Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Orang Membeli Barang yang Awalnya Tidak Dibutuhkan?

Kenapa Orang Membeli Barang yang Awalnya Tidak Dibutuhkan?
ilustrasi belanja online (pexels.com/AS Photography)
  • Sistem penghargaan otak melepaskan dopamin saat mencari, membandingkan, dan membeli barang, sehingga pengalaman belanja memberi kepuasan emosional meski produk tidak dibutuhkan.
  • Stres, bosan, kesepian, cemas, atau kurang percaya diri dapat mendorong belanja sebagai pelarian sementara; jika berulang, pola pembelian impulsif bisa menjadi kebiasaan.
  • Diskon, urgensi, checkout praktis, rekomendasi marketplace, serta tren dan FOMO di media sosial membuat barang terasa penting, didukung desain toko yang memicu pembelian spontan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah iseng membuka marketplace, tetapi akhirnya checkout barang yang sebelumnya sama sekali tidak ada dalam daftar belanja? Hal seperti ini sangat umum terjadi. Seseorang bisa saja awalnya tidak membutuhkan suatu produk, tetapi setelah melihat promo, ulasan pengguna, atau video iklan produk, tiba-tiba merasa barang tersebut layak dibeli.

Fenomena orang membeli barang yang awalnya tidak dibutuhkan bukan sekadar soal kurangnya kemampuan menahan diri. Ada berbagai faktor psikologis yang membuat seseorang lebih mudah melakukan pembelian impulsif, mulai dari sistem penghargaan di otak hingga pengaruh lingkungan dan strategi pemasaran. Mari, kita bahas lebih dalam seputar kebiasaan ini!

  1. 1. Dopamin membuat belanja terasa menyenangkan

    ilustrasi belanja online
    ilustrasi belanja online (pexels.com/Negative Space)

    Salah satu faktor yang berperan dalam keputusan membeli adalah sistem penghargaan di otak. Ketika seseorang membayangkan atau melakukan pembelian, otak dapat melepaskan dopamin yang berkaitan dengan rasa senang dan antusias. Menariknya, rasa puas tersebut tidak selalu berasal dari barang yang dibeli. Proses mencari produk, membandingkan pilihan, menunggu paket datang, hingga akhirnya menerima barang juga dapat memberikan sensasi menyenangkan. Karena itu, seseorang bisa membeli barang bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena pengalaman berbelanja memberikan kepuasan emosional sesaat.

  2. 2. Belanja bisa menjadi pelarian dari emosi negatif

    ilustrasi belanja online
    ilustrasi belanja online (freepik.com/freepik)

    Kondisi emosional juga dapat memengaruhi keputusan belanja. Saat sedang stres, bosan, kesepian, cemas, atau merasa kurang percaya diri, seseorang mungkin mencari aktivitas yang bisa membuat suasana hati menjadi lebih baik. Belanja menjadi salah satu pilihan yang mudah dilakukan. Memilih barang dan melakukan checkout dapat memberikan perasaan senang sekaligus seolah-olah memberi kendali atas sesuatu.

    Masalahnya, rasa nyaman tersebut biasanya hanya sementara. Setelah kesenangan akibat pembelian mereda, seseorang bisa kembali pada masalah atau emosi yang sebelumnya dirasakan. Jika pola ini terus berulang, belanja impulsif pun dapat menjadi kebiasaan.

  3. 3. Promo dan diskon membuat barang terlihat lebih menarik

    ilustrasi diskon
    ilustrasi diskon (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

    Strategi pemasaran juga sengaja dirancang untuk mendorong konsumen mengambil keputusan dengan cepat. Kalimat seperti “sisa 3”, “flash sale berakhir 10 menit lagi”, atau “diskon 50 persen” dapat menciptakan rasa urgensi. Harga awal yang lebih tinggi juga bisa menjadi patokan dalam menilai sebuah diskon. Misalnya, produk yang awalnya ditampilkan seharga Rp200 ribu kemudian dijual seharga Rp70 ribu dapat terasa seperti kesempatan besar, meskipun sebenarnya barang tersebut tidak pernah masuk dalam kebutuhan kita.

    Di platform digital, proses checkout yang praktis dapat membuat konsumen lebih mudah melakukan pembelian impulsif. Metode pembayaran yang sudah tersimpan membuat transaksi bisa diselesaikan hanya dalam beberapa klik. Akibatnya, konsumen memiliki lebih sedikit waktu untuk berpikir apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan.

  4. 4. Media sosial memunculkan FOMO

    ilustrasi seorang influencer sedang membuat konten
    ilustrasi seorang influencer sedang membuat konten (unsplash.com/Vitaly Gariev)

    Pengaruh orang lain juga tidak kalah kuat. Melihat teman, influencer, atau pengguna lain membeli dan merekomendasikan suatu produk dapat menciptakan perasaan bahwa kita juga perlu memilikinya. Fenomena ini berkaitan dengan social proof dan fear of missing out (FOMO). Ketika banyak orang terlihat menggunakan produk tertentu, barang yang awalnya dianggap biasa saja bisa berubah menjadi sesuatu yang terasa penting.

    Pengaruh ini semakin kuat ketika sebuah produk dikaitkan dengan tren atau gaya hidup tertentu. Konsumen tidak lagi membelinya hanya karena fungsi, tetapi juga karena ingin mengikuti tren yang sedang populer. Dengan begitu, produk tersebut bisa menjadi bagian dari cara seseorang menunjukkan identitas dan citra dirinya.

  5. 5. Desain toko bisa mendorong pembelian spontan

    ilustrasi berbelanja di supermarket
    ilustrasi berbelanja di supermarket (unsplash.com/Ninthgrid)

    Lingkungan tempat seseorang berbelanja juga dapat memengaruhi keputusan. Di toko fisik, produk yang ditempatkan di dekat kasir atau pada posisi yang mudah terlihat sering kali menarik perhatian konsumen. Di marketplace, hal serupa terjadi melalui rekomendasi produk, bundling, voucher, notifikasi promo, dan iklan yang disesuaikan dengan aktivitas pengguna. Ada pula kondisi ketika seseorang sudah memasukkan satu barang ke keranjang dan kemudian merasa perlu menyelesaikan proses belanja dengan menambahkan produk lain. Akibatnya, barang tambahan yang sebenarnya tidak direncanakan ikut terbeli.

    Kebiasaan orang membeli barang yang awalnya tidak dibutuhkan bukanlah sebuah tanda ia boros atau tidak punya kendali diri. Otak, emosi, lingkungan, media sosial, dan strategi pemasaran dapat bekerja bersama-sama untuk mendorong keputusan tersebut. Dengan memahami faktor-faktor itu, kita bisa menjadi konsumen yang lebih sadar dan lebih bijak dalam menentukan apa yang memang perlu dibeli.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More