Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pasokan Minyak Pulih, Kenapa Harganya Masih Mahal?
Ilustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)
  • Harga minyak dunia masih tinggi meskipun pasokan mulai pulih setelah terganggu akibat perang Iran.

  • Selat Hormuz, cadangan global yang menipis, dan risiko konflik masih memengaruhi harga minyak.

  • Goldman Sachs memperkirakan harga minyak turun bertahap pada 2027, tetapi tetap di atas level Februari 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sebelum perang

Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz.

awal perang

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu lonjakan harga minyak.

sejak akhir September

Volume ekspor minyak dari Teluk Persia kembali mendekati rata-rata 2025.

akhir 2026

Harga minyak mentah Brent diproyeksikan rata-rata sebesar 90 dolar AS per barel.

2027

Harga minyak diperkirakan turun secara bertahap, dengan harga minyak Brent rata-rata 80 dolar AS per barel.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Harga minyak dunia tetap tinggi meskipun pasokan mulai pulih setelah terganggu akibat perang Iran.
  • Who?
    Goldman Sachs menilai sejumlah faktor masih menahan penurunan harga minyak.
  • Where?
    Perkembangan pasokan dan pengiriman minyak berkaitan dengan Timur Tengah, Selat Hormuz, dan perekonomian Amerika Serikat.
  • When?
    Harga minyak diperkirakan turun bertahap pada 2027, setelah diproyeksikan rata-rata 90 dolar AS per barel pada akhir 2026.
  • Why?
    Risiko gangguan pasokan akibat konflik dan persediaan minyak global yang mendekati rekor terendah membuat harga tetap tinggi.
  • How?
    Negara produsen mengalihkan pengiriman melalui jaringan pipa, sementara pengiriman melalui Selat Hormuz meningkat meskipun ancaman serangan masih ada.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Harga minyak masih mahal walau kirimannya mulai kembali. Perang Iran dan Selat Hormuz membuat minyak sulit dikirim. Goldman Sachs bilang harga bisa turun pelan pada 2027. Tapi harganya masih lebih tinggi dari Februari 2026. Minyak mahal membuat bensin dan solar ikut mahal, sehingga pengeluaran rumah tangga bertambah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pemulihan pengiriman minyak dari Timur Tengah menunjukkan pasokan mulai menyesuaikan diri terhadap gangguan. Negara-negara produsen menggunakan jaringan pipa untuk mengalihkan pengiriman, sementara pengiriman melalui Selat Hormuz meningkat. Goldman Sachs juga memperkirakan harga minyak dapat menurun bertahap pada 2027 apabila tidak terjadi eskalasi besar dalam perang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Harga minyak dunia masih bertahan di level tinggi meskipun pasokan mulai pulih setelah terganggu akibat perang Iran. Kondisi ini menjadi perhatian karena pemulihan pasokan belum diikuti penurunan harga yang signifikan.

Dilansir Investopedia, Goldman Sachs menilai ada sejumlah faktor yang membuat harga minyak sulit turun dalam waktu dekat. Dalam catatan risetnya, bank investasi tersebut memperkirakan harga minyak baru akan turun secara bertahap pada 2027, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan level Februari 2026.

Pergerakan harga minyak menjadi perhatian karena dampaknya menjalar ke berbagai sektor ekonomi. Harga minyak mentah yang tinggi turut memengaruhi harga bahan bakar seperti bensin dan solar, sehingga menambah beban pengeluaran rumah tangga dan memberi tekanan pada perekonomian Amerika Serikat (AS).

1. Selat Hormuz jadi penentu harga minyak

ilustrasi perusahaan minyak dan gas (migas) dunia (IDN Times/Arief Rahmat)

Pergerakan harga minyak dunia tidak lepas dari kondisi Selat Hormuz, jalur pelayaran di antara Iran dan Oman yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Sebelum perang, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran pada awal perang memicu lonjakan harga minyak. Setelah itu, harga bergerak naik turun mengikuti perkembangan konflik di kawasan tersebut. Kenaikan harga minyak juga berdampak pada biaya bahan bakar di AS. Data AAA menunjukkan harga rata-rata bensin

2. Cadangan minyak menipis

Ilustrasi harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Pemulihan pengiriman minyak dari Timur Tengah belum cukup untuk menekan harga secara signifikan. Goldman Sachs mencatat volume ekspor minyak dari Teluk Persia telah kembali mendekati rata-rata 2025 sejak akhir September.

Dalam catatan riset yang mengacu pada kajian Daan Struyven, kepala riset minyak Goldman Sachs, negara-negara pengekspor dinilai mampu menyesuaikan diri terhadap gangguan pasokan lebih cepat dari perkiraan.

Sejumlah negara produsen menggunakan jaringan pipa untuk mengalihkan pengiriman minyak. Pengiriman melalui Selat Hormuz juga meningkat meskipun ancaman serangan terhadap kapal masih ada.

Di sisi lain, negara-negara yang sebelumnya menggunakan cadangan minyak untuk memenuhi kebutuhan selama gangguan pengiriman kini berupaya mengisi kembali persediaannya. Tambahan pasokan yang tersedia pun terserap oleh permintaan tersebut.

Goldman Sachs menilai kombinasi ancaman gangguan pasokan akibat konflik dan persediaan minyak global yang mendekati rekor terendah membuat harga minyak di pasar fisik tetap tinggi.

3. Goldman Sachs prediksi harga minyak turun pada 2027

Ilustrasi minyak mentah. (IDN Times/Arief Rahmat)

Risiko konflik yang masih berlangsung turut membentuk harga minyak. Goldman Sachs memperkirakan sekitar 25 dolar AS per barel merupakan premi risiko (risk premium).

Itu adalah komponen harga yang mencerminkan potensi gangguan pasokan akibat kerusakan infrastruktur minyak atau terhambatnya pengiriman dari kawasan Timur Tengah.

Meski begitu, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak akan menurun apabila tidak terjadi eskalasi besar dalam perang. Harga minyak mentah Brent diproyeksikan rata-rata sebesar 90 dolar AS per barel pada akhir 2026.

Pada 2027, harga minyak Brent diperkirakan terus menurun dengan rata-rata 80 dolar AS per barel. Proyeksi tersebut didasarkan pada perkiraan bahwa negara-negara di Timur Tengah akan terus menyesuaikan pasokan sehingga tekanan terhadap harga berkurang. Namun, potensi eskalasi konflik kembali masih menjadi risiko yang dapat mendorong harga minyak naik secara signifikan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article