih memiliki kemampuan menahan kenaikan harga karena memiliki stok bahan baku dan kontrak pembelian jangka menengah. Namun bagi UMKM, distributor kecil, dan pedagang menengah, ruang untuk bertahan lebih terbatas. Dalam situasi rupiah yang terus melemah, penyesuaian harga biasanya dilakukan secara bertahap, baik melalui kenaikan harga langsung maupun pengurangan ukuran produk.
"Jika kenaikan harga mulai meluas di tingkat konsumen, tekanan terhadap inflasi berpotensi meningkat, terutama pada komoditas pangan, energi, dan barang dengan kandungan impor tinggi. Meski demikian, pemerintah dan Bank Indonesia dinilai masih memiliki instrumen untuk menjaga stabilitas inflasi agar tetap terkendali," tegasnya.
Selain dampak ekonomi langsung, Yusuf juga menyoroti efek psikologis dari pelemahan rupiah terhadap perilaku konsumsi masyarakat. Menurutnya, masyarakat cenderung menjadi lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang ketika nilai tukar terus melemah.
“Orang mulai menunda belanja, menahan liburan, mengurangi konsumsi nonprimer, dan lebih hati-hati mengambil cicilan,” ujarnya.
Ia menambahkan, apabila kondisi tersebut terjadi secara bersamaan dalam jangka waktu lama, maka sektor ritel dan manufaktur berpotensi ikut melambat akibat menurunnya permintaan domestik.
“Jadi pelemahan kurs bukan hanya soal dolar mahal, tetapi juga soal turunnya rasa percaya diri ekonomi masyarakat,” kata Yusuf.