Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Perry Warjiyo Beberkan 5 Alasan Rupiah Bakal Lebih Stabil pada 2027

Perry Warjiyo Beberkan 5 Alasan Rupiah Bakal Lebih Stabil pada 2027
Menkeu, Gubernur BI, Bappenas rapat kerja bersama Badan anggaran. (IDN Times/Triyan)
Intinya Sih
  • Gubernur BI Perry Warjiyo optimistis rupiah akan lebih stabil pada 2027 dengan kisaran Rp16.800–Rp17.500 per dolar AS, seiring membaiknya prospek ekonomi global.
  • Fundamental ekonomi Indonesia dinilai kuat berkat pertumbuhan yang meningkat, inflasi terkendali, serta daya tarik investasi dan cadangan devisa yang memadai.
  • Stabilitas rupiah juga ditopang implementasi kebijakan DHE SDA, intervensi pasar oleh BI, serta koordinasi erat antara kebijakan fiskal dan moneter pemerintah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah akan lebih stabil pada 2027 seiring dengan prospek perekonomian global yang diperkirakan membaik. BI memperkirakan kurs rupiah bergerak dalam kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada tahun depan.

"Ada lima dasar pertimbangan keyakinan kami bahwa pada 2027 nilai tukar rupiah akan menguat berada dalam kisaran Rp16.800 sampai Rp17.500 per dolar AS," ungkap Perry dalam Raker bersama Banggar, Rabu (10/6/2026).

1. Prospek ekonomi tahun depan lebih baik

Infografis Asumsi Dasar Ekonomi Makro 2027.
Infografis Asumsi Dasar Ekonomi Makro 2027. (IDN Times/Sukma Shakti)

Faktor pertama, ia meyakini prospek perekonomian dunia akan membaik. Meskipun gejolak global masih sulit diprediksi, setidaknya kondisinya tidak akan seburuk tahun ini.

"Seperti tadi saya sampaikan, pertumbuhan ekonomi akan tinggi di global dan perspesi risiko investasi diharapkan akan membaik sehingga bisa mendorong portofolio masuk atau (aliran modal asing masuk) sehingga mendorong pengauatan rupiah," jelasnya.

2. Prospek pertumbuhan ekonomi diproyeksi lebih tinggi dan inflasi terkendali

WhatsApp Image 2026-06-09 at 2.58.14 PM (2).jpeg
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo usai menghadiri rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, di Jakarta, Selasa (9/6/2026). (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Selain faktor global, Perry menilai fundamental ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat dan diperkirakan akan semakin membaik. Hal itu tercermin dari prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inflasi yang tetap terkendali, serta daya tarik investasi di dalam negeri.

"Demikian pula imbal hasil investasi di Indonesia yang tetap menarik, pasar keuangan yang semakin berkembang, serta dukungan cadangan devisa yang memadai," katanya.

3. Impelementasi DHE SDA bakal topang rupiah

ilustrasi ekspor barang
ilustrasi ekspor barang (pexels.com/Khunkorn Laowisit)

Faktor ketiga yang mendukung prospek stabilitas rupiah adalah implementasi berbagai kebijakan pemerintah, termasuk pengelolaan ekspor sumber daya alam dan kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE).

Menurut Perry, kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan perolehan devisa, penerimaan pajak, dan berbagai penerimaan negara lainnya. Di saat yang sama, tambahan devisa juga akan memperkuat cadangan devisa nasional dan menopang stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.

Keempat, Perry juga menegaskan komitmen BI untuk terus menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan. Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan menjaga kecukupan cadangan devisa serta melakukan intervensi di pasar spot maupun pasar forward, baik di dalam maupun luar negeri.

Selain itu, BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga sinergi kebijakan moneter dan fiskal guna menopang stabilitas makroekonomi.

"Kami berkoordinasi dengan fiskal untuk bagaimana imbal hasil portfolio inflow asing tetap akan masuk. Selain itu, bagaimana perluasan-perluasan instrumen dan transaksi di pasar uang dan pasar valas dan likuiditas perbankan yang cukup dan tentu saja kecukupan cadangan devisa," tegasnya.

4. Mempererat kondisi kebijakan fiskal dan moneter

Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa di Komplek DPR RI, Senayan, Jakarta pada Kamis (4/6/2026).
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa di Komplek DPR RI, Senayan, Jakarta pada Kamis (4/6/2026). (IDN Times/Triyan)

Kelima, koordinasi yang sangat erat antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia untuk sama-sama menjaga stabilitas makroekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. 

"Pak Menteri Keuangan dan saya juga menyampaikan kepada publik pada 6 Juni yang lalu, kami koordinasi erat dan fiskal dan moneter terus diarahkan untuk menggunakan kewenangan masing-masing, meningkatkan memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan daya tarik imbal hasil bagi masuknya aliran investasi portofolio asing maupun juga menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More