Pertamina Bina 428 UMKM Batik, Dorong Kemandirian Ekonomi Disabilitas

- Pertamina membina 428 UMKM batik melalui penguatan kapasitas usaha, pengembangan produk, dan perluasan akses pasar, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi penyandang disabilitas.
- Program pembinaan ini menggabungkan pelestarian batik dengan pemberdayaan masyarakat, kewirausahaan, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan industri kreatif berbasis potensi daerah.
- Sejumlah UMKM binaan di Yogyakarta dan Riau mencatat omzet hingga Rp150 juta per bulan sambil mempekerjakan penyandang disabilitas; Sriekandi Patra Boyolali juga telah memiliki workshop dan modal sendiri.
Jakarta, IDN Times - PT Pertamina (Persero) terus mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) batik melalui program pembinaan di sejumlah daerah.
Hingga saat ini, sebanyak 428 UMKM batik tercatat menjadi binaan Pertamina. Pendampingan yang diberikan meliputi penguatan kapasitas usaha, pengembangan produk, hingga perluasan akses pasar.
"Program tersebut juga membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi dan mengembangkan keterampilan membatik," ungkap Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron dalam keterangannya, Sabtu (3/10/2026).
1. Pemberdayaan UMKM bentuk pelestarian budaya

PT Pertamina (Persero) terus mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) batik (Dok/Istimewa). Muhammad Baron mengatakan, pemberdayaan UMKM tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas bisnis, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan keterampilan dan memperoleh penghasilan.
“Bagi Pertamina, batik merupakan contoh bagaimana pelestarian budaya dapat berjalan bersama dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kami ingin memastikan semakin banyak masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, memiliki kesempatan untuk berkarya, memperoleh penghasilan, dan mengembangkan usahanya,” ujar Baron.
2. Pembinaan UMKM untuk pemberdayaan masyarakat

Difa Kreasi merupakan mitra binaan PT Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai sejak 2020. (Dok/Istimewa). Menurut dia, keterlibatan penyandang disabilitas dalam UMKM menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi dapat menjadi ruang untuk membangun ekosistem usaha yang lebih inklusif.
“Ketika keterampilan bertemu dengan kesempatan dan akses pasar, batik tidak hanya menjadi produk budaya, tetapi juga menjadi jalan menuju kemandirian,” katanya.
Pertamina menyatakan pembinaan UMKM dilakukan sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat, pengembangan kewirausahaan, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan industri kreatif.
Melalui program tersebut, Pertamina mendorong UMKM binaannya untuk meningkatkan kapasitas usaha, memperluas pasar, dan mengembangkan produk berbasis potensi daerah.
3. Ada UMKM batik binaan Pertamina penyandang disabilitas

PT Pertamina (Persero) terus mendorong pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) batik (Dok/Istimewa). Ia bercerita, salah satu UMKM Roona Batik di Bantul, Yogyakarta, yang dikelola Muhammad Syauki. Usaha fesyen berbasis batik tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 5.000 lembar per bulan dengan omzet mencapai Rp100 juta per bulan.
Dari 18 pekerja yang terlibat, sebagian di antaranya merupakan penyandang disabilitas yang turut berperan dalam proses produksi.
Hal serupa dilakukan Batik Jinggar di Yogyakarta yang dikelola Vitalia Noor Darmaningsih. Selain mengembangkan produk fesyen berbasis batik, UMKM tersebut melakukan inovasi melalui pengembangan motif dan desain.
Batik Jinggar mencatat omzet sekitar Rp100 juta per bulan dan mempekerjakan delapan orang, termasuk dua penyandang disabilitas.
Sementara itu, Canting Batik Tulis Riau yang dikelola Novita Hermawan mengembangkan batik tulis dengan mengangkat kekayaan budaya daerah. Usaha tersebut mencatat omzet sekitar Rp150 juta per bulan dan melibatkan delapan pekerja, lima di antaranya merupakan penyandang disabilitas.
Pertamina juga menjalankan program Sriekandi Patra di Boyolali, Jawa Tengah, untuk mengembangkan keterampilan membatik sekaligus mendorong kemandirian ekonomi penyandang disabilitas.
Kelompok tersebut kini telah memiliki workshop, peralatan, dan modal usaha sendiri. Produk yang dihasilkan tidak hanya berupa batik dan oleh-oleh khas Boyolali, tetapi juga dikembangkan menjadi paket edukasi membatik dan berkolaborasi dengan desainer.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)












![[QUIZ] Mail vs Tuan Krab, Mana Gaya Pengusaha yang Cocok dengan Kepribadianmu?](https://image.idntimes.com/post/20250802/krab33_0397588c-643d-4f3f-9a0f-b058af64ff91.jpeg)






