Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
OJK: Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil di Tengah Gejolak Global
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi. (Dok/Istimewa).
  • OJK menilai sektor jasa keuangan Indonesia tetap stabil berdasarkan RDKB 30 September 2026, meski dibayangi ketidakpastian geopolitik dan pengetatan moneter global.
  • Pertumbuhan global 2026 diperkirakan melambat, meski proyeksinya membaik berkat investasi dan perdagangan terkait AI; konflik geopolitik serta El Nino berisiko menaikkan inflasi.
  • Ekonomi Indonesia dinilai kuat dengan inflasi terkendali dan konsumsi domestik terjaga; OECD menaikkan proyeksi pertumbuhan 2026 sebesar 0,5 persen, didukung fundamental keuangan yang solid.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan sektor jasa keuangan Indonesia tetap stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter global.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, kondisi tersebut tercermin dari hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK pada 30 September 2026.

"Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan pada 30 September 2026 menilai sektor jasa keuangan Indonesia stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan pengetatan kebijakan moneter global," kata Friderica dalam konferensi pers RDKB September 2026 di Jakarta, Senin (5/10/2026).

1. Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan lebih rendah

Ilustrasi Pertumbuhan Ekonomi (Pexels/Monstera Production)

Friderica mengatakan, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan lebih rendah dibandingkan 2025. Meski demikian, proyeksi tersebut masih lebih baik dari perkiraan sebelumnya.

Perbaikan proyeksi tersebut didorong oleh peningkatan investasi dan perdagangan yang berkaitan dengan pengembangan akal imitasi atau artificial intelligence (AI). Namun, keberlanjutan pertumbuhan ekonomi global masih menghadapi sejumlah tantangan.

Salah satunya berasal dari potensi kenaikan inflasi global akibat eskalasi konflik geopolitik yang kembali mendorong harga minyak. Selain itu, fenomena El Nino yang sangat kuat atau very strong El Nino berpotensi meningkatkan harga pangan dan komoditas pertanian.

"Hal ini berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan komoditas pertanian," ujarnya.

2. Pasar masih proyeksikan suku bunga The Fed naik di akhir tahu

ilustrasi inflasi (unsplash.com/@joa70)

Menurut Friderica, kenaikan inflasi tersebut turut mendorong bank sentral global mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer. Kondisi ini tercermin dari kebijakan suku bunga di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang.

"Pasar masih mengekspektasikan kenaikan suku bunga di akhir tahun 2026 dan terus berlanjut di tahun 2027," katanya.

Di sisi lain, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah juga telah menyentuh level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Yield obligasi pemerintah Amerika Serikat dan Eropa kembali ke level sebelum 2008. Sementara itu, yield obligasi pemerintah Jepang kembali ke level sebelum 1997.

"Kenaikan ini turut dipengaruhi oleh tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah dan peningkatan penerbitan obligasi jangka panjang oleh hyperscalers untuk investasi terkait AI," jelas Friderica.

3. Perkembangan positif tersebut turut didukung sektor keuangan

ilustrasi inflasi (vecteezy.com/Khunkorn Laowisit)

Sementara dari dalam negeri, Friderica mengatakan indikator terkini menunjukkan perekonomian Indonesia masih kuat dengan inflasi yang tetap terjaga.

"Terjaganya inflasi mendorong permintaan domestik dan tingkat konsumsi masyarakat tetap kuat dan menopang pertumbuhan ekonomi nasional," tuturnya.

Sejalan dengan kondisi tersebut, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 0,5 persen.

"Hal ini mencerminkan kepercayaan global terhadap daya tahan perekonomian nasional," katanya.

Menurut Friderica, perkembangan positif tersebut turut didukung sektor keuangan yang terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Stabilitas sektor keuangan juga tetap terjaga dengan fundamental industri jasa keuangan yang solid.

"Perkembangan positif tersebut didukung oleh sektor keuangan yang terus kontributif terhadap pertumbuhan serta stabilitas sektor keuangan yang tetap terjaga dengan fundamental industri jasa keuangan yang solid," jelasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

354 BUMN Sudah Dipangkas05 Oct 2026, 18:36 WIB